Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan

December 18, 2019. Label:
aroengbinang.com - Bangunan tua peninggalan kolonial bernama Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan itu kami kunjungi pada pagi cerah, menyajikan biru langit indah dengan sedikit awan melayang. Nama resminya Rumah Dinas Jabatan Kepala Badan Koordinator Wilayah (Bakorwil) III Jawa Tengah.

Meski rumah dinas, dan Bakorwil masih ada, namun Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan ini terlihat tak berpenghuni. Pos jaga kosong, dan kondisi gedung terlihat kurang terawat, meski ada petugas kebersihan yang tengah bekerja. Petugas itu yang membuka pagar untuk kami.

Di jaman penjajahan, jabatan residen merupakan perpanjangan tangan pemerintah Hindia Belanda di sejumlah daerah jajahan, semuanya di bawah perintah Gubernur Jenderal yang berkedudukan di Batavia. Karesidenan (Residentie) membawahi sejumlah Kabupaten (Regentschap), dan di bawahnya ada Kawedanan (District), Kecamatan (Onderdistrict), serta Desa.

eks rumah residen pekalongan

Tampak muka bangunan Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan yang terlihat masih kokoh dengan empat pilar beton tinggi di bagian depan dan enam pilar di belakangnya. Rumput tak rapi serta cat yang kusam membuat keelokan bangunan ini sedikit berkurang. Adanya lambang negara Garuda Pancasila di atas pintu lengkung tengah, tidak membantu mengangkat keanggunannya.

Fungsi Bakorwil sebenarnya hampir sama dengan Residen, yaitu membantu gubernur mengawasi sejumlah kabupaten, hanya saja dengan kekuasaan yang jauh lebih terbatas. Mungkin karena itu pula kedudukan dan peran Bakorwil seperti antara ada dan tiada. Tak heran jika ada suara untuk membubarkan Bakorwil lantaran dianggap tak efektif dan hanya membebani anggaran.

Gedung yang dibangun pada 1850 ini memiliki halaman luas di sebelah kiri dan kanannya, yang sebagian besar ditanami rerumputan dan pepoohonan, sebagian terlihat tua. Ada pula kandang ayam bekisar yang dibiarkan kosong. Begitulah, sebagus apapun suatu tempat jika tidak dihuni maka lama kelamaan akan terjadi penurunan pada keindahan dan kehangatannya.

eks rumah residen pekalongan

Pada area sayap kiri Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan terdapat Pohon Randu yang sedang berbuah di tengahnya. Pohon cantik yang konon digemari dedemit. Namun mungkin bukan karena itu jika ada selentingan gedung ini ada "penghuninya".

Rumah kosong disukai dedemit dan mahluk sejenisnya karena tak terganggu dan tak pula kesal dengan tingkah manusia. Keberadaan Karesidenan Pekalongan tak lepas dari Perjanjian Jepara tahun 1676 dimana Amangkurat II menyerahkan pesisir Utara Jawa ke VOC sebagai bayaran penumpasan Trunojoyo.

Lalu perjanjian dengan Paku Buwono II pada 18 Mei 1746 yang isinya Pulau Madura dan seluruh pesisir Utara Jawa sejak itu menjadi milik VOC yang sah, bukan lagi wilayah Mataram. Kekuasaan Belanda atas pesisir utara Jawa diperkuat dengan perjanjian Giyanti yang membelah Mataram di bawah dua raja, Sunan Paku Buwono di Keraton Surakarta dan Sultan Hamengku Buwono di Keraton Yogyakarta. Dalam perjanjian itu Sultan HB tidak boleh menuntut haknya atas Pulau Madura dan daerah-daerah pesisiran, yang telah diserahkan oleh PB II kepada Kompeni.

Dinding bagian bawah ruangan bagian depan Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan dibalut papan kayu yang antik. Tak ada benda menarik di ruangan ini kecuali deretan foto yang digantung di atas papan kayu. Mereka adalah Pembantu Gubernur Jawa Tengah / Kepala Bakorlin (Badan Koordinasi Lintas Wilayah) yang kemudian menjadi Bakorwil.

Diantara foto yang dipajang adalah Soedjono (1948-1954), Soejoto Sastrowardojo (1954-1957), Mochtar (1957-1958, sebelumnya Bupati Pemalang), M. Handjojo Sastrohandjojo (1958-1961), R. Soepoetro Brotodihardjo (1961-1966, sebelumnya Bupati Tegal), Soemartojo (1966 - 1970), Drs. Soedarmo (1970-1977), Drs. Soenartedjo (1977-1982), dan Aboessaleh Ronowidjojo (1982-1987). Lalu ada foto Karsono Kramadiredja (1987 1989), Hartono (1989-1992), dan Soemadi (1996 - 2001). Sayang tak ada catatan nama-nama residen Pekalongan yang menjabat pada jaman pemerintahan kolonial. Hanya ada serakan informasi yang menyebut residen Praetorius yang menjabat sekitar tahun 1836, dan residen F.H. Doornik yang menjabat sekitar tahun 1841.

Saya sempat masuk ke salah satu ruang tidurnya yang luas namun interiornya sederhana, dengan dua tempat tidur besar dan sedang yang juga sederhana. Di ujung sana mestinya adalah ruang makan dan ruang keluarga, namun sekarang sepertinya difungsikan sebagai ruang serbaguna. Saat itu beberapa orang tengah menyiapkan makanan untuk sebuah acara.

Karesidenan Pekalongan merupakan salah satu wilayah dimana Cultuurstelsel diterapkan oleh Gubernur Jenderal Graaf Johannes van den Bosch. Pemicunya adalah kondisi keuangan Hindia Belanda yang parah, terkuras untuk membiaya perang melawan Diponegoro. Negeri Belanda juga kondisinya buruk setelah berakhirnya perang Napoleon dan perang dengan Belgia pada 1830.

Pada 13 Agustus 1830, van den Bosch memberi persetujuan penanaman tebu di karesidenan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Pekalongan, juga penanaman kopi dan nila. Setiap desa wajib menyediakan 20% tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor itu. Sistem Tanam Paksa berhasil membuat Hindia Belanda dan Negri Belanda kembali makmur, namun sangat menyengsarakan kehidupan rakyat, yang kemudian melahirkan politik etis.

Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan

Alamat : Jl Diponegoro No 1, Pekalongan. Lokasi GPS : -6.8788086, 109.674105, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : setiap waktu bergantung penjaga dan ada tidaknya acara. Harga tiket masuk : gratis.

Galeri Foto Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan

Pemandangan pada ruangan bagian depan Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan, dengan dinding bagian bawah dibalut papan kayu. Tak ada benda menarik di ruangan ini kecuali deretan foto yang digantung di atas papan kayu. Mereka adalah Pembantu Gubernur Jawa Tengah / Kepala Bakorlin (Badan Koordinasi Lintas Wilayah) yang kemudian menjadi Bakorwil.

eks rumah residen pekalongan

Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan dengan ruang tidur di kiri kanannya. Saya sempat masuk ke salah satu ruang tidurnya yang luas namun interiornya sederhana, dengan dua tempat tidur besar dan sedang yang juga sederhana. Di ujung sana mestinya adalah ruang makan dan ruang keluarga, namun sekarang sepertinya difungsikan sebagai ruang serbaguna. Saat itu beberapa orang tengah menyiapkan makanan untuk sebuah acara.

eks rumah residen pekalongan

Bangunan beton pos jaga yang di jaman kolonial dan maupun jaman republik dijaga oleh orang pribumi. Hanya saja saat itu kosong, menandai ketiadaan penguninya. Pos itu bukan sekadar sebagai tempat penjagaan, namun juga sebagai perlindungan bila ada serangan musuh. Tampa samping bangunan utama memperlihatkan jendela kayu tinggi, khas bangunan tropis.

eks rumah residen pekalongan

Papan nama di halaman depan dengan cat kayunya sudah banyak yang terkelupas. Nama resmi bangunan ini sekarang adalah Rumah Dinas Jabatan Kepala Badan Koordinasi Wilayah III (Jawa Tengah). Setiap provinsi bisa membentuk Bakorwil jika diperlukan. Jika saja gubernur rajin blusukan, bakorwil mungkin tidak akan dibutuhkan lagi.

eks rumah residen pekalongan

Halaman samping dengan sejumlah pepohonan yang terlihat rindang dan tua. Seorang petugas kebersihan tampak sedang menyapu di bawah sebuah pohon yang besar. Tampaknya masih lebih banyak pohon muda di tempat ini. Tak terlihat ada rusa totol piaraan, yang biasanya ditangkar di tempat dengan area rumput luas seperti di tempat ini.

eks rumah residen pekalongan

Pohon randu atau kapuk randu (Ceiba pentandra) bisa tumbuh setinggi 60-70 m dengan diameter batang 3 m. Ada keindahan tersendiri setiap kali melihat pohon randu, karena batang utamanya biasanya lurus ke atas dengan sebaran dahan-dahan dan ranting yang cantik. Serat pada buah kapuk dipakai sebagai bahan dasar kasur, bantal, pakaian, penahan panas, dan peredam suara. Minyak bijinya dipakai sebagai pelumas dan minyak lampu, dan polong yang sangat muda bisa dimakan.

eks rumah residen pekalongan

Potret Soedjono, Residen Pekalongan yang menjabat pada 1948-1954. Jabatan residen mulai ditiadakan sejak 1950, demikian juga jabatan Wedana dan Patih. Namun hingga pertengahan tahun 1960-an masih ada daerah yang memiliki Residen, Patih dan Wedana, setidaknya yang saya tahu adalah Jatinom dan Klaten. Itu karena ayah saya menjadi Wedana di Jatinom hingga pensiun pada 1967, dan pada masa itu saya pernah diajak ke rumah Patih di Klaten.

eks rumah residen pekalongan

Soejoto Sastrowardojo menjabat pada periode 1954 - 1957. Sebelumnya ia menjadi Wedana Bumiayu di Kabupaten Tegal, dan Wedana Cilacap di jaman Jepang. Di jaman republik ia menjadi Bupati Jepara (1950-1954) dan lalu menjadi residen Pekalongan sampai pensiun pada 1958. Puteranya, Sanyoto Sastrowardoyo, adalah Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM Republik Indonesia pada tahun 1993-1998.

eks rumah residen pekalongan

Mochtar yang menjabat pada pedriode 1957 - 1958. Sebelumnya ia menjabat sebagai Bupati Pemalang yang ke-5 (1950 – 1954). Pada tahun 2015 namanya diabadikan di Stadion Sirandu yang diganti menjadi Stadion Mochtar. Patungnya juga didirikan di sana. Namanya juga digunakan sebagai nama jalan di Pemalang.

eks rumah residen pekalongan

M. Handjojo Sastrohandjojo menjabat sebagai residen pekalongan pada periode 1958 - 1961. Sampai saat itu saya kira jabatan residen masih ada, karena seingat saya Karesidenan Banyumas juga masih ada pada tahun 1970-an. Bakorwil III Jawa Tengah pun baru dibentuk berdasar Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2008, dengan wilayah kerja meliputi eks Karesidenan Banyumas dan eks Karesidenan Pekalongan.

eks rumah residen pekalongan

R. Soepoetro Brotodihardjo yang menjabat pada periode 1961-1966. Sebelumnya ia menjabat sebagai Bupati Tegal. Ia menjabat sebagai wakil kepala kota pada masa R Soengeb menjadi Bupati Tegal. Ia adalah pejabat yang pertama kali menerima penyerahan senjata Jepang yang lalu menyerahkannya ke pemuda Tegal yang kemudian menjadi BKR. Ia juga menghasilkan karya "Tegal Sepanjang Sejarah" yang mencatat perjalanan sejarah Tegal. Soepoetro juga pernah menjadi Gubernur Sumatera Barat, menggantikan Komisaris Besar Polisi Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa pada tahun 1965.

eks rumah residen pekalongan

Drs. Soedarmo yang menjabat pada periode 1970-1977. Nama ini juga tercatat sebagai Bupati Pekalongan pada 1972-1975, dan pada periode 1976-1981, hanya saja ada gelar raden di depan namanya. Mungkin orang yang berbeda. Nama Drs. Soedarmo juga tercatat sebagai Bupati Pemalang pada periode 1973-1975, namun melihat periodenya mungkin juga orang yang berbeda.

eks rumah residen pekalongan

Soemartojo menjabat pada periode 1966 – 1970. Ini periode awal orde baru, setelah peristiwa G30S-PKI. R.M. Soemartojo juga tercatat sebagai Bupati Pemalang yang ke-8, yaitu pada periode 1959-1966, dan melihat periodenya seperti merujuk pada orang yang sama. Jabatan bupati Pemalang tampaknya merupakan batu loncatan yang baik ke jabatan yang lebih tinggi.

eks rumah residen pekalongan

Drs. Soenartedjo menjabat pada periode 1977-1982. Ia pernah tercatat sebagai Pemimpin Umum / Penanggung Jawab Majalah Bulanan Korpri Jawa Tengah KRIDA. Soenartedjo kemudian menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah pada periode 1988-1993.

eks rumah residen pekalongan

Sebuah bundaran dengan ketinggian rendah tampak di salah satu bagian halaman eks Rumah Dinas Residen Pekalongan. Tempat itu mungkin digunakan sebagai lokasi untuk api unggun. Hanya saja tak ada bangku kayu yang mengelilinginya. Menempati rumah dengan halaman luas seperti ini menjadi sebuah kemewahan yang luar biasa di kota besar.

eks rumah residen pekalongan

Pandangan pada rumah samping dengan sebuah pohon yang daunnya sangat rimbun, mungkin pohon mangga. Bentuk rumah di kompelks ini sepenuhnya simetris. Apa yang ada di sayap kiri, ada pula di sayap kanan bangunan. Keseimbangan memang enak untuk dipandang dan dirasakan.

eks rumah residen pekalongan

Sebuah kandang ayam bekisar yang isinya sudah kosong. Di ujung sana juga ada satu kandang lagi. Awning yang terlihat di sebelah kanan adalah tentunya bangunan tambahan yang baru dibuat. Seringkali bangunan tambahan semacam ini merusak pemandangan dan selera karena tidak serasi dengan bangunan aslinya.

eks rumah residen pekalongan

Salah satu kamar tidur luas yang ada di dalam ruangan utama Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan. Tampak bahwa dipan dan kasurnya terlihat sederhana, dan kasurnya sepertinya masih menggunakan kapuk. Yang menarik adalah lantainya dengan tegel kembang yang sepertinya masih asli. Tak ada hiasan yang menarik perhatian di dalam kamar ini.

eks rumah residen pekalongan

Gardu jaga di sebelah kiri dengan lubang intip bundar, serta bangunan berpintu empat di ujung sana. Melihat bentuk pintunya, bangunan itu tampaknya digunakan sebagai garasi mobil. Boleh jadi dahulu juga digunakan sebagai garasi kereta kuda dan kendaraan bermotor roda dua.

eks rumah residen pekalongan

eks rumah residen pekalongan

Info Pekalongan

Hotel di, Tempat Wisata di Pekalongan, Peta Wisata Pekalongan.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengbinang !
Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.