Jembatan Limpapeh Bukittinggi

June 16, 2019. Label:
Jembatan Limpapeh Bukittinggi merupakan sebuah jembatan gantung yang melintas di atas Jl. Ahmad Yani Bukittinggi, menghubungkan kawasan Benteng Fort de Kock dan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Jembatan yang aslinya dibuat lebih dari 20 tahun silam ini ditopang di bagian tengahnya oleh bangunan beton beratap gonjong khas Minangkabau, serta oleh empat kabel baja tempat bergelantungnya kawat-kawat kuat yang memegangi jembatan.

Oleh sebab persis di bagian tengahnya ditopang struktur bangunan dengan empat kaki itulah maka bentang jembatan gantung ini tidaklah terlalu lebar, dan karenanya stabil, membuat orang yang lewat dengan berjalan kaki di atasnya tidak merasakan adanya kegamangan. Namun keberadaan penopang itu juga membuat jalan di bawahnya menjadi terkesan sempit saat dilewati kendaraan, sekalipun jalannya dibuat searah.

Begitu pun keberadaan Jembatan Limpapeh mampu menarik perhatian saya sewaktu melintas di Jl. Ahmad Yani, sehingga menyempatkan untuk memotretnya. Hanya saja keberadaan kabel-kabel telepon dan listrik yang kusut benar-benar mengganggu pemandangan. Belakangan saya baru bisa memotret jembatan ini dari dalam kawasan Benteng Fort de Kock ketika berjalan kaki melintasinya saat menuju ke Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan yang berada di seberang jalan.

jembatan limpapeh bukittinggi
Penampakan pada bangunan beton beratap gonjong di tengah Jembatan Limpapeh yang ditembus oleh Jl. Ahmad Yani di bawahnya. Di sebelah kiri adalah area Benteng Fort de Kock, dan di sebelah kanannya adalah kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Pengunjung bisa masuk baik dari kiri maupun kanan Jembatan Limpapeh, dengan hanya sekali membayar ongkos tiket untuk kedua tempat wisata itu.

Bentang badan Jembatan Limpapeh Bukittinggi dilihat dari area di pinggiran bukit Jirek dimana Benteng Fort de Kock berada. Di awal jembatan ada sebuah gardu atau gapura beratap gonjong khas Minangkabau yang bentuknya menyerupai rumah kecil sehingga bisa menjadi tempat berteduh setidaknya bagi sekitar 10 orang jika saja hujan turun.

Jembatan Limpapeh memiliki panjang sekitar 90 meter dan lebar 3,8 meter, dengan kawat-kawat baja besar dan kuat yang memegangi batang jembatan, dilengkapi pelat-pelat alumunium pada permukaan jembatan yang saat masih terlihat baru dan rapi. Berjalan melewati Jembatan Limpapeh ini sangat nyaman dan menyenangkan dengan hanya terasa sedikit getaran dan ayunan.

Pemandangan pada badan Jembatan Limpapeh Bukittinggi yang masih terlihat sangat rapih struktur pendukungnya, baik tali-tali baja yang menggantung jembatan, ram pagar besi pelindung di kiri kanan jembatan, serta pelat-pelat besi tebalnya yang menjadi injakan kaki para pejalan yang melewatinya. Ketiadaan peringatan kepada penjalan untuk tidak berhenti di tengah jembatan memberi indikasi kekuatannya.

Bangunan beratap gonjong di tengah jembatan di sana itu berukuran lebih besar ketimbang gardu gerbang yang berada di kedua ujung jembatan. Keberadaan bangunan penopang di tengah jembatan membuat beban pada tali-tali baja menjadi jauh lebih ringan, oleh sebab bangunannya secara praktis membagi jembatan menjadi dua bagian dalam simetri sempurna.

Saya bisa melihat sebuah bangunan besar bercorak Minangkabau berdiri megah di atas sebuah bukit nun jauh di sana, dilihat dari atas Jembatan Limpapeh. Lahan persawahan di bagian lembah tampak seperti terkepung rapat oleh perumahan penduduk, menyisakan sangat sedikit ruang terbuka hijau. Pertumbuhan penduduk yang pesat membuat lahan pertanian menjadi semakin terpinggirkan.

Jika dilihat dari Jl Ahmad Yani maka akan terlihat rel-rel baja berjejer rapi di kiri-kanan bagian bawah badan Jembatan Limpapeh, yang menjadi penyangga pelat-pelat alumunium saat dilalui oleh para pejalan. Penggantian papan kayu dengan pelat aluminium ini baru selesai beberapa bulan sebelum kunjungan saya ke sana dengan menghabiskan anggaran tak kurang dari Rp. 308 juta.

Ornamen pada dinding bangunan tengah Jembatan Limpapeh didominasi oleh warna kuning dan hijau. Miringnya salah satu pucuk atapnya barangkali disebabkan oleh karena terpaan angin kencang. Jika saja kabel-kabel telepon dan listrik yang sangat mengganggu pemandangan di sekitar Jembatan Limpapeh ini bisa dibenamkan ke dalam tanah, maka jembatan itu akan terlihat jauh lebih rapi dan enak dipandang mata.

Dari atas Jembatan Limpapeh pengunjung juga melihat sepertiga bagian atas dari Jam Gadang Bukittinggi dan beberapa bangunan beratap gonjong lainnya, serta rumah-rumah penduduk, yang karena padatnya menjadi tampak seperti hutan-hutan beton gersang dengan menyisakan sedikit hijau pepohonan. Gunung Singgalang berwarna biru hijau di kejauhan juga merupakan panorama yang bisa dinikmati para pejalan dari atas jembatan.

Jembatan Limpapeh Bukittinggi

Alamat: Jl. Ahmad Yani Bukittinggi, Sumatera Barat. Lokasi GPS: -0.30082, 100.36864, Waze. Diakses melalui Benteng Fort de Kock atau Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.

Galeri Foto Jembatan Limpapeh

Ornamen berwarna kuning hijau pada dinding bangunan tengah Jembatan Limpapeh, dengan salah satu pucuk atapnya tampak miring, barangkali karena terpaan angin kencang.

jembatan limpapeh bukittinggi

Entah sampai kapan kabel-kabel telepon dan listrik yang sangat mengganggu pemandangan di sekitar Jembatan Limpapeh ini bisa dibenamkan ke dalam tanah, sehingga terlihat lebih rapi dan enak dipandang mata.

jembatan limpapeh bukittinggi

Bangunan beton Jembatan Limpapeh dengan ornamennya yang khas ketika dilihat dari bawah jembatan.

jembatan limpapeh bukittinggi

Sudut pandang sedikit berbeda dari foto sebelumnya yang memperlihatkan rel-rel penyangga jembatan serta ornamen dan atap berbentu tanduknya.

jembatan limpapeh bukittinggi

Bantalan yang diinjak pejalan di Jembatan Limpapeh sebelumnya terbuat dari balok kayu, namun kemudian diganti dengan penyangga yang terbuat dari pelat-pelat alumunium sehingga lebih kokoh dan lebih awet.

jembatan limpapeh bukittinggi

Atap gonjong yang berada di pintu masuk Jembatan Limpapeh terlihat dari arah Benteng Fort de Kock. Papan keterangan proyek seharusnya dipasang ditempat lain, sehingga tidak mengganggu pemandangan

jembatan limpapeh bukittinggi

Bentangan Jembatan Limpapeh yang memiliki panjang 90 meter dan lebar 3,8 meter, dengan kawat-kawat baja yang memegangi batang jembatan, serta pelat-pelat alumunium pada permukaan jembatan yang masih terlihat baru dan rapi. Berjalan melewati Jembatan Limpapeh ini sangat nyaman dengan sedikit getaran dan ayunan yang menyenangkan.

jembatan limpapeh bukittinggi

Jam Gadang Bukittinggi dan beberapa bangunan beratap gonjong, serta rumah-rumah penduduk yang bisa dilihat dari atas Jembatan Limpapeh, tampak seperti hutan-hutan beton gersang dengan menyisakan sedikit hijau pepohonan.

jembatan limpapeh bukittinggi

Jam Gadang di ujung kiri, hotel the Hills di ujung jalan, serta Gunung Singgalang berwarna biru hijau di kejauhan; panorama yang bisa dinikmati para pejalan dari atas Jembatan Limpapeh.

jembatan limpapeh bukittinggi

Sebuah bangunan besar bercorak Minangkabau berdiri di atas sebuah bukit yang dilihat dari atas Jembatan Limpapeh. Lahan persawahan di bagian lembah tampak seperti terkepung rapat oleh perumahan penduduk, menyisakan sangat sedikit ruang yang terbuka.

jembatan limpapeh bukittinggi

Pandangan lainnya pada bangunan Jembatan Limpapeh yang menggunakan bentuk gonjong khas bangunan Minangkabau. Pada suatu saat ini mungkin diperlukan penggantian struktur jembatan menjadi sepenuhnya jembatan gantung yang ditopang kabel-kabel baja tanpa tiang di bawahnya, yang memungkinkan pelebaran jalan untuk digunakan khusus bagi jalur bus atau trem.

jembatan limpapeh bukittinggi

Sudut pandang berikutnya pada bentang sebelah kanan Jembatan Limpapeh, yang meski sudah ada kabel baja di bagian atasnya namun saat itu masih memerlukan struktur penyangga di bagian tengahnya, yang tentu saja sangat membatasi kapasitas jalan di bawahnya.

jembatan limpapeh bukittinggi

Sudut pandang yang memperlihatkan struktur bangunan yang ada di tengah jembatan. Ketika Bukittinggi sudah menjadi kota makmur karena lebih terbuka bagi penanaman modal dari luar daerah, boleh jadi pijakan kaki pada jembatan ini akan diganti dengan bahan yang lebih eksotis, dari kaca tebal misalnya.

jembatan limpapeh bukittinggi

Pandangan melintang pada struktur Jembatan Limpapeh yang memperlihatkan komponen penyusun jembatan yang beraneka rupa.

jembatan limpapeh bukittinggi

Atap gonjong kecil berbentuk tanduk runcing di ujung atasnya dipasang pada tiga titik di bagian tengah, dan satu titik di bagian puncaknya. Di puncak itu batang tusuk satenya entah terkena apa sehingga miring dan nyaris patah. Mudah-mudahan saat ini sudah diperbaiki.

jembatan limpapeh bukittinggi

Pandangan pada sisi sebelah kiri Jembatan Limpapeh yang mengarah ke Fort de Kock. Kota seperti Bukittinggi ini sudah memerlukan penataan ulang secara menyeluruh pada infrastruktur penunjang, pengelompokan perumahan dan area bisnisnya, serta sistem transportasi kota dan antar kotanya.

jembatan limpapeh bukittinggi

Pandangan tegak pada bagian tengah Jembatan Limpapeh, yang jika tiang penopangnya dihilangkan akan menjadikan jalan di bawahnya menjadi sangat lega dan bisa dimanfaatkan bagi jalur angkutan massal kota.

jembatan limpapeh bukittinggi

Kondisi Jembatan Limpapeh pada waktu itu masih sangat baik, dan jika perawatannya dilakukan secara konsisten dan benar maka umur jembatan ini bisa cukup panjang hingga pada waktunya nanti Kota Bukittinggi cukup makmur untuk menggantinya dengan jembatan baru yang jauh lebih baik.

jembatan limpapeh bukittinggi

Info Bukittinggi

Peta Wisata Buittinggi, Tempat Wisata di Bukittinggi, Hotel di Bukittinggi

: Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Follow aroengBinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.

Refresh, ctrl-r (Windows) atau command-r (Mac) jika link tak bisa diklik.

Loading comments…