Gedung Balai Sahabat Surabaya

Gedung Balai Sahabat Surabaya saya kunjungi atas saran dan dorongan Apey, yang beberapa saat sebelumnya sempat melewatinya, meski sependek ingatan saya pun sempat melihatnya namun tak ada rasa tertarik untuk mampir ke sana. Menuruti anjurannya, kami pun berjalan kaki dari Gedung Siola melawan arus di Jl Genteng Kali yang merupakan jalan satu arah ke arah Jl Tunjungan, Surabaya.

Setelah beberapa saat berjalan kaki kami dan berbelok memasuki area Gedung Balai Sahabat Surabaya sampailah kami di sebuah pelataran yang cukup luas dengan deretan mobil yang parkir di depan bangunan cukup lebar, pendek dan memanjang. Bangunan itu memang terkesan antik, namun terlihat seperti agak kurang terurus.

Saat itu saya hanya mengamati bangunan dari arah samping dan depan saja, karena entah mengapa tak ada dorongan dari dalam diri untuk masuk ke dalam gedung, setidaknya untuk melihat bagaimana dalamannya. Mungkin saya lupa pameo yang menyebut bahwa penampilan bisa menipu, karena boleh jadi tampak luarnya kumal namun dalaman bangunannya sebenarnya elok.

gedung balai sahabat surabaya
Gedung Balai Sahabat Surabaya dengan pelataran parkir yang luas dan terlihat ada cukup banyak kendaraan sedang parkir di sana. Jika melihat jenis kendaraannya yang tergolong biasa, bukan mobil mewah, maka tempat ini kemungkinan bukan tempat nongkrong horang kaya. Namun, sekali lagi, penampilan bisa menipu karena boleh jadi mobil-mobil mewahnya justru sedang diparkir di rumah...

Gedung Balai Sahabat sebenarnya akan terlihat cantik jika saja dilakukan pengecatan ulang dan sedikit perawatan pada bagian atasnya yang tampaknya telah mulai ditumbuhi rumput liar. Mungkin itulah kelebihan bangunan jaman dulu, yaitu tak perlu cat macam-macam. Cukup putih saja semuanya, dan dijamin akan terlihat lebih anggun, dibanding jika menggunakan cat warna lain.

gedung balai sahabat surabaya
Sebuah plakat yang ditempel pada dinding depan Gedung Balai Sahabat menandai gedung ini sebagai Bangunan Cagar Budaya, berdasar SK Walikota Surabaya tahun 2009. Plakat semacam ini menjadi penting untuk memastikan status sebuah bangunan dan bahwa keberadaan serta kelestariannya dilindungi oleh Undang-Undang dengan ancaman hukuman bagi pelanggarnya.

Disebutkan pada tengara itu bahwa pada jaman kolonial dahulu Gedung Balai Sahabat merupakan tempat pertemuan perkumpulan orang-orang Eropa yang tinggal di Surabaya, khususnya orang Jerman dan Belanda yang sama-sama menggemari seni dansa dan menamakan diri mereka Deusche. Kegembiraan dan suka cita rasa memang sulit untuk dilakukan secara soliter.

gedung balai sahabat surabaya
Gedung Balai Sahabat dengan pilar-pilar kecil pada bagian atap gedung yang terlihat tidak begitu lazim. Mungkin digunakan untuk sangkutan lampu-lampu pijar hias kecil atau barangkali spanduk dan bendera. Boleh jadi juga dahulu ada atap yang disangga di sana namun hancur semasa perang, entah ketika Jepang datang menyerbu atau saat sekutu membumihanguskan Kota Surabaya.

Sebuah pohon pendek dan beberapa tanaman perdu tampak tumbuh di atap gedung, yang memberi petunjuk bahwa di ujung sana ada pintu yang terhubung ke pelataran lantai atas ini. Boleh jadi memang ada petugas yang tinggal dan merawat tanamannya, namun belum ada dana tersedia untuk merawat bangunannya. Tengara nama Balai Sahabat Surabaya yang ditengah-tengah setiap hurufnya terdapat lampu pendar juga terlihat sudah buram.

gedung balai sahabat surabaya
Pandangan mengarah pada sayap kiri bangunan Gedung Balai Sahabat yang agak berbeda dengan sisi lainnya, karena di sisi ini tidak ada tempelan bangunan pendek sebagaimana yang ada di sisi lainnya. Gedung ini diperkirakan dibangun pada tahun 1930-an, namun tidak diketahui siapa arsitek yang merancangnya.

Meski sebenarnya Gedung Balai Sahabat berpola simetris penuh pada bagian depannya, kecuali bangunan tempelan kecil itu, namun pintu-pintu jendela di sebelah kiri terlihat telah diganti dengan kaca-kaca nako, sedangkan yang di sebelah kanan tampaknya masih mempertahankan keasliannya.

Gedung Balai Sahabat Surabaya dibeli oleh Phoe Sin Khoen pada 1946, dan lalu dihibahkan kepada perkumpulan Lien Huan She. Setelah sempat terjadi perseteruan diantara pengurusnya, yang membuat Gedung Balai Sahabat ini terlantar, kabarnya gedung ini sudah kembali seperti fungsi semula, yaitu sebagai tempat perkumpulan penggemar dansa, serta ada pula permainan biliard, bridge, tenis lapangan di belakang gedung, dan juga Yoga.

Gedung Balai Sahabat Surabaya

Alamat : Jl Genteng Kali 89 - 91, Surabaya. Lokasi GPS : -7.25620, 112.73951, Waze. Rujukan : Hotel di Surabaya, Tempat Wisata di Surabaya, Peta Wisata Surabaya