Museum Tanjungpandan Belitung

Kunjungan ke Museum Tanjungpandan Belitung yang berada di Jalan Melati No. 41A, Tanjungpandan, berjalan cukup mengesankan. Bukan saja karena ditemani oleh Salim Yah, seorang tokoh Lembaga Adat Melayu Belitong yang berpengetahuan luas tentang sejarah dan budaya Belitung, namun juga karena koleksi museum, keragamannya, dan luas area kompleks museum benar-benar di luar dugaan saya.

Semula museum ini bernama Museum Geologi, didirikan atas perintah Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan RI Dr. Chaerul Saleh (10 Juli 1959 - 28 Maret 1966) kepada perusahaan penambangan Timah di Belitung, Bangka dan Singkep untuk masing-masing mendirikan sebuah museum. Perintah itu dilaksanakan dibawah pimpinan Dr. R. Osberger, geolog asal Austria sebagai Kepala Dinas Eksplorasi dan Geologie Perusahaan Penambangan Timah Belitung yang berkedudukan di Kelapa Kampit. Karena itulah awalnya museum itu akan didirikan di Kelapa Kampit, namun diubah ke Tanjungpandan atas perintah Direktur Utama Penambangan Timah Belitung, Ir. MEA Apitule, untuk memudahkan akses bagi pengunjung.

Museum Tanjungpandan Belitung menempati sebuah bangunan tua bekas kantor NV Billiton Maatschappij, yang juga pernah dijadikan tempat tinggal Kepala Penambangan Timah Belitung di jaman Belanda. Adalah bang Junai yang bersemangat menghubungi Salim Yah agar ia bisa datang untuk bercerita panjang lebar tentang museum khususnya dan Belitung secara umum, sehingga tak lama kemudian ia datang.

museum tanjungpandan belitung
Tampak depan Museum Tanjungpandan Belitung dengan halaman yang luas, hijau dan asri. Salim Yah tampak tengah membacakan Prasasti Timah yang dibuat pada 23 Juni 1923, ditatah di atas permukaan batu granit, yang terletak di halaman depa museum, memuat nama orang berkebangsaan Belanda yang dianggap sebagai pionir penambangan Timah di Pulau Belitung. Disampingnya adalah mangkok kapal keruk yang terbuat dari besi baja bergaris tengah 97 cm dengan ketebalan 5 cm.

Di halaman Museum Tanjungpandan Belitung ada pula Locomobil terbuat dari besi baja buatan tahun 1908, dua patung Singa (Cioksay) yang diambil dari rumah Kapiten Ho A Jun. Bekas rumah kapiten itu menyisakan peninggalan Toapekong Kapten Cina yang elok. Masuk ke ruang museum terlihat koleksi keramik tua Tiongkok, seperti kendi, mangkok, dengan bermacam bentuk dan ornamen yang ditemukan di Belitung. Keramik itu ada yang berasal dari jaman Wangsa Tang (618 - 907), Sung (960 - 1279), Ming (1368 - 1644), dan Yuan (1279 – 1368). Ada pula gerabah yang asal Thailand.

Ada koleksi benda-benda yang terbuat dari kuningan dan tembaga di Museum Tanjungpandan Belitung, diantaranya bokor (bukor), baki segi empat, tempat untuk meludah, loyang, tempat perhiasan, dan wadah buah. Di dalam kotak di latar depan adalah contoh Batu Satam. Beragam senjata tajam tradisional tampak di lemari kaca, dan ada pula meriam. Masih di ruang utama ada awetan Ikan Arapaima, yang masih hidup saya lihat di Akuarium Air Tawar TMII. Panjang ikan ini bisa 2,5 m dengan berat 100 kg, merupakan salah satu ikan air tawar terbesar di dunia. Ikan jenis ini diduga masih hidup di Sungai Lenggang, Belitung Timur, yang disebut Ikan Ampong atau Ikan Buaya.

Koleksi Museum Tanjungpandan Belitung lainnya adalah Berekong, sejenis Biawak dengan kulit lebih halus, badan ramping dan gerakan lincah. Binatang pemakan katak ini hidup di hutan pinggir sungai. Ada pula awetan buaya dan penyu besar. Di atasnya ada miniatur KK (Kapal Keruk) Dendang, satu dari sekitar 30 KK yang pernah digunakan di Belitung. KK Dendang dibuat pada 1947 oleh perusahaan Scheepswerf Verschure di Amsterdam, Belanda, dengan panjang 66 m, lebar 20 m serta tinggi 4,2 m, dan mampu mengeruk sedalam 30 meter. KK Dendang karam terhempas badai pada 8 Juli 2007.

Koleksi Museum Tanjungpandan Belitung lainnya adalah sekitar sepuluh maket yang menggambarkan cara-cara penambangan Timah, dari mulai Sumur Palembang yang dibuka pada 1711 sampai ke pemakaian kapal keruk dan peleburan biji Timah. Di dalam museum juga dipajang contoh batuan dan biji logam, diantaranya batu kawi, garnierit, timah, kalsit, radio larit, kwarsa, biji nikel, siderit, hematit, pyrit, dan banyak lagi lainnya.

Koleksi Museum Tanjungpandan Belitung lainnya adalah Gading gajah dan tengkorak Dimetrodon yang ditemukan di sebuah tambang Timah di Belitung. Dimetrodon adalah mamalia berkaki empat yang hidup 280 - 265 juta tahun lalu. Hewan ini memiliki sirip menakjubkan pada punggungnya, panjang tubuhnya mencapai 3,8 m dan berat 200 kg. Masih banyak lagi koleksi lainnya, termasuk uang kertas dan uang logam kuno, cap kerajaan, koleksi keris, gerabah, dan nisan kayu Makam KA Rahad (Depati Cakraningrat VIII) pendiri Kota Tanjungpandan. KA Rahad meninggal pada 1854 M dan dimakamkan di Air Labu Kembiri, yang di area perkebunan PT. Foresta Lestari Membalong.

Sebuah instalasi yang menarik di Museum Tanjungpandan Belitung menggambarkan harta karun di perut kapal dagang yang tenggelam di perairan sekitar Belitung dan Kepulauan Riau. Setidaknya ada 7 kapal karam di perairan Indonesia bagian Barat pada abad XVII - XX, yaitu Diana (Inggris), Tek Sing dan Turiang (China), Nassau dan Geldennalsen (Belanda), Don Duarte de Guerra (Portugis), dan kapal Ashigara (Jepang). Instalasi yang mengusung tema harta karun laut itu berada di ruang berpendingin dengan pencahayaan baik, ditata secara lebih profesional dan bercita rasa dibandingkan ruangan lain di Museum Tanjungpandan Belitung. Di sana terdapat poster-poster yang menceritakan penemuan harta karun di perairan Belitung yang bernilai puluhan juta dollar.

Diantara harta karun itu ditemukan di perairan Batu Hitam sekitar 1,6 km dari pantai Barat Pulau Belitung, sehingga disebut Batu Hitam shipwreck, atau Belitung shipwreck, dan berisi batangan emas serta keramik dari jaman Dinasti Tang sehingga juga disebut Tang shipwreck. Kapal dagang Arab itu berlayar dari Afrika ke China sekitar tahun 830 M. Adalah Tilman Walterfang dan orang-orangnya di Seabed Explorations yang mengangkatnya, dan menjadi heboh setelah isi kargo dijual senilai US$32 juta ke Sentosa Leisure Group, perusahaan swasta Singapura. Koleksi menarik lainnya adalah meja kursi antik Tiongkok, piring keramik, baju adat, miniatur kapal dan benda-benda terbuat dari kuningan.

Salim Yah kemudian mengajak saya melangkah ke halaman belakang Museum Tanjungpandan Belitung yang ternyata sangat luas. Di sana ada area bermain, warung, dan kebun binatang kecil dengan beberapa koleksi satwa seperti unggas, buaya, dan ular piton. Saat saya potret, tiba-tiba buaya yang cukup gendut itu meloncat nyaris mengenai kamera. Mengagetkan, mungkin ia lapar. Setelah mengisi buku tamu, saya pun berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Salim Yah, yang juga Guru di SMP Negeri 6 Tanjungpandan, seraya berharap bahwa pemerintah setempat bisa memberi perhatian jauh lebih besar bagi situs-situs bersejarah di wilayah Belitung yang kondisinya masih banyak yang memprihatinkan.

Museum Tanjungpandan Belitung

40 foto di sini. Alamat : Jl. Melati No.41A, Tanjungpandan, Belitung. Telp 0719-22960, 24176. Lokasi GPS : -2.73971, 107.6284, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 08:00 - 16:00, kadang sampai jam 17:00 di hari Sabtu dan Minggu. Harga tiket masuk : Rp 2.000. Rujukan : Hotel di Belitung, Tempat Wisata di Belitung, Peta Wisata Belitung.
Label : .
Updated : October 29, 2018
Author : .
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok. Follow : Twitter, Facebook, Subscribe, Youtube.
Share   Tweet   WhatsApp   Telegram   Email   Print!