Google mulai Ungkap Rahasia Fuchsia, OS yang bisa menggantikan Android

Bambang Aroengbinang. May 13, 2019
Proyek Fuchsia Google disebut menjadi misteri selama hampir 3 tahun, setelah kemunculan untuk pertama kalinya tulisan tentang proyek ini di GitHub pada Agustus 2016, tanpa adanya pengumuman atau dokumentasi resmi. Teori pun dengan cepat bermunculan, beberapa diantaranya menyebut bahwa Fuchsia bisa menjadi pengganti Android atau Chrome OS, atau bahkan keduanya.

Teori itu setidaknya didukung oleh fakta bahwa source code Fuchsia memungkinkannya untuk menjadi sistem operasi yang bersifat universal. Itu artinya, Fuchsia bisa berjalan di smartphone, laptop, atau perangkat Internet of Things yang ada di rumah Anda. Belum lama ini dua developer berhasil membuat Fuchsia berjalan di Android Studio Emulator. Namun keberhasilan itu juga memberi gambaran bahwa OS ini masih berada dalam tahap yang sangat awal.

The Verge menulis bahwa pada konferensi pengembang I/O Google minggu lalu, untuk pertama kalinya Senior Vice President Android dan Chrome Hiroshi Lockheimer memberi beberapa informasi langka terkait OS Fuchsia di depan publik, meski masih tetap samar.

google mulai ungkap rahasia os fuchsia
Sejauh ini apa yang publik ketahui tentang Fuchsia adalah bahwa OS ini merupakan proyek open source, mirip AOSP, tetapi dapat menjalankan segala jenis perangkat, dari gadget rumah pintar hingga laptop dan ponsel. Fuchsia dibangun di atas kernel buatan Google yang sama sekali baru yang disebut "zircon" yang sebelumnya dikenal sebagai "magenta," bukan dengan kernel Linux yang merupakan fondasi Android dan Chrome OS.

"Kami sedang melihat pada hal baru tentang suatu sistem operasi bisa seperti apa. Dan saya jadi tahu di luar sana orang menjadi sangat antusias dengan mengatakan, "Oh ini Android baru," atau, "Ini OS Chrome baru," kata Lockheimer. "Fuchsia bukan benar-benar tentang itu. Fuchsia adalah tentang mendorong kecanggihan terkini dalam hal sistem operasi dan hal-hal yang kita pelajari dari Fuchsia yang bisa kita masukkan ke produk lain."

Lockheimer mengatakan bahwa inti dari OS eksperimental ini adalah untuk juga bereksperimen dengan faktor-faktor bentuk yang berbeda, yang bisa jadi petunjuk kemungkinan Fuchsia dirancang untuk berjalan pada perangkat rumah pintar, perangkat yang bisa dipakai, atau bahkan mungkin perangkat augmented reality atau virtual reality. "Anda tahu Android bekerja sangat baik di ponsel dan Anda tahu dalam konteks Chrome OS sebagai runtime untuk aplikasi di sana. Tetapi Fuchsia dapat dioptimalkan untuk faktor bentuk tertentu lainnya juga. Jadi kami bereksperimen."

Perkataan Lockheimer menjadi agak samar pada akhir jawabannya, yang melanjutkan dengan, "Pikirkan tentang perangkat khusus ... saat ini, semua orang menganggap Fuchsia untuk ponsel. Tapi bagaimana kalau itu bisa digunakan untuk hal lain?"

Pada obrolan terpisah yang diadakan di Google I/O, Lockheimer memberikan beberapa detail informasi tambahan, meskipun masih samar juga. "Ini bukan hanya telepon dan PC. Di dunia [Internet of Things], ada peningkatan jumlah perangkat yang membutuhkan sistem operasi dan runtime baru dan sebagainya. Saya pikir ada banyak ruang untuk beberapa sistem operasi dengan kekuatan dan spesialisasi yang berbeda. Fuchsia adalah salah satu dari hal-hal itu, jadi tunggu saja," katanya kepada hadirin.

Seperti kita ketahui, Android adalah sistem operasi berbasis Linux yang dirancang untuk perangkat mobile dengan layar sentuh seperti telepon pintar dan komputer tablet. Android awalnya dikembangkan oleh Android, Inc., dengan dukungan finansial dari Google, yang kemudian membelinya pada tahun 2005. Jadi jika Fuchsia nanti benar-benar ada dan menjadi pembunuh Android, maka benarlah sebuah pameo di dunia marketing bahwa lebih baik membunuh produk sendiri dengan produk baru yang lebih baik, ketimbang dibunuh oleh pesaing.
Label : .
Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman yang senang tempat bersejarah dan panorama elok.