Dongeng Anak : Ayam Jago Yang Berkokok Terlalu Cepat

August 10, 2020. Label:
Dongeng Anak Ayam Jago Yang Berkokok Terlalu Cepat ini masih merupakan adaptasi dari cerita pendek luar negeri karangan Abbie Phillips Walker dengan ilustrasi oleh Rhoda. C. Chase, yang dimuat di laman Gutenberg Project.

Moral dongeng anak dari luar negeri yang aselinya dalam bahasa Inggris ini adalah jangan menjadi anak yang sombong, karena selain tidak disukai oleh teman, kesombongan diri juga akan membuat kita lengah dan tidak mengindahkan peringatan akan datangnya bahaya.

Ayam Jago Yang Berkokok Terlalu Cepat

Seekor Ayam Jago Bulu Merah merasa sudah saatnya untuk menunjukkan kepada itik jantan yang baru saja datang untuk tinggal di kandang peternakan pak tani, bahwa ia adalah ayam jago yang sangat pemberani, sekaligus penguasa kandang.

Jadi ketika bertemu itik jantan itu, ia berkata: "Sepertinya kau telah terlibat dalam banyak perkelahian, dan pasti rumahmu yang lama akan kehilangan perlindungan dan keberadaanmu.

Dongeng Anak Ayam Jago Yang Berkokok Terlalu Cepat

"Tidak," jawab si itik jantan; "Aku tidak pernah berkelahi. Aku tidak bertengkar dengan siapa pun. Aku senang hidup damai dengan semua yang di sekelilingku."

"Oh begitu yah, itu bagus sekali untukmu, mungkin," kata Ayam Jago Bulu Merah; "Tetapi bagiku, ini hal yang berbeda. Aku harus melindungi semua ayam dan anak ayam, dan juga melindungi diriku sendiri. Aku bisa melabrak ayam jantan mana pun yang ada di sekitar tempat ini, dan tidak ada yang berani masuk ke halamanku."

Itik jantan tidak menjawab, karena saat itu ada seekor ayam jago asing yang datang ke halaman kandang, dan Ayam Jago Bulu Merah itu berlari ke arahnya dengan sayap mengepak.

Si Ayam Jago Bulu Merah mematuk si penyusup dan menendangnya dengan kuat hingga si ayam jago asing itu melarikan diri.

"Nah, apa yang kubilang padamu?" kata Ayam Jago Bulu Merah, kembali ke si itik. "Aku petarung terhebat di tempat ini. Aku tidak takut pada apa pun."

"Oh, jangan terlalu mengumbar omong kosong," kata anjing dari rumah di dekat kandang. "Kukira ada beberapa hal yang sangat kau takuti, Tuan Ayam Jago. Kurasa kau akan lari dari Rubah."

"Aku tidak takut pada Rubah," kata Ayam Jago Bulu Merah dengan angkuh. "Aku bisa menakut-nakuti rubah dengan berkokok keras. Majikan kita akan tahu bahwa jika aku membuat suara keras maka dia pasti akan mencari penyebabnya. Oh, aku sangat berani dan bisa menjaga diri sendiri."

Si Ayam Jago merasa sangat berani sehingga mengira bahwa tempat tertinggi di kandang akan menjadi tempat yang baik untuk memamerkan keberaniannya, maka ia pun terbang ke atas dinding dekat gerbang, dan kemudian ke puncak kandang.

Ketika melihat ada seekor babi betina di kandang yang lain, Ayam Jantan Bulu Merah itu berkata. "Nyonya Babi, apakah kau melihat ketika aku melabrak ayam jago lancang yang datang ke halaman kandang kami?"

Babi betina itu mendengus dan berkata ia tidak melihatnya, karena ia tidak bisa melihat dari balik dinding kandang.

"Kau telah melewatkan tontonan yang hebat," kata Ayam Jantan Bulu Merah, sambil meregangkan lehernya dan berjalan mondar-mandir di sepanjang atap kandang. "Aku adalah ayam yang pemberani. Aku tidak akan pernah mengijinkan siapa pun yang bukan penghuni tempat ini untuk datang kemari. Aku baru saja memberi tahu itik tentang kehebatan dan keberanianku".

"Tuan Itik," panggilnya, saat itik dan keluarganya berjalan melewati kandang ayam, "jika kau membutuhkan perlindungan kapan saja, jangan ragu untuk memanggilku."

Ketika melihat ada seekor burung Robin tampak bertengger di atap tidak jauh darinya, dan Ayam Jago Bulu Merah pun terbang ke arahnya. "Pergi," katanya. "Aku sangat galak dan pemberani, dan jika kau sebesar sapi pun aku tetap akan menyerangmu. Aku tidak takut pada apa pun."

Ayam Jantan Bulu Merah terus berjalan mondar-mandir di puncak kandang, sambil berkokok dan berpikir betapa beraninya dia, dan saking sibuknya menyombongkan diri telah membuat ia lengah dan tidak mengindahkan teriakan peringatan yang datang dari para hewan ternak yang ada di halaman di bawahnya.

Sesaat kemudian, seekor elang besar menukik ke arah puncak kandang dan mencengkeram Ayam Jantan Bulu Merah dengan cakarnya yang tajam dan kuat. Namun ketika si elang mulai terbang, terdengar suara tembakan dari sebuah senapan, dan Ayam Jantan Bulu Merah jatuh ke tanah.

Ia pun segera melompat bangun dan menggoyang-goyangkan tubuhnya, dan melihat tepat pada waktunya ketika petani majikannya mengambil tubuh elang yang mati itu.

"Kurasa elang itu tidak akan muncul di sini lagi," katanya masih saja congkak. "Itu pertarungan yang sangat berat, tapi aku menang, meskipun aku sempat jatuh."

"Nah, jika saja kamu bukan ayam yang sombong!" si anjing tertawa "Tapi kau bukan satu-satunya yang melihat bagaimana elang itu terbang membawamu, dan kita semua tahu bahwa jika tuan petani tidak menembaknya, maka kau tidak akan berada di sini lagi untuk berkokok esok pagi."

"Memang tidak," sambung si burung Robin dari atas pepohonan; "Kau bilang betapa beraninya dirimu, dan badan elang itu tidak pun setengah besarnya badan sapi. Kau tidak begitu berani ketika ia mendatangimu. Kau bahkan tidak melakukan apa-apa. Oh, sayang! Sungguh lucu mendengarmu berkokok tentang keberanianmu dan kemudian melihatmu begitu cepat ditangkap oleh elang yang hanya sedikit lebih besar badannya dari badanmu. "

Itik jantan dan seluruh keluarganya mendengarkan, dan babi betina pun menempelkan kepalanya ke dinding untuk ikut mendengarkan. Ayam Jantan Bulu Merah yang malang itu merasa tak pantas lagi untuk berkoar tentang keberaniannya, maka ia pun mengeloyor pergi dengan sisa martabat yang masih ada.

"Dia berkokok terlalu cepat," kata itik.

"Dia terlalu banyak berkokok," kata anjing.
"Dia berkokok terlalu keras," kata burung Robin, "kalau tidak maka tentu dia akan mendengar teriakan peringatan tentang datangnya elang itu."