Makam Kyai Haji RM Muhammad Ilyas Sokaraja

July 02, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Sudah sangat lama saya tidak datang berziarah ke makam mBah Ilyas, sebutan yang biasa kami pakai untuk menyebut Makam Kyai Haji RM Muhammad Ilyas yang ada di Sokaraja Lor, sebuah kota kecamatan kecil yang terkenal dengan makanan getuk goreng Sokaraja dan Soto Sokaraja, soto ayam dengan kuah berbumbu kacang yang nikmat.

Saat kecil saya sering berziarah ke Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas dengan mendiang ibu dan lalu ke rumah tua antik di sebelahnya yang dihuni Kyai Rifangi, abang sepupu ibu, juga cucu dan penerus mBah Ilyas sebagai mursyid Tarekat Naqsabandiah Kholidiyah di Sokaraja Lor. Saya tak pernah mengenal secara pribadi mBah Ilyas, karena mbah buyut saya ini wafat pada 1916, jauh sebelum saya lahir. Sebagai anak kesembilan, saya hanya beruntung bisa mengenal nenek dari pihak ibu, yaitu mBah Dul Jamil (Abdul Jamil) putri yang menjadi puteri kesayangan mBah Ilyas. Mbah Dul Jamil putri adalah adik kandung mBah Dul Malik (Abdul Malik) Kedung Paruk.

Sebelum di Sokaraja ia berdiam di Kedung Paruk, tempat kelahirannya, sebuah pedukuhan di sebelah timur Desa Mersi, Purwokerto. Sejak awal 1880-an, KH Muhammad Ilyas telah menjadi mursyid (guru tarekat) terkemuka. Ia salah satu khalifah wilayah Jawa dari Syekh Sulaiman Zuhdi, guru tarekat Naqsabandiah Kholidiyah di Mekkah yang asal Turki.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja
Ada kompleks makam kecil di bagian depan Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas. Lokasi makam bisa diakses melewati Jembatan Kali Pelus di Sokaraja lalu belok kiri. Kompleks makam ada di sebelah kanan jalan. Semasa hidupnya Kyai Haji Muhammad Ilyas merupakan tokoh agama yang amat disegani, bahkan sampai di luar daerah Banyumas.

Awalnya mBah Ilyas menyebarkan ajaran tarekat dari langgarnya di Kedungparuk, namun sambutan luas masyarakat membuat pemerintah Belanda gerah, sehingga mBah Ilyas ditahan pada 1888 dengan tuduhan melawan pemerintah. Saat berada di penjara Belanda dekat Alun-alun Banyumas itu, pada malam harinya terlihat sinar terang keluar dari sel dimana mBah Ilyas ditahan.

Syekh Abubakar, Penghulu Landraad Banyumas, kemudian datang ke penjara setelah mendapat laporan mengenai keanehan itu. Mengetahui bahwa yang dipenjara ternyata bukan orang biasa, akhirnya mBah Ilyas dikeluarkan dari penjara oleh Syekh Abubakar dengan syarat ia bersedia menjadi menantunya. Makam mBah Syekh Abubakar ada persis di depan makam mBah Ilyas.

Setelah bebas dari tahanan Belanda, mBah Ilyas kemudian pindah dan selanjutnya menetap di Sokaraja Lor serta meneruskan kegiatannya dalam mengembangkan ajaran tarekatnya. Alasannya adalah karena ia hanya diijinkan mengajar tarekat dari masjid wakaf mertuanya, yaitu Penghulu Landraat Syekh Abubakar, di Sokaraja Lor ini.

Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas terlihat sederhana. Tembok hijau di belakangnya adalah bagian belakang masjid. Poster di belakang makam berbunyi "Kyai Haji Raden Mas Muhammad Ilyas Bani P. Diponegoro" berdasar layang kakancingan angka 11553 yang dikeluarkan pada 18 September 1960 M oleh Pangageng Tepas Dwarapura Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tengara di bagian depan atas makam berbunyi "Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas, Guru Mursyid, Toriqoh Annaqsyabandiyyah Al Mujaddadiyyah Al Kholidiyyah, Wafat 29 Shafar 1334 H", atau Senin 4 Januari 1916. Mursyid adalah guru pembimbing tarekat yang telah mendapat ijin dan ijazah dari guru mursyid di atasnya dan bersambung sampai Nabi Muhammad SAW.

mBah Ilyas adalah putera KH Raden Mas Ali Dipawangsa yang kuburnya ada di Kedung Paruk. Kakeknya adalah Kanjeng Pangeran Haryo Diponegoro II (Raden Mas Muhammad Ngarip), putera pertama Pangeran Diponegoro (Ontowiryo, Sultan Abdul Hamid). Sedangkan Pangeran Diponegoro adalah putera Sultan Hamengku Buwono III.

Dua makam di luar cungkup Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas adalah Makam KH Afandi, salah satu putera Kyai Ilyas yang menjadi penerusnya, wafat pada 12 Besar 1348 H (Kamis 10 Mei 1930). Di sebelahnya adalah Makam KHR Achmad Rifangi, putera KH Afandi, yang wafat pada 10 Jumadil Awal 1388 H (Sabtu 4 Agustus 1968).

Pandangan yang ditarik lebih ke belakang lagi pada bagian samping Makam Kyai Haji RM Muhammad Ilyas Sokaraja memperlihatkan deretan makam keluarga selain ketiga makam utama di depan sana. Sebagian masih berupa kotak yang belum ada isinya, mungkin untuk mempermudah alokasi tempat ketika ada keluarga wafat.

Selain tawajuhan, pengikut tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah juga melakukan Khalwat dan Suluk. Dalam tawajuhan seorang mursyid melakukan kontak dengan murid-muridnya sewaktu melakukan wirid, seperti menyentuh kening murid dengan surban, agar murid mendapat luberan barokah serta ilmu darinya serta dari para guru-guru di atasnya.

Khalwat adalah melatih jiwa dan hati untuk selalu ingat kepada Allah dan tetap menghambakan diri kepada-Nya. Sedangkan suluk atau mondok adalah tinggal selama beberapa waktu di pondok mursyid, misalnya selama bulan puasa, untuk melakukan wirid dan meningkatkan ibadah secara intensif. Berbeda dengan suluk, khalwat bisa dilakukan di rumah sendiri.

Ada kisah menarik tentang mBah Ilyas. Pada hari ia meninggal dan dikubur di depan pengimaman masjid. Pada saat maghrib tiba, mBah Dul Jamil putri melihat munculnya berkas sinar terang dari makam mBah Ilyas dan tampak jasadnya melayang ke atas. Para santri yang telah selesai shalat maghrib juga ikut melihat peristiwa langka itu.

Mas Rumani menceritakan bahwa ada habib dari Jawa Timur datang ke makam mBah Ilyas ditemani mBah Dul Malik. Namun pagar makam digemboka. Habib pun membaca qasidah ciptaan Habib Abdullah bin Husein "Salamullah ya saddah minar-rahman yaghsyakum, 'ibadallah ji'nakum qashadnakum tahalbnakum, dst". Tiba-tiba "klik", kunci gembok makam terbuka sendiri.

Beberapa waktu kemudian habib itu datang lagi berziarah, namun makam mbah Ilyas telah dibongkar atas perintah mBah Afandi, konon untuk menghindari pengkultusan. Melihat makam sudah berubah, Habib pun berucap "Wah, mBah Ilyas sudah tidak ada lagi di sini". Kabarnya setelah itu mBah Afandi sempat jatuh sakit karena merasa menyesal.

Ketika tinggal di Makkah, mBah Ilyas hidup prihatin. Ia selalu masak nasi sendiri yang dengan sengaja dicampuri pasir olehnya. Sewaktu hendak makan nasi, pasir itu satu per satu diambilnya dari sela-sela nasi yang ada di piringnya, baru kemudian ia makan. Hal itu dilakukannya untuk melatih kesabaran dan agar tidak rakus terhadap makanan.

Mas Rumani, abang sekandung saya lain ayah, juga bercerita bahwa saat berguru di Makkah, angsa anak kesayangan sang guru jatuh ke dalam jumbleng (tempat menampung tinja). Gurunya bingung, murid-murid lain pun bingung tak tahu harus berbuat apa. Adalah mBah Ilyas yang kemudian turun ke jumbleng untuk mengambil angsa itu. Sampai di atas, masih berlumuran tinja, mBah Ilyas dipeluk oleh gurunya.

Ketika pulang dari Makkah, mBah Ilyas tiba di Jawa bersama tiga orang teman seperguruan lainnya, salah satunya adalah mBah Sholeh Darat, Semarang. Namun yang diberi ijazah oleh Syekh Sulaiman Zuhdi (silsilah tarekat ke-32) untuk mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah hanyalah mBah Ilyas dan satu orang lagi.

Menurut cerita mBah Dul Jamil putri, mBah Ilyas sering kedatangan tamu dari Arab dan Maroko. Ketika mBah Dul Jamil putri tengah memijat kaki mBah Ilyas, mBah Ilya tiba-tiba berbicara sendiri dalam bahasa Arab. Karena takut, mBah Dul Jamil putri pun lari menjauh. Saat dipanggil, mBah Ilyas mengatakan sambil tertawa bahwa yang datang tadi adalah Malaikat Jibril ...

Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas Sokaraja Banyumas

Alamat : Sokaraja Lor, Sokaraja, Banyumas. Lokasi GPS : -7.455942, 109.297764, Waze.

Galeri Foto Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas

Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas yang terlihat sederhana saja. Tembok hijau di belakangnya adalah bagian belakang mihrab masjid. Poster di belakang makam berbunyi “Kyai Haji Raden Mas Muhammad Ilyas Bani P. Diponegoro” berdasar layang kakancingan angka 11553 yang dikeluarkan pada 18 September 1960 M oleh Pangageng Tepas Dwarapura Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Pandangan yang ditarik lebih ke belakang pada bagian samping Makam Kyai Haji RM Muhammad Ilyas Sokaraja memperlihatkan deretan makam keluarga selain ketiga makam utama di depan sana. Sebagian masih berupa kotak yang belum ada isinya, mungkin untuk mempermudah alokasi tempat ketika ada keluarga wafat.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Pengurus makam yang masih sepupu, rumahnya ada di sebelah Makam Kyai Muhammad Ilyas.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Tengara Kantor dan Balai Pengobatan Jamiyyah Thoriqoh Annaqsabandiyyah Al Mujaddadiyyah Al Kholidiyyah yang beralamat di Jl Imam Bonjol No 404, Sokaraja.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Sebuah bedug tua berada di sisi luar masjid yang berada di belakang Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas. Tampaknya merupakan kelaziman bahwa makam kyai berada di dekat mihrab masjid yang didirikan atau dipimpinnya.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Rumah Tua yang dulu menjadi tempat tinggal Kyai Rifangi saat saya berkunjung ke tempat ini, sekitar setahun sebelum ia wafat, diajak mendiang ibu. Ingatan kecil saya mengatakan bahwa rumah ini dulu terkesan sangat mewah dan indah. Maklum ketika itu Kyai Rifangi adalah juga saudagar batik yang kaya raya.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Keramik pada dinding dan lantai, serta pintu-pintu kayu yang terlihat masih asli. Sayang sekali bangunan ini kurang terawat dan tidak lagi terlihat mencorong sebagaimanan ketika saya lihat dahulu.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Pilar gerbang yang dihubungan dengan besi bulat lengkung bertuliskan "Pondok Pesulukan Jamiyyah Thoriqoh Annaqsyabandiyyah Al Mujaddadiyyah Al Kholidiyyah".

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Pandangan tegak pada Makam KH RM Muhammad Ilyas di Sokaraja yang memperlihatkan tulisan pada dinding atas pilar masuk ke ruang makam.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Beberapa makam yang ada di ujung deretan makam di luar cungkup dengan sebuah nisan bertulis yang berbunyi “Ayahanda, Kakek, kami yang tercinta H Achmad Iskandar Tirtabrata bin Wiryo Sumarto" yang wafat pada 1 Juli 2010.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Dua makam di luar cungkup Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas adalah Makam KH Afandi, salah satu putera Kyai Ilyas yang menjadi penerusnya, wafat pada 12 Besar 1348 H (Kamis 10 Mei 1930). Di sebelahnya adalah Makam KHR Achmad Rifangi, putera KH Afandi, yang wafat pada 10 Jumadil Awal 1388 H (Sabtu 4 Agustus 1968).

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Pandangan lainnya pada kompleks kubur yang berada di luar cungkup makam KH RM Muhammad Ilyas Sokaraja. Jika saja bisa dibuat seperti tatanan di Makam Perang Jakarta, tentu akan sangat elok dan rapih.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Pandangan pada lantai keramik rumah yang dulu dihuni oleh Kyai Rifangi, abang sepupu ibu saya, yang masih asli namun sekarang sudah terlihat tak semengkilat jaman dulu ketika pertama kali saya datang di pertengahan hingga akhir tahun 60-an.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Keramik pada tembok rumah kuni itu juga sepertinya masih asli. Rumah ini tampaknya kosong dan hanya sesekali ditinggali ahli warisnya, sama halnya dengan rumah keluarga ayah ibu di Mersi yang masih dibiarkan tak berpenghuni.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Huruf di sebelah depan dari tulisan nama di bagian depan rumah ini tak begitu jelas, tapi sepertinya adalah R.H.A. Rivai-Avandi atau KH R Achmad Rifangi (Rifa'i) yang adalah cucu mbah KH RM Muhammad Ilyas atau abang sepupu ibu saya. Nomor rumahnya tertera di bawah namanya.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Di belakang rumah pakde Rifangi adalah masjid dan tempat suluk para santri pengikut tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah yang jumlahnya kini tak lagi sebesar jaman dahulu.

makam kyai haji rm muhammad ilyas sokaraja

Info Banyumas

Hotel di Purwokerto, Hotel di Baturraden, Tempat Wisata di Banyumas, Tempat Wisata Kuliner Banyumas, Peta Wisata Banyumas.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.