Pengalaman Mengganti Kompresor AC Toyota Harrier 2.4 G

November 16, 2020. Blog, Toyota Harrier. Bagikan: Facebook, Twitter, WhatsApp
aroengbinang.com - Pengalaman mengganti kompresor AC Toyota Harrier 2.4 G ini barangkali bisa berguna bagi pemilik mobil dengan merk sama, maupun mungkin juga bagi pemilik mobil lainnya. Bisa dibilang sudah agak lama sebenarnya AC mobil tua Toyota Harrier 2.4 G tahun 2006 ini tidak dingin ketika AC dinyalakan.

Namun karena mobilnya memang sudah sangat jarang digunakan, apalagi selama musim pandemi COVID-19, baru beberapa bulan kemudian saya meminta Pak Dayat untuk membawa mobil ke bengkel AC langganan yang lokasinya ada di sebelah Pasar Otomotif Duren Sawit Jakarta Timur. Seingat saya, ini kali pertama saya ganti kompresor AC sejak pertama kali memakai mobil ini mulai tahun 2007.

Awal masalahnya saya duga karena gegabah mencopot kabel aki mobil, yang dilakukan agar tak repot harus menyalakan mobil setiap beberapa hari. Hanya saja saya sama sekali lupa bahwa untuk mobil dengan sistem elektronik seperti Toyota Harrier ini mencabut kabel aki bisa mendatangkan masalah. Oleh sebab inilah saya duga awal timbulnya gangguan pada AC mobil.

Pengalaman Mengganti Kompresor Toyota Harrier 2.4 G Tak lama kemudian pak Dayat telepon dari bengkel AC, karena lokasinya memang cukup dekat dengan rumah di Buaran. Ia melaporkan bahwa menurut teknisi masalahnya ada di kompresor, oleh sebab freon penuh dan tidak ada kebocoran. Estimasi biaya yang kemudian dikirim ke saya via WA menyebut angka Rp8 jutaan.

Oleh sebab nominalnya lumayan, pak Dayat membawa mobil ke bengkel AC langganan lainnya di Kawasan Industri Pulogadung, namun sayang bengkelnya sudah berubah menjadi bengkel bubut. Pak Dayat lalu membawa mobil ke bengkel AC di Jalan Radin Inten, namun mekaniknya tak membuat diagnosis sebelum dilakukan scanning sistem elektronik yang harus dilakukan di tempat lain. Sedangkan estimasi perbaikan sekitar Rp5 jutaan.

Lantaran pernah punya kesan baik terhadap bengkel resmi Toyota yang lokasinya tak jauh dari perumahan d'Java Residence Jababeka Cikarang, beberapa minggu kemudian Pak Dayat membawa mobil ke bengkel itu untuk tune up, ganti oli dan sekalian scanning elektronik untuk memastikan masalah pada AC mobil.

Sayangnya bengkel itu tak punya scanner untuk model Toyota Harrier tahun 2006, dan menyarankan untuk scan di bengkel resmi Toyota Lippo Cikarang atau di Bekasi Timur. Singkat cerita bengkel resmi Toyota di Lippo Cikarang memberi tahu bahwa tak ada hubungan antara elektronik mobil dengan aki, dan memberi estimasi Rp14 juta untuk perbaikan AC dengan mengganti kompresor.

Lewat telepon saya lalu menghubungi sebuah bengkel AC besar di Jalan Radin Inten Jakarta Timur, dan mendapat estimasi penggantian kompresor sebesar Rp10 jutaan, komplit. Boleh jadi bengkelnya berbeda dengan yang sebelumnya memberi estimasi Rp5 jutaan.

Lantaran untuk sementara waktu sedang tinggal di area sekitaran d'Java Residence di daerah Jababeka Cikarang, saya coba cari bengkel AC yang lokasinya dekat area ini. Ketemulah sebuah bengkel AC yang berada di seberang Alfa Midi dekat gerbang masuk d'Java Residence.

Setelah sempat berbicara via WA dengan mekaniknya yang bernama Nunu, esoknya sekitar jam setengah sembilan pagi saya membawa mobil ke bengkel di seberang Alfa Midi itu. Setelah dicek oleh Nunu, ia yakin bahwa masalahnya ada di dikompresor dan setelah cek harga ia menyebut angka Rp5,9 juta sudah termasuk isi freon dan ongkos kerja.

Karena merasa cukup berkeliling cari info, dan harganya relatif 'pantas', akhirnya saya setujui biaya servis yang diajukan Nunu. Hanya saja rupanya ini merupakan pengalaman pertama bagi Nunu untuk mengganti kompresor Toyota Harrier 2.4 G, dan sempat kesulitan mencopot kompresor mobilnya hingga terpaksa memanggil mekanik senior dari bengkel lain untuk membantunya, walau akhirnya ia bisa melakukannya sendiri.

Namun masalah belum selesai, ternyata kompresor yang dia punya tak bisa dipakai karena beda sistem. Adiknya kemudian membawa stok yang ada di rumahnya yang terlihat persis seperti kompresor yang hendak diganti. Lantaran pengerjaan lama, dan hari sudah sore, saya tinggal mobil di bengkel dan meminta diantar ke rumah jika sudah selesai.

Sekitar jam 7 malam saya telepon Nunu untuk menanyakan apakah perbaikan AC mobil sudah selesai dikerjakan. Namun rupanya ada masalah lain, yaitu setelah dipasang kompresornya ternyata belt-nya kebesaran. Artinya model kompresornya tidak sama. Sempat muncul opsi ganti belt, namun Nunu meminta saudaranya di Jakarta untuk membawa kompresor Toyota Harrier 2.4 G tahun 2006 yang benar.

Akhirnya baru jam 9 malam mobil diantar ke rumah, dengan kondisi kompresor AC sudah terpasang dan AC mobil pun dingin kembali. Komitmen Nunu untuk menyelesaikan pekerjaannya tanpa melihat waktu patut dihargai, sehingga ongkos perbaikan saya bulatkan Rp6 juta tunai, lantaran Nunu tidak punya rekening bank.

Ketika sedang menunggu di bengkel, dari obrolan dengan Nunu saya tahu bahwa ia hanyalah jebolan kelas 2 SD, dan pengalaman servis AC mobil ia peroleh dari kerja magang di bengkel lain. Sewa ruko dimana ia bekerja dibayar secara patungan dengan seorang temannya yang membuka bengkel khusus kaki-kaki di tempat yang sama.

Dengan biaya service AC yang kompetitif, serta komitmen pada kerja yang bagus, tak ada sesal telah membuat mobil saya menjadi kelinci percobaan bagi Nunu. Silahkan simpan nomor WA Nunu di 082311510487 jika suatu saat memerlukannya, atau bisa langsung datang ke bengkelnya.
, Pejalan musiman. Bagikan: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print! Follow aroengbinang!

aroengbinang.com adalah blog tulisan foto perjalanan dan catatan seputar wisata Indonesia, peta wisata, hotel, seni budaya, opini, percik pikir, hiburan, serta tips blogger. Kunjungi sitemap untuk mesin pencarian dan isi blog selengkapnya.
Loading comments…
Balik ke atas ↑