Baim, Blog Post, Percikan

Baim Hanya Sedang Lelah

Baim Wong, siapa yang tak tahu nama itu tentu sudah lama tinggal di gua, menyepi dari hiruk pikuk sosmed yang penuh madu dan racun. Saya tak kenal Baim Wong, tentu saja, dan karena itu mestinya tak cukup layak untuk menilai sosok yang sedang viral lagi belakangan ini.

Viral oleh karena ia dianggap melecehkan dan merendahkan seorang kakek yang berusaha keras mendapatkan rezeki darinya, karena si kakek tahu, bukan kenal, Baim Wong sebagai sosok yang gemar bagi-bagi rejeki.

Kenal dan tahu memang dua hal yang berbeda. Jika si kakek kenal karakter Baim tentu ia tak akan memaksakan diri membuntuti Baim sekian kilometer dengan motornya yang memberi kesan 'memaksa', atau mengemis, agar Baim membeli dagangannya.

Baim tak suka orang yang meminta dikasihani, begitulah yang saya lihat dari video klarifikasinya. Ia sangat menghargai orang susah yang tak meminta belas kasihan orang, namun memilih berjuang keras untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Cara si kakek dalam kosa kata Baim adalah 'mengemis', bukan berjuang mencari nafkah dengan cara yang 'benar'. Banyak orang menulis bahwa si kakek bukan mengemis tapi jualan, namun tak bisa dibantah bahwa si kakek jualan dengan cara yang berlebihan, kalau tak mau dibilang mengemis rasa kasihan.

Jika berada di pihak si kakek, apa yang dilakukannya tentu adalah perjuangan mencari nafkah yang sangat gigih, oleh sebab ia rela buang waktu dan bensin untuk menguntit Baim sekian kilometer agar dagangannya dibeli, sukur dengan harga jauh lebih tinggi, seperti yang mungkin ia pernah lihat di video-video Baim.

Alih-alih membeli dagangan si kakek, Baim malah secara demonstratif memberi uang kepada beberapa orang yang kebetulan berada di dekat lokasi. Seperti ingin menunjukkan bahwa ia tak bisa dipaksa untuk memberi atau membantu orang. Baim hanya mau membantu orang yang sesuai dengan kriteria yang ia buat sendiri, dan itu adalah haknya.

Namun Baim hanya sedang lelah. Entah lelah apa, sebab hidup selalu naik turun, Cokro Manggilingan, bahkan untuk orang seukuran sultan sekalipun.

Jika tidak, maka setelah ia lampiaskan kejengkelan dan memberi 'pelajaran' pada si kakek bahwa ia tak bisa ditekan, akhirnya ia akan membeli dagangan si kakek seraya 'menasihati' bahwa jualan itu tak mesti dengan cara menjual belas kasihan. Harga diri dan kehormatan perlu dijaga, kecuali kepepet maka memakai muka tembok, kulit badak, dan cara babi ngepet pun bisa dipahami.

Jika saja kejadiannya seperti di atas, maka ceritanya akan berakhir dengan manis. Si kakek mendapat rejeki dan 'nasihat' dari orang yang seumuran cucunya, Baim bisa melampiaskan kelelahannya sambil tetap melakukan kebaikan.

Namun itulah, Baim hanya sedang lelah. Tak terpikir olehnya untuk membuat ending video yang manis. Begitu pun dengan klarifikasinya yang, seingat saya, tak menyinggung bahwa mestinya ia bisa lebih baik dalam menangani situasi seperti itu.

Apa yang terjadi sudah terjadi, dan setiap orang bisa mengambil pelajaran, tanpa perlu menghujat salah satu pihak. Tiap orang punya kelemahannya, dan itu tak mengapa. Tak semua kelemahan menjadi nila yang merusak susu sebelanga.

Satu dua, atau sekain puluh kesalahan yang Baim lakukan, tak merusak atau menghapus total kebaikan yang pernah dan akan ia lakukan kepada orang lain. Jika susu tak bisa lagi menjadi putih setelah tertetesi nila, tentu tidak demikian dengan Baim, dan Anda, dan saya.

Daripada mengutuk atau memboikot Baim, yang sekukunya pun mungkin belum bisa kita tiru dari apa yang telah ia lakukan, akan lebih baik menyemangati Baim untuk belajar dari kesalahannya dan terus melakukan kebaikan dengan caranya sendiri.

Bahwa kemudian ada yang terketuk hatinya untuk menyumbang kepada si kakek, maka itu sudah menjadi jalan rejeki si kakek dan semoga ia bisa memanfaatkannya dengan baik. Namun apakah si kakek juga belajar dari peristiwa ini, atau malah menimpakan seluruh kesalahan kepada Baim dan ikut mengutuknya, maka itu terpulang kepada karakter si kakek sendiri.

Ketika ada yang mewawancarai si kakek dan lalu menyumbang sejumlah besar uang dalam sorotan kamera, dan si kakek pun mendadak jadi seleb dengan dramanya, maka itulah jamaknya dunia medsos. Kalau suka ditonton, kalau nggak suka ya skip saja.

Akhirnya, hanya Gusti Allah yang Mahawenang Mahaadil dan Mahabijak dalam segala persoalan. Tulisan ini apalah, hanya remahan mendoan, tak perlu baper, dan salah-salahnya ya mohon dimaafkan. Akhir tulis, terima kasih telah membaca, sampai bertemu di tulisan nirfaedah berikutnya, Dul.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah yang lahir di Desa Mersi - Purwokerto, dan sekarang tinggal di Jakarta. Diperbarui: Oktober 13, 2021.

Tulis Komentar

Ketik dulu, lalu klik "Masuk ..." atau "Posting".

« Baru©2021 IkutiLama »

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.