Foto Museum Perjoangan

Koleksi pistol dan senapan mesin di Museum Perjoangan Bogor. Gedung yang ditempati museum ini dibangun pada tahun 1879 oleh seorang pengusaha Belanda bernama Wilhelm Gustaf Wissner.



Salah satu diorama di Museum Perjoangan Bogor menggambarkan pertempuran yang terjadi di wilayah Bojongkokosan pada 9-12 Desember 1945. Pertempuran itu terjadi antara pasukan pejuang Republik Indonesia melawan konvoi tentara sekutu yang akan menangani pemulangan tentara Jepang yang telah menyerah tanpa syarat setelah kalah perang.



Koleksi senapan mesin dan mortir di lantai 2 Museum Joang Bogor yang terlihat masih garang. Di latar belakang sebuah relief besar yang menggambarkan kronologis perjuangan para pahlawan di Bogor dan sekitarnya, dalam kurun waktu antara 1945 sampai 1950.



Koleksi senapan mesin Museum Perjoangan, dengan latar belakang poster Panglima Besar Jenderal Sudirman dan beberapa senjata laras panjang di lemari.



Tampak muka Museum Perjoangan Bogor yang terlihat masih lumayan baik kondisinya. Pada bagian atas pintu masuknya yang menyerupai gapura dengan ornamen keemasan terdapat nama museum serta relief peta Indonesia yang cukup besar.



Sejumlah koleksi Surat Kabar tua dari jaman sebelum kemerdekaan tampak disimpan di lantai 1 Museum Perjoangan. Salah satunya adalah Gelora Rakjat yang memuat kabar dari Bogor dan sekitarnya.



Koran kuno Buitenzorgs Dagblad. Penyimpanan Surat Kabar tua ini nampaknya harus lebih diperhatikan, agar tidak semakin rusak dan hancur dimakan waktu.



Koleksi Oeang Republik Indonesia (ORI) yang beredar pada jaman revolusi fisik antara tahun 1945 – 1950, dalam pecahan Rp.1, Rp.5, dan Rp.25.



Koleksi uang logam jaman kolonial Belanda yang disimpan di Museum Perjoangan Bogor. Ada pula beberapa lembar uang kertas yang semuanya dilekatkan pada lembaran berwarna merah.



Koleksi foto para pejuang dan pahlawan kemerdekaan serta tokoh nasional lainnya. Di tengah adalah foto (Rachmad) Husein Sastranegara, foto Bung Karno dalam beberapa kesempatan, patung dada Jenderal Sudirman di paling atas, R.A. Kosasih, A.E. Kawilarang, dan beberapa foto lainnya.



Di sebuah lemari di Museum Perjoangan Bogor disimpan koleksi sejumlah pakaian seragam Badan Keamanan Rakyat yang digunakan para pejuang pada tahun 1945. Meskipun sudah sangat lama, namun kondisinya masih cukup baik.



Mesin Jahit merk Singer yang digunakan untuk menjahit pakaian seragam BKR pada tahun 1945 juga disimpan di Museum Perjoangan Bogor. Mesin jahit merk ini merupakan mesin jahit yang paling terkenal di Indonesia, dan banyak diantaranya kini telah menjadi pajangan sebagai barang antik.



Lambang Angkatan '45 dan patung kepala Kapten Tubagus Muslihat, seorang pahlawan perjuangan yang tewas pada 25 Desember 1945 ketika melakukan penyerangan ke kantor Polisi di jalan Banten (sekarang jalan Kapten Muslihat) yang saat itu dikuasi oleh tentara Inggris dan pasukan Gurkha.



Pemandangan pada ruangan di lantai satu Museum Perjoangan Bogor. Pilar-pilar kokoh dengan ornamen warna keemasan tampak berjejer memanjang di tengah ruangan. Sebagian koleksi museum di tempatkan pada dinding, dan sebagian lagi diletakkan di tengah ruangan.



Pandanga lebih dekat pada patung sebatas dada dari Kapten Muslihat yang disimpan di lantai satu Museum Perjoangan Bogor.



Pandangan lebih dekat pada relief yang jika dilihat sepintas menyerupai peta, namun sebenarnya menggambarkan kisah perjuangan rakyat Bogor di masa perang kemerdekaan.



Lukisan foto Husen Sastranegara di Museum Perjoangan Bogor. Husein Sastranegara lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 20 Januari 1919 dan meninggal di Yogyakarta dalam usia masih muda, 27 tahun, pada 26 September 1946.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.