Taman Budaya Jawa Timur Surabaya

Taman Budaya Jawa Timur Surabaya terletak persis bersebelahan dengan Gedung Balai Sahabat di Jl Genteng Kali, Surabaya. Bangunan Cagar Budaya yang berada di atas tanah seluas 10.400 m2 ini menjadi salah satu tempat berkreasi, bergaul dan berembug para seniman Surabaya, dan mereka yang datang dari tempat lainnya.

Selain bangunan kuno yang masih tetap dipelihara, di kompleks Taman Budaya Jawa Timur Surabaya juga telah didirikan bangunan baru untuk memenuhi kebutuhan berkesenian para penggiat maupun penikmatnya. Di bagian depan terdapat Pendopo Jayengrono yang beratap limasan tumpang, khas bangunan Jawa. Gedung induk, yang dibangun pada 1915 dan sebelumnya digunakan sebagai Kantor Kabupaten dan rumah dinas Bupati, berada di belakangnya.

Nama Jayengrono berasal dari nama Adipati Jayengrono yang ditunjuk Raden Wijaya untuk memimpin wilayah ini setelah mengusir tentara Tartar. Adipati Jayengrono konon memiliki kesaktian menguasai ilmu Buaya, yang membuat kadipatennya semakin kuat sehingga menjadi ancaman bagi Majapahit. Raden Wijaya pun mengutus Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Terjadilah adu ilmu kedigdayaan selama tujuh hari tujuh malam di pinggir Sungai Kalimas di dekat Paneleh yang berakhir sampyuh. Legenda ini merupakan salah satu versi asal muasal nama Surabaya. Karenanya di Taman Budaya Jawa Timur juga terdapat sebuah ruangan yang disebut Sawunggaling Hall.

taman budaya jawa timur surabaya
Pemandangan di dalam kompleks Taman Budaya Jawa Timur Surabaya dengan pepohonan rindang, tanaman perdu dan rerumputan menghijau yang cukup membuat segar pemandangan di tengah suhu udara Surabaya yang panas. Di belakang sana adalah sebuah pendopo tanpa dinding yang disebut Pendopo Jayengrono itu.

Selain pendopo dan gedung teater tertutup, Taman Budaya Jawa Timur juga telah dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung bagi kegiatan berkesenian, yaitu Wisma Seniman Sawungrono, Ruang Gamelan Sawungsari, dan Musholla Al-Jamal. Ada sebuah bis surat dari jaman Belanda terlihat di pinggir jalan di depan gedung, yang mengingatkan saya pada sebuah bis surat kuno di teras depan Kantor Pos Surabaya.

taman budaya jawa timur surabaya
Pemandangan di di Pendopo Jayengrono Taman Budaya Jawa Timur yang saat itu tengah menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar menari. Seorang ibu pelatih tampak dengan sabar mengajar dan memandu anak-anak untuk membawakan suatu jenis tarian tradisional, dengan selendang sebagai pendukung. Mengajar anak satu saja sudah repot, apalagi banyak anak sekaligus tentu memerlukan teknik dan kesabaran luar biasa.

Bangunan Taman Budaya Jawa Timur ini menghadap Sungai Kalimas yang terletak hanya beberapa meter di seberang jalan. Di sana, agak jauh di sebelah kanan pintu masuk ke gedung ini, ada sebuah jembatan lengkung tanpa penopang unik, dihias dengan susunan bambu mengerucut ke atas yang menarik dan eksotis. Sebuah seni kreatif yang patut dipuji, karena menggunakan bahan lokal yang mudah didapat dan murah, namun tetap memiliki citarasa seni yang bagus.

taman budaya jawa timur surabaya
Papan pengumuman dan poster di kompleks Taman Budaya Jawa Timur yang memperlihatkan berbagai kegiatan berkesenian yang dilakukan di tempat ini, dari yang tradisional dan khas Jawa Timur seperti ludruk, tari dan kentrung sampai yang seni kontemporer dan film. Selagi papan pengumuman ini penuh tempelan maka itu merupakan pertanda yang baik, karena berarti kehidupan seni budaya masih ada.

Taman Budaya Jawa Timur di Surabaya ini bisa menjadi bagian dari roh Kota Surabaya, yang tanpanya Surabaya akan menjadi sebuah kota miskin jiwa dan tidak berbeda dengan kota-kota besar sejenis yang dijejali dengan mal serta tempat-tempat hiburan modern lainnya. Seiring dengan semakin makmurnya sebuah kota, mestinya apresiasi terhadap seni budaya semakin baik, dengan fasilitas pendukung yang semakin lengkap pula.

taman budaya jawa timur surabaya
Patung Cak Durasim, dengan Gedung Cak Durasim di latar belakang, yaitu sebuah gedung teater tertutup yang dibangun pada 1976 di dalam kompleks Taman Budaya Jawa Timur Surabaya. Gedung ini mampu menampung 500 orang penonton dalam setiap pertunjukan seni budaya yang di gelar di dalamnya.

Pada tahun 1930 Cak Gondo Durasim, nama lengkap Cak Durasim, membentuk kelompok ludruk Surabaya dan mulai 1937 ia memperkenalkan cerita-cerita legenda Rakyat Surabaya dalam bentuk drama. Penamaan Gedung Cak Durasim, karenanya, diharapkan menjadi inspirasi bagi pelestarian dan pengembangan kesenian ludruk khas Surabaya ini

Di bawah patung dada Cak Durasim terdapat prasasti berbunyi "Begupon omahe doro, melok Nippon tambah soro", sebuah parikan buatannya yang dilarang Jepang namun dilantunkannya juga pada sebuah pementasan ludruk di Desa Mojorojo, Jombang pada 1943. Akibatnya Cak Durasim ditangkap dan disiksa oleh tentara Jepang yang membawa pada kematiannya pada 7 Agustus 1944.

Taman Budaya Jawa Timur

Alamat : Jl Genteng Kali 85, Surabaya. Lokasi GPS : -7.25625, 112.73970, Waze. Rujukan : Hotel di Surabaya, Tempat Wisata di Surabaya, Peta Wisata Surabaya

Author : . Updated :
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok.

.