Situs Gedong Tlogopakis Petungkriyono Pekalongan

December 11, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Petunjuk singkat tentang Situs Gedong Tlogopakis Petungkriyono Pekalongan serta perkiraan dimana lokasinya saya peroleh secara tak sengaja. Itu karena tatapan mata tertumbuk pada sebuah peta berisi denah lokasi tempat-tempat menarik di Kecamatan Petungkriyono. Denah itu berada di dekat pos loket penjualan karcis Curug Bajing.

Karena berada di satu desa dengan curug, maka kesempatan itu tak saya sia-siakan. Dari petugas loket saya ketahui bahwa kuncen Situs Gedong Tlogopakis Petungkriyono Pekalongan adalah suami ibu warung yang kami singgahi untuk makan mie rebus. Hanya saja ia sedang pergi.

Tak begitu lama menunggu, si bapak kuncen situs pun datang naik sepeda motornya. Namanya Kisno, masih cukup muda, mungkin akhir 30-an atau awal 40-an. Ia meminta kami berangkat mendahului dan menunggu setelah pertigaan, sementara ia pulang berganti baju sebelum menemani kami berkunjung ke Situs Gedong Tlogopakis Petungkriyono.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Wid di depan jalan masuk ke Situs Gedong yang terbuka, dengan pagar bilah bambu di kiri kanannya. Sebelumnya kami bertemu Kisno yang telah berpakaian rapi di sebuah pertigaan. Di dekat ujung kiri kanan pagar itu ada batu andesit dengan permukaan rata, dan di atas batu tergeletak beberapa buah mata uang logam lima ratusan rupiah.

Kami kemudian menuruni undakan dan lanjut melangkahkan kaki melewati jalan setapak dengan tanah cukup bersih selebar kurang dari satu meter. Jalanan kemudian sedikit menanjak dengan tatanan bebatuan lebar dipasang di jalan setapak dan tembok batu rendah di sisi kanan. Kisno mendahului melangkah beberapa meter di depan kami.

Area yang kami masuki tampaknya adalah merupakan kawasan hutan lindung yang meskipun sudah rajin dijamah oleh tangan manusia namun suasana alamnya masih sangat terasa. Tak ada gubug atau semacam itu di sepanjang jalan setapak yang kami lalui. Entahlah jika masuk lebih jauh lagi kedalamnya.

Batu lumpang peninggalan era megalitikum ini berada di area terbuka di tengah pepohonan hutan, beberapa meter di sebelah kiri jalur jalan setapak Situs Gedong Tlogopakis Petungkriyono Pekalongan. Warga menyebutnya sebagai klenteng. Lumpang itu ditutup batu datar. Airnya selalu ada, dan jika airnya penuh tanda pertanian bakal subur.

Di sekitar batu lumpang itu terdapat sejumlah batu kuno lain, diantaranya batu lumpang yang lebih kecil yang rompal separuh bagian atasnya. Ada pula satu batu cukup besar dengan permukaan datar segi empat seperti Dolmen (meja batu). Ada sisa bakaran dupa di dekat batu lumpang ini, semacam penghormatan bagi penunggu gaibnya, jika ada.

Perjalanan kami lanjutkan kembali, dan beberapa saat kemudian Kisno berbelok lagi untuk memperlihatkan sebuah batu berukuran sangat besar selebar dua meter, panjang hampir empat meter, dan tinggi lebih dari satu meter. Batu itu posisinya mendatar, dan mungkin dahulu digunakan sebagai batu pemujaan atau tempat meletakkan sesajian.

Kami melanjutkan perjalanan lagi dengan menembus lebih dalam ke arah tengah hutan, melintasi sebuah sungai kecil berbatu, dengan air tak kotor namun juga tak jernih. Menanjak melewati jalan yang berbatu yang terjal sampai akhirnya kami bertemu di area utama Situs Gedong.

Wid saya ambil fotonya saat berada di dekat tatanan tak beraturan dari sejumlah batu andesit lebar rata pipih yang susunannya dibentuk menyerupai pusara batu atau entah apa bentuk sebenarnya. Sebuah cangkir porselen terlihat diletakkan di atas batu yang juga digunakan sebagai alas untuk membakar dupa pemujaan. Tempat ini rupanya memang dikeramatkan orang.

Kisno menceritakan bahwa tempat ini dipercaya sebagai Pertapaan Kanjeng Sinuwun Bagus dari Gunung Jati, Cirebon. Orang yang punya keinginan datang ke tempat ini pada Selasa Kliwon. Konon dahulu kala di Telaga Indra hidup sepasang naga Baru Klinting. Ketika si betina hamil, ia mengidam dan meminta si jantan untuk merusak Desa Tlogopakis.

Namun naga jantan berhasil dibunuh oleh Sinuwun Bagus. Naga betima kemudian diusir dan pergi ke arah timur, mampir ke beberapa tempat seperti Nggarung, Candi, dan naik ke Gunung Sigudeg. Akhirnya ia melihat Telaga Mangunan dan merasa cocok, dan di sana ia melahirkan Den Bugel yang lalu tinggal di telaga bawah Gunung Rogojembangan.

Sampai suatu hari Naga Den Bugel bertanya pada ibunya tentang ayahnya, dan dijawab bahwa sang ayah telah dibunuh orang Tlogopakis. Naga Den Bugel pun memendam dendam kepada orang Tlogopakis, namun Kanjeng Bagus mengatakan kepadanya bahwa ia bisa membalas dendam kalau kayu serut yang disebarnya telah mati. Kayu itu hidup sampai sekarang.

Kisah yang mirip dongeng itu tentunya menyimpan pesan orang tua agar masyarakat Tlogopakis di Petungkriyono ini terus memelihara dan menjaga kawasan hutan dengan baik, agar bencana dan malapetaka tidak menimpa penduduknya. Nama Gedong pada situs, menurut Kisno, merujuk pada nama area dimana situs peninggalan megalitikum ini berada.

Situs Gedong Tlogopakis Petungkriyono

Alamat : Desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.

Galeri Foto Situs Gedong Tlogopakis Petungkriyono

Sejumlah mata uang logam lima ratusan rupiah, ada pula dua ratusan, yang diletakkan orang pada permukaan rata sebuah batu di dekat pagar bambu di awal jalan masuk ke situs. Orang hanya bisa mengira apa tujuan orang meletakkan uang itu di sana itu.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Batu lumpang peninggalan era megalitikum ini berada di area terbuka di tengah pepohonan hutan, beberapa meter di sebelah kiri jalur jalan setapak Situs Gedong Tlogopakis Petungkriyono Pekalongan. Warga menyebutnya sebagai klenteng. Lumpang itu ditutup batu datar. Airnya selalu ada, dan jika airnya penuh tanda pertanian bakal subur.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Jalan setapak dengan tanah cukup bersih selebar kurang dari satu meter yang kami lewati setelah menuruni undakan dari pinggir jalan aspal. Adanya tanaman perdu dengan daun coklat merah tua menandai usaha untuk membuat tempat ini terlihat lebih asri.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Wid berada di dekat tatanan tak beraturan dari sejumlah batu andesit lebar rata pipih yang susunannya dibentuk menyerupai pusara batu atau entah apa bentuk sebenarnya. Sebuah cangkir porselen terlihat diletakkan di atas batu yang juga digunakan sebagai alas untuk membakar dupa pemujaan. Tempat ini rupanya memang dikeramatkan orang.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Jalanan yang kami lalui itu kemudian sedikit menanjak dengan tatanan bebatuan lebar dipasang di jalan setapak dan tembok batu rendah di sisi kanan. Kisno terlihat mendahului melangkah beberapa meter di depan kami dengan membawa buku tamu di tangan kanannya.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Batu di sebelah kanan bawah adalah batu datar pipih yang digunakan sebagai penutup batu lumpang. Air pada batu lumpang terlihat hanya berisi separuhnya, sementara di depannya ada batu dengan bekas bakaran dupa pada permukaannya.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Kondisi batu lumpang peninggalan dari jaman megalitikum itu terlihat cukup baik, dengan bagian atasnya lebih terang karena ditutup batu yang sering dibuka tutup. Di kanan belakangnya terlihat batu lumpang berukuran lebih kecil yang telah rompal separuh bagian atasnya.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Kisno tampak tengah memasang kembali batu datar pipih sebagai tutup batu lumpang, sesaat sebelum kami melanjutkan perjalanan untuk masuk lebih dalam ke area Situs Gedong Tlogopakis di Petungkriyono ini.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Jalan menurun dan berbatu yang kami akan lalui sesaat setelah meninggalkan area dimana batu lumpang berada. Meskipun di sini sangat terasa suasana hutan yang jauh dari rumah penduduk, namun dengan adanya kuncen membuat kami merasa nyaman saja.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Batu berukuran sangat besar selebar dua meter, panjang hampir empat meter, dan tinggi lebih dari satu meter. Batu itu posisinya mendatar, dan mungkin dahulu digunakan sebagai batu pemujaan atau tempat meletakkan sesajian.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Wid mengamati permukaan batu raksasa itu, mencoba melihat apakah ada guratan yang menjadi tanda adanya pekerjaan tangan manusia. Namun tak kami temukan ada tanda-tanda itu. Batu itu utuh sebagaimana adanya.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Bagian tepian batu besar memanjang itu, dengan lumut hijau terang tumbuh pada ujung bawah permukaan atasnya. Tak diketahui sedalam apa bagian batu ini yang tertanam di bawah permukaan tanah, namun batu besar itu terlihat sangat stabil berada di tempatnya.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Pandangan yang memperlihatkan jarak batu besar itu dari jalur jalan setapak utama yang ada di dalam kawasan hutan dimana situs Gedong ini berada. Masih akan terlihat jika saja mata cukup awas untuk melihat kiri dan kanan selagi melangkah.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Sungai kecil yang disebut Kali Larangan ini kami seberangi saat menuju ke situs utama di Situs Gedong. Nama Kali Larangan mengandung pesan bahwa orang tidak boleh membuang kotoran apa pun ke sungai kecil ini.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Bagian Kali Larangan yang mengarah ke hilir, yang pada akhirnya sepertinya melewati permukiman penduduk Tlogopakis dan desa lainnya. Entah kenapa warna batuan di sepanjang kali itu kecoklatan. Tentu karena ada kandungan tertentu pada air sungai ini.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Pandangan pada jalanan setapak berbatu sedikit menanjak yang kami lalui selewat Kali Larangan. Meskipun jalanan setapak itu tak rata namun secara umum kondisi jalan setapak dalam hutan ini mudah untuk dilalui oleh kebanyakan orang.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Kisno tampak telah menunggu kami di lokasi utama Situs Gedong yang berupa tumpukan batu-batu rata pipih itu. Tatanan batu yang dilewati oleh Wid sepertinya merupakan bagian dari punden berundak, yang menjadi salah satu ciri tempat pemujaan pada jaman megalitikum.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Kisno berdiri di samping tatanan batu pipih yang memanjang dan kumduian berupa tumpukan tak teratur pada bagian ujungnya. Tempat ini sebenarnya bukan area tertinggi di dalam hutan, sehingga mestinya masih ada peninggalan lain di puncak perbukitan yang ada dalam hutan.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Batang berlubang tampak muncul dari sela batu, mungkin pokok batang kayu yang telah mati. Entah peralatan apa yang digunakan oleh orang jaman dahulu untuk membuat batu rata pipih seperti ini. Pengalaman bisa membuat orang mampu melakukan hal-hal yang menakjubkan.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Perhatikan tebing yang ada di belakang Kisno, yang menjadi petunjuk bahwa tempat terakhir yang ia tunjukkan kepada kami ini kemungkinan bukan merupakan tempat yang utama. Mungkin saja tempat itu belum ditemukan karena tertimbun tanah atau karena sebab lain.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Terlihat di sana ada bekas bakaran dupa yang belum seberapa tinggi, entah karena memang hanya setinggi itu atau bekas bakaran lama telah dibersihkan. Kisno menyebutkan bahwa dahulu ada dua Arca Ganesha dan Siwa di Situs Gedong Tlogopakis ini, namun arca-arca itu dicuri orang pada 1995.

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

situs gedong tlogopakis petungkriyono pekalongan

Info Pekalongan

Hotel di Pekalongan, Tempat Wisata di Pekalongan, Peta Wisata Pekalongan.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.