Foto Avalokitesvara Serang

Pada gerbang masuk Vihara Avalokitesvara Serang terlihat arca dua ekor naga yang diukir cantik terlihat memamerkan giginya yang tajam seraya berebut mustika penerang dunia, Matahari. Naga dianggap sebagai mahkluk suci yang melambangkan keselamatan, juga pelindung arah timur (musim semi). Papan nama di bawah atap gapura berbunyi "Yayasan Vihara Avalokitevara Banten", dengan gelantungan lampion bulat menghias di sekitarnya.



Seorang pria tampak tengah khusyuk dalam doa di altar Dewi Kwan Im Vihara Avalokitesvara Serang. Bagian ini merupakan bagian utama dari kelenteng dengan jajaran patung para dewa. Di altar ini peziarah itu juga berlutut dengan menempelkan keningnya ke lantai sambil memanjatkan doa agar sang dewi berkenan menurunkan berkahnya.



Sebuah foto yang memperlihatkan beberapa buah alat ritual antik yang ada di Vihara Avalokitesvara Serang. Peralatan ritual yang dipergunakan untuk sembahyang itu dihiasi dengan ukiran halus dan indah menyerupai bentuk kura-kura yang menjadi simbol umur panjang, karena usianya yang bisa mencapai ratusan tahun.



Dewi yang ada di salah satu altar Vihara Avalikitesvara Serang ini mungkin sama dengan dewi Tian Shang Sheng Mu atau Thian Sang Seng Boo, yang biasa disebut pula dengan nama Ma Zu atau Makco. Ia adalah Dewi Laut, penolong para pelaut, serta pelindung etnis Tionghoa di wilayah Selatan dan imigran di Asia Tenggara.



Menggantung di depan altar Vihara Avalokitesvara adalah tambur dengan lambang Yin-Yang di sebelah kiri dan genta di sisi sebelah kanan.



Sebuah hiolo antik dengan detail ukiran elok badan dan kepala naga. Hiolo adalah bokor yang digunakan untuk menancapkan batang hio yang telah dibakar dan telah digunakan sebelumnya untuk berdoa di altar para dewa.



Sujud adalah wujud kerendahan hati di hadapan yang Mahakuasa ketika berdoa, untuk kebaikan diri maupun kebaikan sesama.



Altar utama di Vihara Avalokitesvara yang merupakan tempat pemujaan bagi Dewi Kwan She Im Po Sat, Dewi Welas Asih. Konon setiap orang yang meminta sesuatu kepadanya akan selalu diberi olehnya, namun kapan diberikannya mungkin yang masih menjadi misteri.



Ketua Yayasan Vihara Avalokitesvara Banten tengah khusyuk berdoa di depan sebuah hiolo yang berwarna keemasan. Berdoa memerlukan konsentrasi agar rasa dan pikir bisa terhubung dengan dewa dan penguasa alam semesta, karenanya berdoa yang sulit adalah melakukannya di tengah keramaian.



Salah satu altar pemujaan di Vihara Avalokitesvara Banteng, dengan enam dewa di baris belakang (satu sangat kecil) dan dua dewa di depan yang diapit oleh sepasang singa. Hanya ada huruf Tionghoa pada patung utama yang tak bisa saya ketahui apa artinya.



Rupang Toa Pek Kong di Vihara Avalokitesvara Banten. Nama lain Toa Pek Kong adalah Pak Kung, Hok Tek Ceng Sin, atau Dewa Bumi, tempat para peziarah bersembahyang untuk mendapatkan kelancaran dalam usahanya, agar sawah dan kebunnya subur serta panennya berlimah, banyak rizki, dan keselamatan di dunia. Toa Pek Kong biasa diarak pada perayaan hari besar Tionghoa.



Lilin dan nyala api adalah hal yang tak terpisahkan pada peribadatan di setiap kelenteng, meski pada beberapa kelenteng nyala api sudah diganti dengan nyala lampu listrik. Pemakaian nyala api ini mungkin yang menjadi salah satu sebab banyaknya kebakaran yang terjadi di kelenteng. Lilin dengan tinggi 2 m dan diameter 50 cm harganya bisa mencapai 9 juta rupiah. Lilin-lilin itu juga diberi aroma agar lebih sedap tercium ketika dibakar.



Kim Lo adalah bangunan berbentuk pagoda, biasanya di halaman kelenteng, yang lazim digunakan sebagai tempat untuk membakar kertas sembahyang, untuk persembahan bagi arwah para leluhur.



Lorong dengan lukisan-lukisan indah ini berada di bagian belakang bangunan utama Vihara Avalokitesvara Banten dimana terdapat semacam asrama atau penginapan, serta ada halaman luas dengan pohon rindang dan tempat duduk taman, serta sebuah gazebo yang cukup besar.



Di halaman belakang Vihara Avalokitesvara terdapat halaman luas yang diteduhi pepohonan dimana terdapat bangku-bangku beton serta sebuah gazebo yang berukuran cukup besar.



Joli atau tandu yang biasa diusung pada arak-arak perayaan hari besar Tionghoa, terutama Imlek. Joli ini disimpan di bagian samping belakang Vihara Avalokitesvara Banten.



Salah satu sudut pandang pada bagian depan bangunan Vihara Avalokitesvara dengan Kim Lo di sebelah kiri, dan terlihat sejumlah lukisan klasik Tiongkok pada bagian atas dinding bangunan. Setiap lukisan itu berisikan pesan moral yang sangat dalam.



Rupang atau patung Dewi Kwan She Im Po Sat di Vihara Avalokitesvara Banten. Pada jaman Tionghoa kuno, Kwan She Im Pho Sat disebut Pek Ie Tai Su, Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih. Setelah agama Buddha masuk ke Cina, Dewi Kwan Im dianggap sebagai perwujudan Buddha Avalokitesvara.



Rupang Giok Hong Tay Tee atau Thian Kong Co, dan kadang disebut sebagai Yu Huang Shang Di (Giok Hong Shang Te), yang berarti “Kaisar Pualam”, lambang kesucian. Ia dianggap sebagai pelaksana tertinggi pemerintahan alam semesta, bertahta di kahyangan.



Tak jelas siapa nama ketiga rupang dewa di Vihara Avalokitesvara ini, lantaran tak saya temukan catatan nama-namanya. Ketiga rupang ini ada di bagian bawah dari altar Giok Hong Tay Tie, sehingga boleh jadi yang di tengah adalah rupang dari Giok Hong Tay Tie.


">
Aula serba guna yang berada di sayap kanan bangunan Vihara Avalokitesvara, yang juga digunakan sebagai perpustakaan. Pengunjung bisa membawa pulang buku yang ada di perpustakaan, yang berisi wejangan serta filsafat yang mengajak pada kebaikan.



Di atap Vihara Avalokitesvara Banten terdapat beberapa pasang ular naga yang berhadapan tengah berebut mustika alam. Pada kelenteng lain, arca sepasang naga itu bisa digantikan dengan patung sepasang burung Hong atau burung Phoenix.



Tampak muka secara penuh Vihara Avalokitesvara Banten memperlihatkan keindahan ornamen pada atap bangunan kelenteng. Vihara ini menghadap ke arah Benteng Speelwijk, dipisahkan oleh sebuah sungai yang dangkal.



Pandangan jarak dekat pada gapura Vihara Avalokitesvara yang memperlihatkan ornamen patung naga, lampion, umbul-umbul, serta bendera Merah Putih, lambang kesetiaan pada republik.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.