Foto Observatorium Bosscha

Tugu Bosscha berangka tahun 1923 dan bertuliskan "KAR Bosscha", singkatan dari Karel Albert Rudolf Bosscha. Tugu ini berada di depan bangunan teleskop Bamberg. Observatorium Bosscha Lembang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda, dengan nama Bosscha Sterrenwacht.



Pandangan dekat ke Tugu Bosscha, memperlihatkan angka tahun 1923 dan tulisan K.A.R. Bosscha, singkatan dari Karel Albert Rudolf Bosscha. Tulisan "Bamberg" pada gedung di belakangnya juga terlihat. Teropong refraktor tunggal Bamberg merupakan salah satu bangunan yang mendapat bantuan dana dari K.A.R. Bosscha, namun pernah terkena bom pada masa perang dan mendatangkan astronom Belanda untuk memperbaikinya. Diameter lensanya 37 cm, titik api 700 cm, dilengkapi fotometer - fotoelektrik tipe DC. Teropong Bamberg berfungsi mengukur skala bintang dan untuk melihat bulan.



Kupel Observatorium Bosscha Lembang yang menjadi landmark Bandung Utara selama lebih dari 85 tahun masih tetap cantik, dimana di dalamnya disimpan teleskop ganda Zeiss 60 cm. Bangunannya dirancang oleh arsitek Bandung terkenal, K. C. P. Wolf Schoemacher. Kubah gedung ini berbobot 56 ton dengan diameter 14,5 m, terbuat dari baja setebal 2 mm.



Pandangan dekat pada Kupel Observatorium Bosscha Lembang yang ikonik. Teleskop Zeiss Besar di dalamnya memiliki diameter 60 cm, panjang fokus hampir 11 m, dengan medan pandang 1,5 derajat atau sekitar 3 kali diameter citra bulan purnama. Teleskop ini dapat mengamati bintang-bintang yang 100.000 kali lebih lemah dari bintang yang dapat dilihat mata telanjang manusia. Sedangkan teleskop pencarinya memiliki diameter 40 cm.



Di dalam Kupel, seorang mahasiswa senior atau asisten dosen Astronomi ITB tengah memberikan penjelasan kepada serombongan pengunjung tentang observatorium dan penggunaan teleskop ganda Zeiss 60 cm.



Pandangan lebih dekat pada bagian bawah teleskop dan civitas academica yang tengah memberi penjelasan kepada pengungung. Teleskop ini merupakan sumbangan dari Karel Albert Rudolf Bosscha, sesuai dengan komitmen yang telah dibuatnya kepada NISV.



Pandangan pada sepotong badan teleskop Zeiss 60 cm. Angka 60 menunjukkan besarnya diameter lensa (ganda), dengan panjang fokus 1080 cm, fokus rasio f/18, dan skala bayangan 18,4"/mm.



Badan teleskop Zeiss lebih ke atas lagi, memperlihatkan lubang pada kubah yang bisa dibuka dan ditutup sesuai keperluan. Kubah gedung dimana teleskop ini berada memiliki bobot sekitar 56 ton, terbuat dari baja setebal 2 mm, dan memiliki diameter 14,5 m.



Bagian puncak teleskop Zeiss yang tampaknya bisa dipanjang pendekkan untuk mencari fokus yang tepat pada benda langit yang tengah diamati. Mulai awal tahun 1990-an, teknologi detektor digital dengan CCD astronomi mulai digunakan di Observatorium Bosscha yang menghasilkan peningkatan pada tingkat sensitifitas pengamatan. Instrumentasi teleskop juga terus dimodernisasi untuk mengikuti perkembangan kemajuan teknologi astronomi.



Poster di dalam gedung kupel Observatorium Bosscha Lembang yang menceritakan tentang sejarah berdirinya observatorium ini. Lembang ternyata dipilih karena kondisi geologinya yang stabil, selain sebagai salah satu observatorium yang mengamati belahan bumi Selatan.



Poster yang menjelaskan posisi koordinat Observatorium Bosscha Lembang sebagai yang terdekat dengan khatulistiwa. Lokasinya yang di perbukitan pada ketinggian 1300 mdpl yang membujur dari Barat ke Timur memberi pandangan bebas ke arah Selatan yang merupakan daerah pengamatan utama bagi observatorium ini.



Poster yang memberi informasi tentang perkembangan Ilmu Astronomi, khususnya di Indonesia, yang meskipun telah lama dikenal namun penelitian secara profesional baru dimulai sejak 1765 oleh Johan Mauritz Mohr yang mendirikan observatorium pribadi di kawasan Jakarta Kota.



Poster yang menceritakan proses pembangunan gedung kubah Observatorium Bosscha yang dimulai pada 1923 dengan arsitek terkenal KCPW Schoemaker, dan selesai setahun kemudian, dilanjutkan dengan perakitan kubah. Perakitan teropong dimulai pada 1928 setelah semua pembangunan dan perakitan kubah serta lantai selesai dikerjakan.



Poster yang menceritakan riwayat aktivitas Observatorium Bosscha (Bosscha Sterrenwacht) yang resmi dimulai pada 1 Januari 1923 dengan direktur utama Dr. J. Voute, meskipun teropong utama belum selesai dirakit. Kegiatan penelitian baru secara intensif dilakukan setelah teropong Zeiss Besar selesai dipasang dan siap beroperasi pada 1928.



Poster yang memberi informasi secara detail mengenai Teropong Cassegrain Goyo, baik dimensi maupun fungsinya.



Poster lainnya yang berisikan informasi tentang Teropong Refraktor Tunggal Bamberg yang memiliki diameter lensa 37 cm, dan titik api 700 cm.



Poster selanjutnya adalah tentang Teropong Schmidt Bima Sakti yang memiliki diameter lensa 71 cm, dan titik api 160 cm.



formasi lainnya adalah mengenai Teropong Zeiss Besar, yang merupakan teropong paling populer dan berada di dalam satu-satunya kubah yang ada di observatorium ini.



Bagian bawah Teropong Ganda Zeiss 60cm ini terlihat tak seberapa rumit, meski demikian tentu tak sembarang orang bisa menggunakannya dengan mudah. Dengan perkembangan pesat teknologi penginderaan jarak jauh, pada waktunya teropong ini akan memasuki persiapan masa pensiun, dan kubah baru perlu dibangun, meski bukan di Lembang karena polusi udara yang semakin parah.



Penampakan lainnya pada bagian atas teropong Zeiss 60 cm. Teleskop terbesar di dunia yang masih beroperasi ada di Yerkes Observatory berdiameter 40 inci (102 cm), dan sudah berumur lebih dari satu abad.



Teropong Ganda Zeiss 60cm yang merupakan teleskop terbesar dan tertua yang ada di Observatorium Bosscha Lembang, berusia lebih dari 86 tahun dan masih berfungsi dengan baik hingga sekarang. Lebih dari 10.000 data pengamatan bintang ganda visual telah diperoleh dengan menggunakan teleskop ini.



Pengunjung ada yang menyimak penjelasan, dan ada pula yang mengambil foto seperti yang saya lakukan. Ada begitu banyak tuas, roda dan kabel di bagian bawah teleskop Zeiss Besar ini. Beruntunglah mereka yang pernah menggunakannya untuk melihat bintang-bintang dan benda langit lainnya di alam raya yang maha luas ini.



Teleskop Zeiss terdiri dari 2 teleskop utama dan 1 teleskop pencari Medan pandang teleskop pencari sekitar 3 kali diameter citra bulan purnama. Teleskop bisa mengamati bintang-bintang yang kurang lebih 100000 kali lebih lemah dari bintang yang dapat dilihat oleh mata telanjang.



Selama puluhan tahun teleskop Zeiss 60 cm ini telah digunakan untuk berbagai penelitian astronomi, diantaranya untuk pengamatan astrometri untuk memperoleh informasi posisi benda langit secara akurat dalam orde sepersepuluh detik busur, terutama untuk memperoleh orbit bintang ganda visual.



Foto ini adalah hasil penggabungan dari tiga frame foto sehingga bisa memperlihatkan suasana saat penjelasan berlangsung dan puncak teleskop, dengan kubah yang sedikit terbuka memberi cahaya yang cukup bagi ruangan ini. Ketika pengamatan bintang dilakukan, ruangan ini gelap gulita, sehingga melihat tangan sendiri pun tidak kelihatan.



Saya sempat masuk ke dalam ruangan multimedia Observatorium Bosscha, ketika sekelompok pelajar tengah berada di dalam dan menyaksikan presentasi slide dan pemutaran film, dipandu oleh sorang mahasiswa Asronomi ITB. Ruang multimedia terletak diantara Tugu Bosscha dan Kupel.



Saat menuju Kupel saya melihat beberapa orang tengah berbincang di depan Gedung Surya, dimana disimpan teropong matahari, sebuah teleskop digital yang terdiri dari 3 buah telekop Coronado dengan 3 filter berbeda, serta teleskop proyeksi citra Matahari yang dibuat sendiri. Gedung ini dirancang oleh Dr. Wijaya Martokusumo dari SAPPK-ITB.



Pandangan lebih dekat pada gedung Surya dimana di depannya terlihat ada tiga orang yang tengah berdiskusi entah tentang apa. Batang pohon besar dengan tunas-tunas bermunculan menjadi pemandangan yang menarik. Di gedung ini terdapat teropong matahari, teleskop digital yang terdiri dari 3 telekop Coronado dengan 3 filter berbeda, dan sebuah teleskop proyeksi citra Matahari yang sepenuhnya dibuat sendiri.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.