Jokowi, Percikan, Politik

Jokowi dan Sistem Antrian Lapangan

Salah satu pembenahan yang dilakukan Joko "Jokowi" Widodo selaku Gubernur DKI Jakarta adalah memperbaiki pelayanan masyarakat, baik di tingkat kelurahan, kecamatan, puskemas, maupun di kantor-kantor lainnya di lingkungan Pemprov DKI. Hasilnya sudah mulai bisa dirasakan warga.

Sistem antrian di tempat itu tentu mendapat perhatian dan diperbaiki. Ini tidak sulit dilakukan lantaran orang tidak datang sekaligus dalam jumlah banyak, skalanya tidak besar. Hanya perlu nomor antrian yang dikeluarkan oleh sebuah mesin yang dijaga seorang Satpol PP.

Antrian yang sering kacau balau, dan tidak jarang menimbulkan korban luka, bahkan jiwa, adalah antrian pembagian bantuan saat terjadi musibah, dan antrian pembagian zakat, terutama jika penerimanya adalah orang miskin, dan jumlah kerumunan orangnya relatif besar.

Seja awal menjabat sampai berbulan kemudian, lantaran bencana banjir dan petaka lainnya, Jokowi cukup sering terlihat membagi-bagikan bantuan, biasanya berupa sembako, dan perlengkapan sekolah. Sayangnya, saya belum melihat adanya perencanaan sistem antrian di lokasi, sehingga apa yang terjadi adalah orang-orang cenderung saling desak, bukan hanya terjadi pada orang dewasa tetapi juga pada anak-anak.

Meskipun tidak sampai menimbulkan korban jiwa atau pun luka-luka, sebagaimana terjadi pada pembagian zakat di banyak kota, namun melihat pemandangan seperti itu pada kegiatan keseharian Jokowi sungguh sangat tidak mengenakkan hati.

Untuk berubah, orang perlu melihat contoh. Dan lantaran Jokowi dipercaya maka saya kira ia orang yang tepat untuk menjadi peran model dalam mempromosikan bagaimana menjalankan sistem antrian lapangan yang baik. Sasarannya adalah agar para penerima bantuan bisa terjaga kenyamanan dan martabatnya ketika mengantri, mencegah timbulnya korban sia-sia, dan pemberi bantuan pun bisa melakukan pembagian dengan baik.

Pertama kali melihat sistem antrian lapangan yang sangat baik adalah di Tokyo Disneyland di sekitar pertengahan tahun 1990-an. Hari itu Sabtu, dan saya ditemani sekretaris salah satu direktur perusahaan dimana saya bekerja saat itu.

Setelah memasuki area Tokyo Disneyland, beberapa orang anak muda tampak mengatur antrian pengunjung di tempat-tempat permainan dengan memindah-mindahkan tali yang kedua ujungnya diselipkan pada tonggak-tonggak yang bisa dipindah-pindahkan, disesuaikan dengan jumlah pengantri yang datang. Belakangan saya ketahui kalau tali-tali itu adalah sistem rope and poles atau barrier rope systems.

Sistem yang sama saya lihat juga digunakan di tempat lain, seperti misalnya Bandara Changi Singapura saat mengantri taksi setelah keluar dari kotak imigrasi. Sistem ini kini telah digunakan juga di banyak tempat di Jakarta dan kota-kota lainnya.

Jokowi berkeinginan untuk membangun brand Jakarta. Satu hal yang patut didukung, dan saya yakin ia akan berhasil melakukannya. Nah, lantaran berita dan video tentang Jokowi banyak sekali ditonton orang, baik itu di akun Youtube Pemprov DKI maupun di akun-akun lain yang merekam siaran berita TV swasta tentang kegiatan Jokowi, maka pemakaian sistem antrian semacam itu ketika ia blusukan akan sangat membantunya dalam membangun image tentang Jakarta. Setidaknya sebagai sebuah kota yang penduduknya sudah bisa antri dengan baik dan bermartabat, sekalipun mereka itu adalah orang miskin.

Jika itu berhasil ia lakukan, daerah-daerah lain pun akan ikut tergerak melakukannya. Lebih lanjut, untuk mencegah timbulnya korban jiwa lagi pada pemberian bantuan dan amal, maka perlu diterbitkan peraturan daerah yang mewajibkan pemberi zakat memakai sistem antrian seperti barrier rope systems ini, dengan sangsi penjara atau denda bagi yang tidak mengikutinya.

Hal lain yang penting juga diperhatikan adalah agar pemberi bantuan sesegera mungkin memberikan bantuan itu. Jangan tunda sampai situasi menjadi tak terkendali karena terlalu lama massa menunggu, dan jumlahnya terlalu banyak. Untuk menghindari kecurangan (antri dua atau tiga kali) maka setiap orang yang telah menerima bantuan harus mencelupkan jarinya ke tinta pemilu yang tahan sedikitnya 24 jam itu.

Jika antrian melibatkan ratusan orang, maka penyelenggara pun harus menyediakan air mineral gelas yang akan membantu meredam kegelisahan pengantri saat lama berdiri menunggu di bawah terik matahari.

Menyelesaikan hal-hal kecil semacam ini yang menyangkut harkat martabat manusia, akan sangat membantu Jokowi dalam membangun kepercayaan diri warga dan masyarakat luas, bahwa Indonesia bisa berubah, ketika mereka diarahkan dan diberi contoh oleh orang yang dipercayainya.

Semoga saya tidak lagi melihat kekacauan antrian saat Jokowi memberi bantuan kepada masyarakat Jakarta. Tidak pula ingin melihat, mendengar, atau membaca jatuhnya korban jiwa ketika ada orang-orang kaya membagikan zakatnya kepada rakyat miskin. Sudah cukuplah mereka miskin, jangan lagi mereka direndahkan lantaran sistem antrian yang buruk.


Bagikan ke:
Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah. Penduduk Jakarta yang sedang tinggal di Cikarang Utara. Traktir BA secangkir kopi. Secangkir saja ya! Oktober 27, 2017.