Pura Taman Sari Klungkung Bali

February 02, 2019. Label:
Tidak begitu mudah untuk menemukan lokasi Pura Taman Sari Klungkung, sebuah pura tua dalam wilayah kabupaten Klungkung, Bali. Sebagian dikarenakan Pura Taman Sari belum begitu populer, sehingga supir pun harus beberapa kali bertanya arah, juga karena lokasinya berada agak jauh dari tepian jalan.

Di tepi jalan pun tidak pula terlihat ada tengara bagi pejalan, sehingga saya sempat ragu untuk berjalan masuk ke dalam karena terlihat seperti sebuah kebun. Namun setelah masuk lebih jauh lagi, terlihatlah dua buah meru tumpang yang tinggi. Salah memilih jalan masuk, membuat saya harus meloncati tembok untuk masuk ke dalam area Pura Taman Sari. Namun tampaknya sudah banyak orang menggunakan cara itu sebelum saya, karena bekas-bekasnya masih terlihat jelas.

Di Pura Taman Sari inilah I Dewa Agung Istri Kanya memerintahkan aksi penyergapan terhadap tentara Belanda pada dinihari 25 Mei 1849 di Puri Kusamba, dengan membawa senjata pusaka bernama I Seliksik. Pemimpin pasukan Belanda, Jenderal Michels, tewas dalam serangan itu. Puri Kusumba bisa direbut, meskipun hanya berlangsung beberapa waktu.

pura taman sari klungkung

Penampakan Pura Taman Sari dengan sepasang meru tumpang diambil dari balik tembok, sesaat sebelum meloncatinya... Sebelah kanan adalah meru tumpang sembilan, sedangkan sebelahnya merupakan meru tumpang sebelas, berhadapan dengan sebuah bale.

Meru juga melambangkan Gunung Mahameru, stana para Dewata, tempat Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga meru menjadi pelinggih, tempat pemujaan kepada para Dewa. Selagi memutar kepala melihat berkeliling saya melihat ada sebuah pohon beringin besar menaungi bagian samping pura. Dalam Pura Taman Sari sendiri meskipun tidak ada pohon peneduh sehingga sengat matahari cukup terasa, namun ada sebuah bale berukuran cukup besar.

Pura Taman Sari konon digunakan sebagai tempat menyimpan pusaka kebesaran Majapahit yang diberikan kepada Dinasti Kepakisan sebagai penguasa Bali mewakili Raja Majapahit. Pusaka itu dirampas Belanda dalam perang Puputan Klungkung.

pura taman sari klungkung

Bagian bawah dari Meru Tumpang 9, yang merupakan perlambang delapan huruf di seluruh penjuru mata angin (sa, ba, ta, a, na, ma, si, wa) ditambah huruf Omkara (huruf suci Sanghyang Widi Wasa) di tengah, kesemuanya melambangkan Dewata Nawa Sanga (Wisnu, Sambhu, Iswara, Maheswara, Brahma, Ludra, Mahadewa, Sangkara, Siwa).

Selain meru tumpang 9 dan 11, pada beberapa pura ada pula meru tumpang satu, dua, tiga, lima, tujuh. Sedangkan meru tumpang 21 biasanya hanya dijumpai pada bade dalam upacara ngaben.

Tidak terlihat ada ornamen istimewa pada meru tumpang sembilan di Pura Taman Sari, tidak pula ada pada kolam mengelilinginya. Keistimewaannya ada pada struktur bangunan tahan gempanya serta makna meru-nya.

Dalam Lontar Andha Bhuwana disebutkan tentang arti meru, yaitu:
"Matang nyan meru mateges, me, ngaran meme, ngaran ibu, ngaran pradana tattwa; muah ru, ngaran guru, ngaran bapa, ngaran purusa tattwa, panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak. Meru ngaran pratiwimbha andha bhuana tumpangnya pawakan patalaning bhuana agung alit".

"Oleh karena meru berasal dari kata me, berarti meme, berarti ibu, berarti pradana tattwa, sedangkan ru berarti guru, berarti bapak, berarti purusa tattwa, sehingga meru berarti cikal bakal leluhur. Meru berarti perlambang alam semesta, tingkatannya melambangkan tingkatan jagad besar jagad cilik".

Pura Taman Sari didirikan pada akhir abad ke-17 ketika terjadi peralihan penguasa Bali keturunan Dinasti Kepakisan dari Gelgel ke Klungkung.

Bagian depan meru tumpang 11 di Pura Taman Sari memiliki ornamen lebih kaya berupa Naga Ananthaboga dan Naga Basuki indah meliliti bagian bawahnya, ada pula kura-kura raksasa depan pintu, beberapa buah arca tua, dikelilingi kolam meskipun airnya kering, serta berseberangan dengan sebuah bale cukup besar.

Meru tumpang sebelas merupakan lambang tingkatan jagad besar - jagad cilik, yaitu Skala (1, alam nyata), Niskala (2, alam tak nyata), Cunya, Taya, Nirbana, Moksa, Suksmataya, Turnyanta, Ghoryanta, Acintyataya, dan Cayen. Meru juga melambangkan 10 huruf suci ditambah huruf suci Omkara.

Sepuluh huruf suci itu adalah sa (Timur, Iswara, putih), ba (Selatan, Brahma, merah), ta (Barat, Mahadewa, kuning), a (Utara, Wisnu, hitam), i (Tengah, Siwa, campuran atau panca warna), na (Tenggara, Mahesora, merah muda), ma (Barat Daya, Ludra, jingga), si (Barat Laut, Sangkara, hijau), wa (Timur Laut, Sambu, biru), ya (Tengah atas, Siwa, panca warna).

Penyu bermoncong api itu disebut Kurmagni atau Bedawang Nala, melambangkan zat api dalam inti bumi. Naga Ananthaboga melambangkan lapisan bumi sebagai sumber sandang, pangan dan papan, sedangkan Naga Basuki sebagai simbol air (air laut merupakan kepalanya, dan sungai-sungai merupakan badan dan ekornya) yang pada Pura Taman Sari ini digantikan dengan kolam melingkari meru.

Dasar kolam Pura Taman Sari memiliki lengkung-lengkung jalan air yang masih terpelihara baik. Alangkah indahnya jika saja suatu ketika terdapat air jernih memenuhi kolam dengan ikan-ikan dewa berenang-renang di dalamnya...

Sayang saya tidak tahu dimana hiasan Padma Anglayang lambang kekuasaan Majapahit di Pura Taman Sari ini. Padma Anglayang adalah salah satu jenis padmasana (tempat bersembahyang dan menaruh sesajian) dengan memakai dasar bhedawangnala, bertingkat tujuh dan di puncaknya terdapat tiga ruang, sebagai niyasa stana Sanghyang Siwa Raditya atau Sanghyang Tripurusa, juga niyasa stana Trimurti.

Pura Taman Sari merupakan harta karun budaya Klungkung yang tampaknya masih belum banyak diketahui pejalan. Dengan perbaikan akses, pemberian papan petunjuk jelas, serta adanya prasasti batu di lokasi berisi kisah sejarah dan filosofinya, Pura Taman Sari akan menjadi salah satu daya tarik Klungkung yang besar bagi para pejalan.

Pura Taman Sari Klungkung

Alamat : Banjar Sengguhan, Semarapura, Klungkung, Bali. Lokasi GPS : -8.53241, 115.40751, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Pura Taman Sari

Bagian depan meru tumpang 11 di Pura Taman Sari, dengan ornamen lebih kaya berupa Naga Basuki indah meliliti bagian bawahnya, ada pula kura-kura raksasa depan pintu, beberapa buah arca tua, dikelilingi kolam meskipun airnya kering, serta berseberangan dengan sebuah bale cukup besar.

pura taman sari klungkung

Selagi memutar kepala melihat berkeliling saya melihat ada sebuah pohon beringin besar menaungi bagian samping pura. Dalam Pura Taman Sari sendiri meskipun tidak ada pohon peneduh sehingga sengat matahari cukup terasa, namun ada sebuah bale berukuran cukup besar.

pura taman sari klungkung

Meru Tumpang 9 merupakan perlambang delapan huruf di seluruh penjuru mata angin (sa, ba, ta, a, na, ma, si, wa) ditambah huruf Omkara (huruf suci Sanghyang Widi Wasa) di tengah, kesemuanya melambangkan Dewata Nawa Sanga (Wisnu, Sambhu, Iswara, Maheswara, Brahma, Ludra, Mahadewa, Sangkara, Siwa).

pura taman sari klungkung

Meru Tumpang sebelas dan sebuah bale di depannya. Meru tumpang sebelas merupakan lambang tingkatan jagad besar – jagad cilik, yaitu Skala (1, alam nyata), Niskala (2, alam tak nyata), Cunya, Taya, Nirbana, Moksa, Suksmataya, Turnyanta, Ghoryanta, Acintyataya, dan Cayen. Meru juga melambangkan 10 huruf suci ditambah huruf suci Omkara.

pura taman sari klungkung

Dasar kolam Pura Taman Sari memiliki lengkung-lengkung jalan air yang masih terpelihara baik. Alangkah indahnya jika saja suatu ketika terdapat air jernih memenuhi kolam dengan ikan-ikan dewa berenang-renang di dalamnya…

pura taman sari klungkung

Meru, Naga Anantaboga, Naga Basuki, Kura-Kura, dan kolam melambangkan Kisah Samudramanthana tantang pencarian Tirta Amrta. Dalam Kitab Adiparwa disebutkan bahwa pada jaman Satyayuga, para Dewa dan Raksasa berembug di puncak Gunung Mahameru untuk memperolehn tirta amrta, air suci untuk hidup abadi. Atas petunjuk Wisnu, para dewa dan raksasa pergi ke Kserasagara untuk mengangkat tirta amerta.

pura taman sari klungkung

Meru melambangkan Mandaragiri di Sangka Dwipa (Pulau Sangka) yang dicabut oleh Naga Anantabhoga dan dijatuhkan di Kserasagara sebagai tongkat pengaduk. Mandaragiri disangga oleh Akupa, penyu raksasa jelmaan Wisnu agar tidak tenggelam. Di puncak Mandaragiri duduk Dewa Indra agar gunung tidak melambung saat diputar untuk mengaduk air laut.

pura taman sari klungkung

Naga Basuki membelit Mandaragiri, para Dewa memegang ekornya, dan para raksasa memegang kepalanya. Kserasagara bergolak dahsyat dengan suara bergemuruh. Racun Halahala yang membunuh segala rupa makhluk hidup menyebar saat laut diaduk, namun semuanya diminum Dewa Siwa sehingga lehernya menjadi biru.

pura taman sari klungkung

Kolam di Pura Taman Sari yang menjadi lambang laut tempat Tirta Amrta berada. Ketika laut diaduk bermunculan Sura (dewi pencipta minuman anggur), Apsara (para bidadari kahyangan), Kostuba (permata paling berharga di dunia), Uccaihsrawa (kuda para Dewa), Kalpawreksa (pohon pengabul keinginan), Kamadhenu (sapi pertama), Airawata (kendaraan Dewa Indra), dan Laksmi (Dewi keberuntungan dan kemakmuran), yang semuanya menjadi milik para dewa.

pura taman sari klungkung

Setelah air laut diaduk terus oleh para dewa dan raksasa, akhirnya Dhanwantari keluar dari dalam laut membawa kendi berisi tirta amerta yang diambil para raksasa, karena para dewa telah mendapatkan semua harta karun. Namun para raksasa terpikat Mohini, wanita cantik jelmaan Wisnu, dan menyerahkan tirta amrta kepadanya. Ketika sadar kena tipu, para raksasa marah dan terjadilah pertempuran hebat. Dewa Wisnu akhirnya mengeluarkan cakra yang terbang menyerang membuat para raksasa lari lintang pukang.

pura taman sari klungkung

Info Klungkung

Tempat Wisata di Klungkung, Hotel di Bali, Peta Wisata Bali, Tempat Wisata di Bali.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac. Kembali ke atas ↑