Dalam Mengejar Kemakmuran

Bambang Aroengbinang. October 29, 2017
Setiap warga negara ingin memiliki negara yang makmur. Sebuah negara yang biayanya murah untuk masuk ke sekolah yang baik, terjangkau untuk semua jenis makanan-barang-rumah, mudah memperoleh pekerjaan, tingkat kriminal rendah, sistem transportasi efisien dan nyaman, tingkat korupsi yang rendah.

Juga sebuah negara yang mudah mencari keadilan, selamat dari banjir atau bencana alam lainnya, mudah mencari tempat untuk menikmati hari dengan diri sendiri atau dengan orang lain, stabil secara politik, kuat dalam kekuatan militer, dan sebagainya. Kita tahu hal seperti itu tidak akan terwujud di era kita.

Mungkin tidak dalam seratus tahun lagi setelah kita lenyap. Sebenarnya sejarah telah mengajarkan pada kita bahwa negara yang makmur secara sempurna akan segera hancur baik oleh kekuatan internal maupun eksternal. Semakin sejahtera suatu negara, semakin dekat nasibnya untuk sampai ke kiamatnya.

Deli, Kahuripan, Kutai, Pajajaran, Majapahit, Mataram, Sriwijaya adalah beberapa kerajaan yang hilang di tempat yang sekarang menjadi Indonesia, dikutuk oleh kemuliaan mereka sendiri. Nasib yang sama dialami Romawi, Macedonia, Persia, Fir'aun Mesir, Aztec, Inca, Babilon, dinasti Cina, kerajaan India dan banyak lainnya.

Mana yang lebih baik, tinggal di negara yang makmur dimana semuanya sempurna atau di negara seperti Indonesia, dimana lebih dari 50% warganya berjuang untuk bertahan hidup dari hari ke hari? Sayangnya kita memiliki sedikit ruang untuk memilih. Bagi yang memiliki cukup keberanian, mereka bisa pindah ke negara lain dan memulai kehidupan baru di sana. Tidak pernah mudah, tapi mereka berani mengambil risiko.

Kita tahu bahwa tidak ada negara yang sempurna, dan bahwa kita perlu menerima dan membayar harga untuk tinggal di sana, apapun itu. Tidak ada yang dimiliki tanpa konsekuensi. Suatu hari orang mungkin perlu pindah ke planet lain untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Negara-negara mengejar kemakmuran dengan berbagai jenis pendekatan, beberapa melalui pengembangan masyarakat dan kegiatan penelitian untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan yang lainnya menggunakan pendekatan kolonialisme dan penindasan baik secara tradisional dan modern. Beberapa menggunakan keduanya.

Mereka yang memiliki otot lebih kuat cenderung mendikte yang lemah, untuk keuntungan mereka sendiri. Hanya sedikit pemimpin dunia yang benar-benar berpikir dan bekerja untuk kemajuan manusia, siapapun dan dimanapun mereka berada.

Dunia tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi tempat yang sempurna untuk semua orang. Orang perlu berjuang untuk mendapatkan kebebasan mereka, untuk mendapatkan keadilan yang dijunjung tinggi, dan untuk mendapatkan hak mereka kembali, dan menjadi tuan atas masa depan mereka sendiri.

Pikiran ini mengingatkan saya pada Ramalan Jayabaya yang terkenal, yang meramalkan datangnya era kacau yang pada akhirnya akan melahirkan Ratu Adil yang kemudian akan membawa negara ini ke kemuliaan dan kemakmurannya.

Inilah baitnya:

Besuk yen wis ana kreta tanpa turangga (Suatu hari saat sudah ada kereta tanpa kuda).
Tanah Jawa kalungan wesi (tanah Jawa dikalungi besi).
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang (Perahu berjalan di tinggi langit)
Kali ilang kedhunge (Sungai kehilangan palungnya).
Pasar ilang kumrandhang (Pasar kehilangan pembelinya).
Hiya iku pertandhane tekane zaman (itulah tanda kedatangan zaman).
Kababare jangka Jayabaya wus amrepeki (Pertanda nubuat Jayabaya sudah dekat).


Ada banyak kondisi lain yang disebutkan dalam nubuat, yang saya pikir banyak darinya benar ada saat ini, tapi saya rasa kita tidak berada dalam kondisi buruk sehingga sudah saatnya tiba untuk Ratu Adil muncul.

Nah, daripada bermimpi untuk datangnya Ratu Adil, akan jauh lebih baik untuk memulai atau terus berkontribusi dengan apa pun yang kita bisa untuk membuat negara menjadi sebuah tempat tinggal yang lebih baik. Kemakmuran dimulai dengan keterlibatan dan kontribusi penduduknya, dan akan selesai dengan keserakahan orang, dan karenanya investasikan sebanyaknya pada orang dan berhati-hatilah dengan mereka. (Terbit pertama kali 17 Juli 2007).
Label : .

Kunjungi juga :

Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok.