Foto Museum Pers Nasional 3

Potongan Diorama III yang menggambarkan beberapa serdadu Jepang baru saja turun dari kapal. Ada pamflet propaganda melayang di atas gedung yang dijatuhkan dari pesawat. Seorang tentara Jepang tengah berpidato dan wartawan memotretnya. Ada pertunjukan tarian. Ada pula penjara, dan suasana percakapan.

Museum Monumen Pers Nasional Solo

Diorama II ini menggambarkan masa VOC kira-kira tahun 1615 pada masa Jurnalistik pribumi awal, jurnalistik bahasa daerah pada 1855, jurnalistik Melayu dan Tionghoa pada 1902. Pieterszoen Coen menerbitkan koran Memories der Nouvelles pada 1615 yang ditulis tangan bagi kepentingan Belanda juga ditujukan bagi kaum terjajah. Koran pertama yang terbit di masa penjajahan Belanda adalah Bataviasche Nouveles pada 7 Agustus 1744. Pada 21 Maret 1855 di Solo diterbitkan Bromantani, surat kabar mingguan berbahasa Jawa oleh Winter, seorang penulis berkebangsaan Belanda, dan didukung oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Museum Monumen Pers Nasional Solo

Diorama IV ini menggambarkan detik-detik proklamasi, orang membaca koran mengikuti berita, perlawanan fisik, mengindikasikan kondisi jurnalistik saat itu untuk mengobarkan semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dibawah pengawasan ketat penjajah para jurnalis harus sembunyi-sembunyi melakukan pekerjaan jurnalistiknya. Pada 9 Februari 1946 lahir Persatuan Wartawan Indonesia.

Museum Monumen Pers Nasional Solo

Beberapa orang pengunjung, kebetulan semuanya wanita, tengah menggunakan fasilitas komputer dan internet gratis di Ruang Multimedia Museum Monumen Pers Nasional. Di ruang ini terdapat 9 PC, scanner, dan printer.

Museum Monumen Pers Nasional Solo

Mesin ketik kuno merk Underwood buatan 1920-1927 yang selalu dipakai Bakrie Soeriaatmadja untuk membuat berbagai tulisan di surat kabar. Peninggalan AA Hamidan berupa radio merk Erres KY 446 buatan Belanda, kacamata, bolpoin, pipa rokok dan dasi yang diserahkan oleh Siti Fauziah, anaknya, pada 18 April 2013.

Museum Monumen Pers Nasional Solo

©2020 aroengBinang