Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan

November 15, 2019. Label:

Perjalanan ke Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan memakan waktu lama, karena kami berkendara cukup lambat. Itu lantaran perut baru saja terisi di RM Tirta Alam Karanggondang, sehingga memang perlu waktu sebentar agar makanan turun mengendap terlebih dahulu.

Lolong adalah desa wisata di Pekalongan yang terkenal dengan duriannya, sehingga kami lewat hutan pohon durian di kiri kanan jalan. Namun musim durian hampir lewat, dan sudah tidak enak rasanya ketika membeli di pinggir jalan. Beresiko membeli buah di awal dan akhir musim.

Tanpa GPS navigasi, kami bergantung pada Dodi untuk menuju sasaran, sehingga ketika sedang terkantuk karena roda mobil yang bulat berjalan di jalan mulus, tiba-tiba Dodi menghentikan kendaraan di dekat tikungan. Hilang kantuk saya pun keluar dari kendaraan, berjalan mengikuti jalan menurun sekitar 40 meter untuk sampai ke Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Penampakan Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan, dengan bagian tengahnya melengkung ke atas, melintang tinggi di atas Sungai Sangkarang yang lumayan lebar sungainya. Bentang jembatannya sendiri adalah sekitar 40 meter, dengan lebar 3 meter. Portal besi yang mirip tiang gawang sepak bola dipasang si mulut jembatan agar kendaraan roda empat tidak bisa lewat.

Jembatan ini memang sudah tua, dibuat pada tahun 1927. Kendaraan roda empat yang sering berlebihan bebannya tentu berbahaya bagi kelestarian jembatan. Namun ada pikiran menggelitik, jika Belanda dulu sudah mampu membuat jembatan ini, masakan pemkab tidak bisa meperbaiki dan menjadikannya elok dengan tetap menjaga keasliannya?

Cara lain melakukan konservasi pada jembatan ini sebagai upaya merawat kisah masa lalu adalah dengan membuat jembatan baru pada jarak yang tidak terlalu jauh dari lokasi jembatan yang lama ini. Jembatan yang tidak saja fungsional sebagai penghubung antara dua tempat, namun juga memiliki nilai arsitektur dan nilai seni yang baik, dan bisa bertahan ratusan tahun lamanya.

Mungkin karena lokasinya yang strategis, berjarak tinggi dengan sungai besar di bawahnya, Belanda juga sering menjadikan Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan sebagai tempat untuk mengeksekusi para pejuang yang tertangkap. Pada saat agresi militer Belanda, jembatan ini menjadi ajang baku tembak antara tentara kolonial melawan pasukan republik.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Pemandangan pada Sungai Sengakarang dari atas Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan, saat beberapa anak tengah bermain, dengan aliran air yang cukup deras meskipun saat itu masih musim kemarau. Bermain air di sungai adalah kegiatan masa kanak-kanak yang menggembirakan, meski kadang bisa mendatangkan maut jika saja tidak pintar membaca gerak air pertanda ada banjir di hulu.

Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan konon menjadi saksi beberapa peristiwa berdarah semasa penjajahan Belanda dan di jaman perang kemerdekaan yang memakan korban jiwa penduduk. Ki Madrawi, Kepala Desa pertama Desa Lolong dikabarkan digantung dan ditembak mati di jembatan ini dan mayatnya dihanyutkan ke Sungai Sangkarang sebagai akibat menentang Belanda.

Jika dilihat dari atas jembatan dan ditangkap oleh kamera dengan lensa standar, anak-anak ini terlihat kecil karena jaraknya yang cukup jauh. Hanya ketika menggunakan lensa tele penampakan anak-anak ini baru terlihat lebih jelas. Di sebelah kanan anak-anak itu ada area dimana tedapat gazebo, yang bisa menjadi tempat yang bagus untuk memotret jembatan dan mendapatkan gambar yang utuh. Hanya saja saya lupa tak ke sana.

Ketika debit air tinggi di musim penghujan, sungai ini menjadi arena petualangan arung jeram grade 4 yang artinya kelas lanjut dan memerlukan kemampuan khusus dan perlu pengawasan pedayung profesional. Tak heran Jembatan Lolong dibuat oleh Belanda dengan ketinggian dari atas permukaan air sungai yang lumayan, oleh sebab derasnya aliran air sungai di musim hujan.

Pandangan tegak dari arah samping yang sempat saya ambil fotonya memperlihatkan ketinggian jembatan dari dasar Sungai Sengkarang yang ada di bawahnya. Cukup Tinggi, dan akan sangat berbahaya jika jembatan ini sampai runtuh saat orang sedang melewatinya. Semoga saja tetap awet dan kuat.

Saat itu di seberang jembatan ada beberapa anak muda yang sedang bersiap untuk melakukan perekaman wawancara terkait Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan dan Desa Wisata Lolong. Pada latar belakang foto ini, menempel pada padas, terdapat dua buah prasasti. Di belakang batu padas yang di sebelah kanan ada pohon tua tinggi yang tumbuh pada tebing Sungai Sangkarang.

Prasasti yang di sebelah kanan adalah peresmian ditetapkannya Lolong sebagai desa wisata oleh Bupati Pekalongan pada 10 Februari 2013. Sedangkan prasasti di sebelah kiri berisi syair lagu "Lolong" yang diciptakan Ebiet G. Ade, terinspirasi saat ia berkunjung ke desa ini pada tahun 1976. Prasasti itu ditandatangani olehnya langsung pada tahun 2013.

Di atas jembatan anak-anak muda itu mulai melakukan proses perekaman dengan menggunakan gadget sederhana di ujung Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan. Anak muda berbaju batik yang menjadi narasumber mengenakan selempang bertulis "Mas & Mbak Duta Wisata Kabupaten Pekalongan". Bagus, semangat mereka patut dipuji untuk mewartakan tempat wisata lokal, meskipun kebanyakan tempat wisata itu belum mendapat perhatian secara semestinya.

Pada bagian ini diletakkan batu besar di badan jalan untuk mencegah kendaraan roda empat melewati Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan. Bagian ini masuk wilayah Dukuh Sampel, Kecamatan Lebakbarang, sedangkan di ujung sana ada di wilayah Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar. Jembatan ini awalnya dibuat menggunakan batu dari Sungai Sangkarang sehingga juga disebut sebagai jembatan batu.

Sudah waktunya pemkab Pekalongan memberi perhatian untuk memperbaiki Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan agar menjadi kokoh, cantik, dan anggun. Selain itu pemkab juga perlu membuat fasilitas pendukung di area sekitar jembatan untuk menjadikannya tujuan wisata heritage yang baik, sehingga pengunjung tidak hanya datang setahun sekali ke tempat ini saat ada festival durian saja.

Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan

Alamat : Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. Lokasi GPS : -7.06737,109.64129, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan

Di seberang jembatan ada beberapa anak muda yang sedang bersiap untuk melakukan perekaman wawancara terkait Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan dan Desa Wisata Lolong. Pada latar belakang foto ini, menempel pada padas, terdapat dua buah prasasti. Di belakang batu padas yang di sebelah kanan ada pohon tua tinggi yang tumbuh pada tebing Sungai Sangkarang.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Pandangan tegak yang memperlihatkan ketinggian jembatan dari dasar Sungai Sengkarang. Cukup Tinggi, dan akan sangat berbahaya jika jembatan ini sampai runtuh saat orang sedang melewatinya. Semoga saja tetap awet dan kuat.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Sudut pandang yang memperlihatkan sebagian dari kelengkungan Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan dan ketebalan di bagian tengah jembatan. Tingginya jalan dari dasar sungai membuat konstruksi tanpa pilar semacam ini tampaknya menjadi pilihan yang terbaik, meskipun tentu ada kompromi, terutama pada besaran beban yang masih bisa didukung oleh jembatan.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Selain jembatan lengkung yang unik, pemandangan lain yang juga cukup menarik adalah pohon besar yang berada tepat di sisi kanan jalan. Pohon itu tampaknya pernah dipotong dan lalu tumbuh menjadi dua batang yang nyaris sama besar.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Pemandangan ke arah aliran Sungai Sengkarang juga menjadi daya tarik sendiri bagi jembatan Lolong ini. Jika saja ada flying fox dan cafe untuk nongkrong menikmati suasana tentu akan lebih menarik wisatawan untuk datang.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Pohon besar ini tumbuh persis pada tebing sungai yang curam. Jika saja akarnya tak berpegang kuat pada batu karang tentu akan mudah tumbang dihajar angin, dan longsor kena hujan deras.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Prasasti pada batu keramik yang dilekatkan pada dinding karang di ujung jembatan, berisi syair lagu "Lolong" karangan Ebiet G Ade yang memang terinspirasi oleh tempat ini. Tanda tangan Ebiet tertera pada batu itu.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Prasasti lainnya yang letaknya berdekatan dengan prasasti Lolong. Prasasti ini menandai peresmian Desa Lolong sebagai destinasi wisata Kabupaten Pekalongan, ditandatangani bupati pada 10 Februari 2013.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Bebatuan karang pada tebing sungai tampaknya memberi kekuatan terhadap gerusan air sungai di musim penghujan yang biasanya mengalir dahsyat dari arah hulu. Sebuah anak sungai kecil tampak bergabung ke aliran utama sungai.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Pandangan arah ke hulu sungai, memperlihatkan kelok sungai dan perbukitan hijau di sepanjang lereng sebelah kiri. Semoga saja lestari.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Pandangan samping pada batang jembatan, dengan pagar pembatas yang sudah miring tak beraturan. Dua buah pipa penyalur air tampak menempel pada badan jembatan.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Bermain air di sungai adalah kegiatan masa kanak-kanak yang menggembirakan, meski kadang bisa mendatangkan maut jika saja tidak pintar membaca gerak air pertanda ada banjir di hulu.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Serakan batu besar di tepian Sungai Sengkarang bisa menjadi tempat bercengkerama yang asik bagi pasangan muda. Buih air yang terjadi akibat tumbukan batu juga menjadi hiburan tersendiri.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Tumpuk batu karang di tepi sungai ini dengan sebuah batu besar halus di atasnya bisa menjadi tempat yang mengasikkan bagi para pemancing, jika saja ada cukup banyak ikan di bawah sana.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Seorang pria tampak tengah meluruskan punggung di dalam gazebo beratap ijuk yang ada di lapangan cukup luas di tepian sungai. Lebih banyak gazebo mungkin akan mendatangkan lebih banyak pelancong.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Wid berjalan kaki menyeberang jembatan, dan harus melipir ke pinggir lantaran pejalan memang warga negara kelas dua, tidak sebagaimana mobil dan terutama sepeda motor yang bisa seenaknya merampas seluruh bada jalan, kadang trotoar juga.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Sudut pandang ini memperlihatkan lekuk Jembatan Lolong yang menekuk tajam di bagian tengahnya. Ketebalan bagian atas jembatan memang tidak terlalu besar, sehingga beresiko jika dilewati mobil dalam frekuensi tinggi.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Sudut pandang lainnya pada badan jembatan, yang memperlihatkan ketebalan bagian tengahnya. Mungkin ada baiknya jembatan ini suatu saat nanti diperkuat dengan struktur baja di atasnya, dibuat lebih tebal permukaannya , dan lebih lebar.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Seorang pengendara sepeda motor tengah melintas di atas jembatan. Mungkin ada sensasi tersendiri saat melewati puncak dan lalu turun lagi. Apalagi jika sempat melirik sejenak ke arah kiri atau kanan.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Pemandangan pada Sungai Sengakarang dari atas Jembatan Lengkung Lolong Pekalongan, dengan aliran air yang cukup deras meskipun saat itu masih musim kemarau. Ketika debit air tinggi di musim penghujan, sungai ini menjadi arena petualangan arung jeram grade 4 yang artinya kelas lanjut dan memerlukan kemampuan khusus dan perlu pengawasan pedayung professional.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Saat turun dari mobil dan berjalan menuju ke Jembatan Lengkung Lolong kami melewati Puskesmas Pembantu Lolong, warisan dari jaman Orde Baru yang dirasakan oleh rakyat kecil sampai di pelosok negeri. Tak semua warisan Orde Baru buruk memang.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Pandangan tegal pada bagian awal Jembatan Lengkung Lolong yang diberi palang agar mobil besar tidak bisa lewat untuk menjaga konstruksi jembatan agar tidak cepat ambrol.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Batang pohon yang tinggi dan tengara peresmian Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar, sebagai destinasi wisata Kabupaten Pekalongan yang ditandatangani oleh Bupati Pekalongan Drs HA Antono MSi pada hari Minggu, tanggal 10 Februari 2013.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Pemandangan lainnya pada batang Sungai Sangkarang yang terlihat jinak di musim kering sehingga anak-anak merasa aman bermain air dan mandi di sana, dan menjadi galak di musim hujan sehingga bisa digunakan sebagai arena wisata arung jeram.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Saat melihat foto pemandangan lainnya pada Jembatan Lengkung Lolong ini saya membayangkan panorama di sana pada saat diresmikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Semak dan belukar tentunya tidak selebat saat sekarang, dan penampakan jembatan sudah pasti jauh lebih rapih dan keren.

jembatan lengkung lolong pekalongan

Info Pekalongan

Hotel di Pekalongan, Tempat Wisata di Pekalongan, Peta Wisata Pekalongan.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow This Blog !

Baca Pula