Politisi Kolor Ijo

Bambang Aroengbinang. December 23, 2018
Lur, tujuan utama kebanyakan politisi adalah berkuasa, karena berpikir hanya dg berkuasa mereka bisa mewujudkan misi politiknya. Mestinya, tak memegang kekuasaan pun orang tetap bisa berbuat banyak jika niatnya membangun dan memperbaiki negeri. Jadi pendukung atau oposisi yg baik misalnya.

Namun ketika hasrat berkuasa sudah sedemikian liar menguasai darah daging dan jeroan, maka dalam upaya untuk berkuasa itu ada politisi yang dengan sengaja mematikan nurani, menafikan fakta, dan merasa wajib untuk selalu menyangkal kebaikan dan prestasi lawan politiknya.

Politisi model ini akan merasa sangat bodoh dan seolah melakukan bunuh diri jika memuji keberhasilan kerja lawan politiknya, biar pun sekali saja. Jangankan memuji, diam melihat keberhasilan lawan politiknya pun bisa dianggap membuat tekor diri dan kelompoknya.

Setingkat lebih parah dari politisi model di atas adalah mereka yang selalu membuat pernyataan yang bukan saja tidak secara jujur mengakui keberhasilan kerja lawan politiknya, namun sengaja membuat narasi kontroversial untuk mendegradasi prestasi lawan dan bahkan membuat analisa sesat.

Tingkat terparah dari politisi matinurani itu adalah, maaf, politisi kolor ijo. Jika penjahat pemetik bunga jay hoa cat kolor ijo tega merogol puluhan wanita utk pesugihan, maka politisi kolor ijo dg hati batu tega merogol persatuan dan mengoyak kedamaian negeri untuk berkuasa.

Mereka secara sistematis masif menciptakan gelombang berita bohong, hoaks, fitnah, memanipulasi data dan fakta, menunggangi sentimen SARA, menebar ketakutan yang sering sangat tak masuk akal, untuk menyudutkan lawan politiknya dengan mempertaruhkan apa saja, termasuk persatuan bangsa.

Semua penyesatan itu dilakukan agar publik membenci lawan politik, sebenci-bencinya. Ketika orang sangat benci, semua kebaikan akan terlihat buruk. Semuanya buruk. Coklat jadi tai kucing. Akibatnya orang tidak memilihnya, bukan karena lawan lebih baik, namun karena benci telah merasuk jauh sampai ke, maaf, silitnya. Setan belang pun akan ia pilih, asal bukan yang dibenci.

Taktik ini disebut orang kampung sana firehose of falsehood, rakyat dihujani dusta untuk serang lawan politik dan disaat yang sama juga diguyur informasi palsu dan analisa sesat tentang kondisi ekonomi dan negara, tentang kebijakan dan kinerja lawan politik dll, yang penyebarannya dilakukan sangat cepat dan masif.

Agar gelombang berita bohong, hoaks dan fitnah itu mulus menyebar tanpa halangan, politisi kolor ijo dengan secara sengaja dan terus menerus berupaya mendegradasi media mainstream yang justru menulis fakta sebenarnya, agar orang tidak mau membaca atau melihat fakta, sehingga berita bohong aman mengeram di kepala rakyat malang yang terpapar.

Semakin orang tidak percaya kepada media mainstream, termasuk kepada tokoh panutan yang berseberangan pilihan politiknya dengan mereka, akan semakin baik penetrasi hoaks dan fitnah yang mereka buat, dan mimpi berkuasa si politisi kolor ijo akan semakin terbuka.

Jangan remehkan jika melihat ada upaya sistematis massif untuk mendegradasi kepercayaan masyarakat kepada media mainstream dan tokoh yg masih setia berpegang pada fakta dan berpihak pada kebenaran, bukan pada kelompok penyebar hoaks. Semoga saja negeri ini terbebas upaya jahap seperti itu.

Setiap politisi mestinya meletakkan kepentingan rakyat banyak dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Jujur, kstaria, berani mengakui prestasi dan kinerja lawan politiknya, mengkritik keras untuk perbaikan, mau bekerjasama demi bangsa dan negara, menawarkan program dan kebijakan alternatif dalam membangun dan memajukan bangsa.

Politisi kolor putih, sebut saja begitu, adalah mereka yang mengutamakan persatuan dan kesatuan rakyat serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di atas segalanya. Mereka membuang jauh-jauh cara-cara kotor yang bisa memecah belah rakyat dengan tidak menyebar fitnah, tidak memakai isu sara, tidak menciptakan kebencian serta permusuhan, dan selalu berusaha memperkokoh kebangsaan.

Kita berharap cara-cara buruk politisi matinurani kolor ijo yang melemahkan sendi-sendi berkebangsaan dan bernegara itu tak pernah ada di negeri ini. Adalah jauh lebih mulia menang dan kalah terhormat, ketimbang selamanya bakal dikenal sebagai pengkhianat pemecah belah bangsa.

Namun jika ada, semoga mereka lekas tobat dan segera membuang jauh-jauh cara-cara kolor ijo untuk berkuasa. Persatuan dan kedamaian negeri ini jauh lebih berharga ketimbang kekuasaan yang diraih di atas kerusakan dan keruntuhan pondasi dalam berbangsa dan bernegara.

Lur, jika semasa hidupmu ada politisi matinurani kolor ijo, jangan pilih. Sayangi negerimu yang kaya akan ragam suku, seni, budaya nan elok berlimpah kekayaan alam ini. Jangan pernah mengkhianati negerimu. Satu lagi, jangan pula pernah memilih politisi tanpa kolor, bahaya! Karena, sekali lagi maaf, ia gila, lantaran tak punya rasa malu untuk berkata dan berbuat apa saja.
Label : .
Lahir dan sejak kelas 2 SD hingga lulus SMA tinggal di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah; pernah tinggal di rumah Camat Purwonegoro, rumah Camat Klampok, dan rumah Wedana Jatinom, Klaten; S1 di ITB Bandung dan S2 di IPMI Jakarta; sejak 1985 hingga sekarang tinggal di Jakarta. Pejalan musiman (jalannya musim2an, seringnya nggak). Senang mengunjungi kubur dan tempat bersejarah dan menikmati panorama elok.