Bali, Kamasan, Klungkung, Lukisan, Taman, Taman Air

Taman Gili Kerta Gosa Klungkung Bali

Lokasi Taman Gili Kerta Gosa Klungkung berada tepat berseberangan dengan Pasar Klungkung serta Monumen Puputan Klungkung, Semarapura, Bali. Setelah membayar tiket masuk kami pun berjalan arah ke kanan mendekati Bale Kerta Gosa pada pojokan kompleks Taman Gili Kerta Gosa.

Sudah lama mendengar nama Kerta Gosa dari judul sebuah lagu Konser Rakyat Leo Kristi "Nikah Lari Kerta Gosa", tanpa tahu apa sesungguhnya Kerta Gosa itu, meskipun boleh dibilang pernah sering membawakan lagunya ketika berlatih bermain bas.

Ketika beberapa bulan lalu seorang kenalan memasang foto Kerta Gosa di laman Facebook, barulah saya tergerak untuk mencari informasi lebih lanjut tentang Kerta Gosa ini. Niat untuk suatu ketika mengunjunginya pun terbit saat itu juga.

taman gili kerta gosa klungkung bali

Taman Gili Kerta Gosa terdiri dari bale Kerta Gosa (tampak pada foto), terletak di pojokan kompleks, dan Bale Kambang yang letaknya seperti mengambang di atas kolam Taman Gili. Pada latar belakang adalah Monumen Puputan Klungkung. Pada bagian bawah Bale Kerta Gosa terdapat relief kuda yang menarik. Beberapa orang turis dengan pemandu wisatanya tengah berada dalam Bale Kerta Gosa ketika kami tiba.

Bangunan Taman Gili Kerta Gosa memiliki dua lantai dengan undakan menuju bale. Atap bangunan Kerta Gosa dibuat dari anyaman ijuk, dengan patung dan hiasan relief flora fauna mengelilingi bagian bawah bale. Taman Gili Kerta Gosa didirikan sekitar tahun 1686, semasa pemerintahan Dewa Agung Jambe, Raja Klungkung pertama. Ia adalah putera ke-2 Dalem Dimade, raja terakhir Kerajaan Gelgel (Suwecapura). Dewa Agung Jambe membuat istana Semarapura (tempat cinta dan keindahan), dimana Kerta Gosa berada.

Pada langit-langit bagian bawah Bale Kerta Gosa terdapat lukisan sangat indah bergaya khas wayang kuno dari Desa Kamasan. Deretan paling bawah merupakan penggambaran kisah berasal dari ceritera Tantri (kisah kehidupan binatang), deret kedua adalah penggambaran cerita Bima Swarga dalam Swargarakanaparwa, sedangkan deret ketiga dari cerita Bagawan Kasyapa.

Lukisan Taman Gili Kerta Gosa itu sebelumnya dibuat pada kain dan parba, lalu sejak 1930 direstorasi pada eternit sesuai dengan gambar aslinya. Restorasi lukisan Kerta Gosa dilakukan lagi pada 1960, lalu ada perbaikan lukisan pada 1981, dan terakhir pada 2009 dilakukan lagi restorasi dengan dukungan pemerintah Italia, PemDa Klungkung, Bali Purnati Foundation serta Italian Institute of Culture.

Pada sisi lain langit-langit bagian atas Bale Kerta Gosa ada enam deret lukisan Kamasan, dengan deret keempat diambil dari Lontar Palalindon, tanda-tanda dan makna mitologis gempa bumi, deret kelima kelanjutan kisah Bima Swarga.

Bima Swarga berkisah tentang bakti Werkudara (Bima) kepada ibu bapanya. Werkudara terpaksa mengaduk-aduk neraka, mengeluarkan semua ruah, untuk mengeluarkan ruh Pandu, ayahnya, yang berada di dasarnya, padahal Werkudara hanya diperkenankan mengeluarkan tiga ruh. Bima berkilah bahwa ia hanya mengeluarkan ruh pria, wanita, dan banci.

Nakula lalu menipu Werkudara menyembah tulang-tulang Pandu, sehingga Pandu hidup kembali namun bisu. Kunti, ibunya, kemudian meminta Werkudara mengambil air suci untuk menyucikan Pandu. Air itu berada di tempat duduk Siwa, dijaga Dewata Nawa Sanga penguasa setiap penjuru mata angin (Wisnu di Utara, Sambhu Timur Laut, Iswara Timur, Maheswara Tenggara, Brahma Selatan, Ludra Barat Daya, Mahadewa Barat, Sangkara Barat Laut, Siwa Tengah), dikelilingi ular, hantu kepala, hantu perut, dan pintunya roda berputar.

Kewalahan menghadapi Bima, para dewa pun meminta bantuan Batara Bayu, ayah Bima sesungguhnya, karena Pandu tidak bisa memberi keturunan akibat kutukan Resi Kimindana oleh sebab mengganggu orang tengah bermesraan. Bima tidak melawan, bahkan memberikan gada sakti pemberian Kalamaya kepada Batara Bayu. Bima pun dipukul mati, namun dihidupkan kembali oleh Nawaruci, demikian terjadi berulang-ulang hingga muncul Siwatma. Akhirnya Nawaruci memperkenankan Bima mengambil air suci untuk menyucikan Pandu, sesuai permintaan Kunti, ibunya.

Lukisan deret keenam berbatasan puncak kerucut langit-langit Bale Kerta Gosa, merupakan penggambaran kehidupan Nirwana. Lukisan di Bale Kerta Gosa ini seluruhnya berjumlah 144 fragmen.

taman gili kerta gosa klungkung bali

Bale Kambang Taman Gili Kerta Gosa berada di atas kolam Taman Gili dan terlihat masih cantik, meskipun air kolamnya telah berwarna kehijauan. Jika saja air Taman Gili dirawat layaknya kolam renang komersial tentu akan terlihat cantik.

Ada lintasan untuk menyeberang Taman Gili menuju Bale Kambang Taman Gili Kerta Gosa, diapit tembok rendah terbuat dari bata merah, dengan deretan patung-patung indah berbagai bentuk serta ukuran, menyajikan pemandangan mempesona.

Berada di ujung sisi barat Kerta Gosa terdapat Pemedal Agung Taman Gili Kerta Gosa, salah satu peninggalan tersisa dari Puri Semarapura sebagai penopang kekuasaan pemegang tahta selama lebih dari 200 tahun. Bangunan utama Puri Semarapura sendiri telah dihancurkan Belanda dan menjadi permukiman.

taman gili kerta gosa klungkung bali

Lukisan Kamasan di langit-langit atap Bale Kambang berasal dari cerita Kakawin Ramayana dan Sutasoma, yang memberi petunjuk bahwa Bale Kambang merupakan tempat upacara Manusa Yadnya, yaitu ritual potong gigi putera-puteri Raja Klungkung.

Fragmen Sutasoma bercerita tentang berbagai rintangan yang harus dihadapi Sutasoma dalam perjalanannya dari Kerajaan Astina menuju Gunung Mahameru. Semua cobaan berat itu bisa diatasinya dengan kekuatan keteguhan batinnya. Setengah bait Kakawin Sutasoma ini digunakan pada lambang negara Garuda Pancasila, yaitu kata-kata "Bhinneka Tunggal Ika".

Kakawin Sutasoma digubah oleh Mpu Tantular pada jaman keemasan Majapahit, ketika Raja Hayam Wuruk bertahta. Meskipun tidak diketahui secara pasti kapan karya sastra ini digubah, namun diperkirakan ditulis antara tahun 1365 - 1389.



Akhir April 1908 tentara kolonial Belanda melakukan penyerbuan besar-besaran selama tiga hari ke Kerajaan Klungkung, sehingga Puri Semarapura pun hancur, bersama dengan gugurnya Dewa Agung Putra Djambe beserta para pengikutnya (Puputan Klungkung, 28 April 1908), menyisakan Kerta Gosa, Taman Gili dan pintu gerbang puri (Pemedal Agung).

Tampaknya Taman Gili Kerta Gosa merupakan puncak kepuasan kunjungan batin selama berada di Bali beberapa waktu lalu. Sebagian karena romansa lagu Konser Rakyat Leo Kristi itu, sebagian lagi karena muatan sejarahnya, keunikan lukisan gaya wayang Kamasan-nya serta kisah-kisah menariknya yang digambarkannya.


Taman Gili Kerta Gosa Klungkung

Alamat : Semarapura, Klungkung, Bali. Lokasi GPS : -8.53569, 115.40352, Waze. Tempat Wisata di Klungkung, Hotel di Bali, Peta Wisata Bali, Tempat Wisata di Bali.


Bagikan ke:
Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah. Penduduk Jakarta yang sedang tinggal di Cikarang Utara. Traktir BA secangkir kopi. Secangkir saja ya! September 09, 2020.