Masjid Pintu Seribu Tangerang

Sebelum ke Masjid Pintu Seribu Tangerang, dari namanya saya berharap melihat masjid berukuran besar yang arsitekturnya sangat anggun dan memiliki begitu banyak pintu masuk, sehingga sangat layak untuk mendapat sebutan nama sebagai masjid dengan seribu pintu. Namun ketika sampai di Masjid Pintu Seribu Tangerang, saya memang melihat bangunan besar hanya saja gedungnya belum selesai dibangun.

Masjidnya juga terletak di tengah permukiman, dengan akses masuk yang relatif sempit, meskipun mobil bisa masuk sampai ke sana. Area parkir kendaraan di sekitar masjid sangat terbatas, sehingga pengunjung harus parkir di tempat yang agak jauh dari masjid ketika ada banyak tamu yang datang. Dengan semua keterbatasannya, masjid ini menawarkan perjalanan spiritual yang belum pernah saya jumpai di semua masjid yang pernah saya kunjungi.

Akses menuju ke Masjid Pintu Seribu Tangerang adalah melalui ujung Jl. Daan Mogot, lalu masuk ke Jl. Doktor Sitanala, melewati RS Kusta Sitanala, belok kekiri ke Jl. Jembatan Pintu Sepuluh, setelah lewat jembatan yang melintang Sungai Cisadane belok ke kanan, lalu masuk Jl. Sangego Raya (Bendungan Pintu Sepuluh ada di kanan), selanjutnya masuk ke Jl. Kedaung Barat - Cisadane.

masjid pintu seribu tangerang
Turun dari dalam kendaraan saya melihat ada sebuah rumah gubuk sederhana di sebelah kiri, deretan pohon palm yang sudah tinggi berada di jalur tengah, dan bangunan Masjid Pintu Seribu Tangerang di sebelah kanan dan depan. Masjid yang aslinya bernama Nurul Yakin ini mulai dibangun pada 1960 oleh al Faqir Mahdi asal Batu Ceper, Tangerang.

Bertahun kemudian bangunan masjid ditambahkan bertahap hingga sampai pada kondisinya yang sekarang, dan tampaknya akan terus bertambah sesuai ketersediaan dana dan imajinasi yang empunya. Karena kunjungan saya ini terjadi beberapa tahun lalu, kemungkinan besar telah terjadi perubahan pada bangunan fisik masjid, mudah-mudahan menjadi jauh lebih baik.

Sepotong jalan kampung membelah di bawah bangunan utama Masjid Pintu Seribu Tangerang yang menjadikannya seperti sebuah lorong terowongan cukup panjang. Tak jelas benar mana yang ada terlebih dahulu, apakah jalan umum ataukah bangunan masjid. Yang pasti jalan umum itu tampaknya hanya bisa dilewati sepeda motor dan orang, dan mungkin kendaraan kecil.

Saya sempat mampir ke rumah sangat sederhana yang ada di sebelah kiri dan berbincang dengan suami isteri yang sudah sangat sepuh. Tak ada pembicaraan khusus, hanya sekadar pembicaraan ringan tentang keadaan sekitar masjid. Sesaat kemudian saya masuk ke pintu kanan masjid yang berada tepat di mulut lorong dengan atap rendah. Setelah menulis pada buku tamu dan memberi sumbangan sukarela, saya memasuki lorong ruangan dengan banyak pintu di kiri kanan yang tampaknya digunakan untuk kegiatan spiritual dalam kelompok kecil atau pun sendirian.

Di ujung lorong Masjid Pintu Seribu Tangerang ini terdapat ruangan panjang setengah terbuka untuk sembahyang berjamaah, zikir bersama dan kegiatan spiritual lainnya. Ada mimbar dan bedug tua dengan kentonganya di sama. Di sebelah kiri ruang ini ada makam putra pendiri Masjid Pintu Seribu, yang sering diziarahi para pengunjung.

Setelah berbincang selama beberapa saat dengan seorang anak muda yang tampaknya adalah salah satu petugas masjid yang biasa menemui dan menemani tamu, saya memutuskan untuk memintanya membawa saya masuk ke dalam ruangan di dalam gedung dimana ritual dzikir secara kelompok biasa dilakukan. Dengan masuk ke ruangan dzikir itu saya bisa menyimpulkan bahwa meskipun masjid ini bukan bangunan megah dan agung yang bisa dikagumi secara fisik, namun ia menawarkan pengalaman dan perjalanan batin yang mungkin sulit dijumpai di masjid-masjid lain di Indonesia yang memiliki arsitektur hebat dan mewah.

Ada ruangan dengan penerangan lampu listrik yang minimal berada di dasar bangunan bertingkat yang berada di sebelah kiri jalan, nyaris menyerupai sel bawah tanah. Ruangan Masjid Pintu Seribu Tangerang yang agak pengap ini digunakan untuk berdzikir dalam kelompok-kelompok secara bergilir dengan dibatasi waktu dan jumlah orangnya. Untuk sampai ke ruangan ini saya harus berjalan seperti orang buta dengan menyusuri lorong sempit berliku gelap pekat yang hanya bisa dilalui satu orang.

Saya merapat dan memegang punggung si anak muda yang menggunakan korek api sebagai penerang jalan. Kepala harus ditundukkan dalam-dalam agar tidak terbentur langit-langit yang rendah. Sebuah perjalanan unik yang memberi kesan mendalam. Anda harus mencobanya ketika berada di masjid ini, meski tidak untuk berdzikir. Masih di sekitar ruangan itu, dengan pencahayaan ruangan sangat rendah saya sempat mengambil foto ruangan lain dengan memakai tripod, fokus manual, dan kecepatan shutter rendah.

Dari ruangan bawah gedung yang terasa agak menyeramkan ini, anak muda itu membawa saya berjalan meniti tangga demi tangga untuk menuju ke bagian atas masjid. Menurutnya area itu pernah diambil film-nya oleh sebuah stasiun televisi swasta untuk digunakan sebagai latar belakang tayangan adzan Maghrib. Meskipun tidak ada yang istimewa dengan ruangan Masjid Pintu Seribu Tangerang ini, namun jika berdiam di sana ketika senja jatuh mungkin akan ada kesan tersendiri. Beberapa saat kemudian kami turun melewati jalur berbeda dan berakhir pada bangunan setengah jadi, tempat dimana saya menghirup udara segar setelah keluar dari labirin yang menggetarkan hati itu.

Masjid Pintu Seribu Tangerang

7 (tujuh) foto lainnya di sini. Alamat : Kampung Bayur, Kelurahan Periuk Jaya, Kecamatan Periuk, Tangerang Kota. Lokasi GPS : -6.14968, 106.60835, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : setiap waktu. Harga tiket masuk sukarela. Harga tiket masuk : serelanya. Rujukan : Hotel di Tangerang, Hotel di Tangerang Selatan, Tempat Wisata di Tangerang, Peta Wisata Tangerang.