Situs Ciung Wanara Karangkamulyan

Situs Ciung Wanara Karangkamulyan, terletak di perbatasan Kota Banjar dan Kota Ciamis Jawa Barat, dari depan terlihat tidak ada yang istimewa namun ketika masuk ke dalamnya cukup menakjubkan. Situs yang diyakini sebagai jejak sejarah Kerajaan Galuh yang melalui 3 fase, yaitu Galuh pra sejarah, Galuh Hindu Buddha, dan Galuh Islam, adapun Kerajaan Galuh letaknya antara Sungai Citarum dan Sungai Cipamali. Membaca sejarah, Kerajaan Galuh adalah penerus dari Kerajaan Kendan yaitu bawahan Kerajaan Tarumanagara. Sedangkan arti dari Karangkamulyan adalah tempat yang dimuliakan.

Adapun Ciung Wanara merupakan kisah epos kepahlawanan, Ciung Wanara adalah anak raja yang dibuang dan berjuang untuk mendapatkan kembali haknya yang dilatarbelakangi sejarah Kerajaan Galuh. Ciung Wanara adalah anak dari yang mulia Prabu Adimulya Permanadikusumah yang menjabat sebagai raja Galuh Purba pada sekitar abad ke-7. Sang Prabu memiliki dua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum yang melahirkan Ciung Wanara dan Dewi Pangrenyep yang melahirkan Hariang Banga. Di kemudian masa, Ciung Wanara melahirkan kebudayaan Sunda, sedangkan Hariang Banga melahirkan kebudayaan Jawa.

Hutan Situs Ciung Wanara Karangkamulyan tidak pernah diganggu gugat oleh masyarakat setempat juga oleh pemerintah daerah, hutan ini menjadi sakral dan tetap menjadi kawasan hijau kota yang mengandung sejarah perjalanan Kerajaan Galuh yang melegenda di Jawa Barat. Situs Ciung Wanara Karangkamulyan merupakan obyek wisata sejarah yang tertata dan cukup terawat dengan baik, lahan parkir yang luas, mushola besar yang diberi nama Baitul Azis terletak di sebelah kiri bersebrangan dengan warung yang berjajar menjajakan ayam goreng kampung dan sambal selain itu ada makanan lain juga minuman. Tempat yang teduh dan cukup nyaman untuk beristiharat jika anda akan ke Jawa Tengah dari arah kota Ciamis lokasi ini terlewati dan tidak jauh dari perbatasan Propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah.

situs ciungwanara
Obyek Wisata Budaya Ciung Wanara Karangkamulyan, dengan gapura merangkap pagar pintu masuk terbuat dari batu alam dengan 14 pilar dan 1 pilar utama. Memasuki kawasan Situs Ciung Wanara Karangkamulyan terasa teduh dan suasana magis membuat saya langsung membayangkan masa lalu yang terjadi di tempat ini, hutan lindungnya adalah leuweung yang sangat natural. Di area luar hutan lindung dan situs Ciung Wanara Karangkamulyan terdapat gong perdamaian yang diresmikan pada 9 September 2009 lalu, saya kurang paham mengapa gong perdamaian dunia ditempatkan di tempat tersebut.

Tiket masuk area situs dan hutan lindung melalui pintu masuk sebelah kiri dengan tiket sebesar Rp.3000, harga yang sangat murah mengingat bagaimana pihak pengelola merawatnya cukup baik dan sebuah tempat "mahal" yang memiliki peninggalan sejarah. Begitu memasuki kawasan hutan pepohonan berbatang besar yang tumbuh, terdata ada lebih dari 60 jenis pohon dan tumbuhan serta lebih dari 30 jenis satwa yang hidup di alam bebas hutan lindung Situs Ciung Wanara Karangkamulyan

ciungwanara karangkamulyan
Dari cerita turun temurun hingga berpuluh-puluh abad, sebuah jalan kuno yang masih bisa dipertahankan tata letaknya di sekitar hutan lindung Situs Ciung Wanara Karangkamulyan. Menurut penelitian jalan tersebut dahulunya adalah jalan setapak yang dipergunakan orang-orang kerajaan dan masyarat Galuh sebagai jalan penghubung Kerajaan Galuh dengan Kerajaaan Majapahit di abad ke 13. Ketika saya datang, jalan kuno tampak bersih dan dipelihara baik.

Suasana yang sangat asri, dua pohon bambu dengan posisi saling bersebrangan tumbuh melengkung sehingga batangnya menyatu. Daun bambu tumbuh lebat membuat beberapa meter jalan kuno menjadi rindang, beratap daun dan batang bambu. Inilah Bojong Galuh Karangkamulyan seluas 25 hektar menyimpan peninggalan kerajaan Galuh, dan tersimpan cerita yang sangat melegenda yaitu Prabu Permana Kusumah dan putranya Ciung Wanara dari Kerajaaan Galuh.


Salah satu artefak Kerajaan Galuh yaitu Pangcalikan Raja atau Singgasana Raja disebut juga pelinggihan raja atau tempat raja, berupa tumpukan batu berwarna putih segi empat Kerajaan Galuh di fase Hindu Budha. Situs Batu Pangcalikan berupa lahan yang terdiri dari tiga halaman. Tiap halaman dibatasi susunan batu dengan ketinggian sekitar 1 meter dan lebar sekitar 0,5 meter. Singgasana Kerajaan Galuh sendiri berukuran hampir 1x1 meter dengan tinggi sekitar 0,5 meter yang berada di ujung kotak.

Tumpukan batu ini oleh masyarakat setempat disebut sebagai pangcalikan Prabu Galuh. Pangcalikan dalam bahasa Sunda berarti tempat duduk atau singgasana raja Kerajaan Galuh, yang kini diberi pembatas pagar besi dan pagar batu. Menurut kuncen yang mengantar saya, kayu yang di pasang di atas batu pangcakilan belum selesai dan nantinya diperuntukan melindungi batu pangcalikan. Situs ini posisinya terdekat dengan pintu masuk, sekitar 100 meter setelah melalui jalan kuno.

situs ciung wanara karangkamulyan
Berikutnya ada situs yang diberi nama Batu Panyandaran, yaitu susunan batu berbentuk segi empat yang memagari beberapa batu besar di tengahnya. Batu di tengah itulah yang disebut Panyandaran mirip tempat duduk yang bersandar. Tempat panyandaran ini diyakini tempat di mana Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum, kemudian dibuang ke sungai Citanduy. Dewi Naganingrum menurut cerita bersandar di batu panyandaan selama 40 hari untuk memulihkan tenaganya setelah melahirkan Ciungwanara. Tidak jauh dari situs Panyandaan, terdapat Situs Pamangkonan batu yang disebut Sanghyang Indit-inditan. Batu itu ditemukan di Sungai Citanduy.

Konon batu Sanghyang Indit-inditan itu dapat berpindah tempat sendiri, makanya diberi nama batu Indit-inditan dalam Bahasa Indonesia artinya pepergian. Diyakini pula batu tersebut juga memiliki kekuatan gaib sehingga dipergunakan untuk seleksi prajurit. Hanya orang terpilih saja yang bisa mengangkat batu tersebut. Adapula Situs Cikahirupan, situs ini hanya berupa penemuan sumur yang letaknya dekat di pertemuan dua sungai, yaitu Sungai Citanduy dan Sungai Cimuntur. Pada situs ini tidak ditemukan temuan-temuan arkeilogis, sumur ini rupanya bagai sumber air kehidupan yang selalu terisi penuh sepanjang zaman walaupun bukan di musim penghujan. Situs selanjutnya adalah Penyambungan Hayam, yaitu dahulu kala tepat adu ayam milik Ciung Wanara dan Sang Prabu di bawah pohon rindang. Selain itu sebagai tempat khusus untuk menentukan raja.

Kira-kira 5 meter dari penyambungan hayam, terdapat situs Sanghyang Bedil yaitu susunan batu yang tingginya hampir 1 meter bisa disebut ruangan dari tradisi megalitik. Sanghyang Bedil saat itu sebagai suatu pertanda datangnya suatu peristiwa. Bedil atau senjata bermakna baik bila digunakan dengan benar dan bermakna buruk bila dipergunakan tidak benar. Situs Ciung Wanara Karangmulyan di area hutan lindung yang kaya akan peninggalan sejarah Kerajaaan Galuh, di era masuknya Islam ditandai dengan adanya Makam Adipati Panaekan berupa susunan batu dengan dua nisan sejajar, menghadap ke arah kiblat. Adipati Panaekan adalah Raja Galuh Gara Tengah yang berpusat di Cineam. Adipati gelar yang diberikan oleh Sultan Agung Raja Mataram. Adipati Panaekan dibunuh oleh adik iparnya sendiri karena masalah perebutan kekuasaan. Jenazahnya dihanyutkan ke Sungai Cimuntur. Orang-orang yang menemukan jenazahnya kemudian menguburkannya di dekat Sungai Cimuntur.

situs ciung wanara karangkamulyan Di area yang sama tepatnya di luar hutan lindung di belakang gong perdamaian, ada Museum Situs Karangkamulyan yang dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya. Museum ini penyimpan penemuan-penemuan Kerajaaan Galuh dalam tata ruang yang sederhana namun cukup terawat dengan baik. Senjata seperti keris dan kujang yang diketemukan adalah dari fase ke tiga yaitu fase Islam. Sedangkan bebetuan yang diketemukan sebagai perkakas adalah di fase pra sejarah. Hutan Lindung Ciung Wanara yang menyimpan misteri dan bukti nyata akan adanya peradaban manusia, yaitu masa Kerajaan Galuh.

Pada bagian lainnya terdapat batu yang bentuknya mirip dengan stupa candi, sebagai tepat peribadatan atau pemujaan. Seperti layaknya candi, batu ini juga dihias dengan pahatan. Lokasi penemuan batu ini agak jauh dari situs lainnya. Ada hal lain yang menarik di Situs Ciung Wanara Karangkamulyan selain beberapa situs Kerajaan Galuh, kita dapat merasakan hutan di tepi kota yang dijaga keasliannya. Ditambah museum Karangkamulyan dan gong perdamaian dunia, menjadikan tempat ini lebih berfariasi untuk dijadikan pilihan tempat wisata.

Sangat penting dipahami cerita Ciung Wanara adalah sebuah legenda yang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah berdirinya Kerajaan Pajajaran, yang kemudian keturunannya menjadi raja di tatar Pasundan. Kini banyak orang Sunda yang menghidupkan kejayaan Pajajaran, yang kemudian mereka sebut sebagai Pajajaran Baru, saya menanggap bukan sebagai pertanda ingin munculnya Kerajaan Pajajaran yang baru, namun lebih kepada menghidupkan kembali semangat Pajajaran di masanya agar masyarakat Sunda di masa kini lebih menjaga peninggalan leluhurnya dan menghargai sejarah di masa lampau. Dan Situs Ciung Wanara Karangkamulyan adalah sebuah bukti nyata kejayaan di masa lalu.

Jika anda melewati kawasan tersebut, saya sarankan untuk mengunjunginya sebagai tempat wisata yang mengedukasi. Sebagai bagian dari penghargai para pendahulu di tatar Sunda, mengingatkan saya pada sebagian naskah kuno Amanat Galunggung yang pernah diberi tahu oleh almarhum ayahanda, amanat yang mengandung pepatah yang sangat dalam. Artinya dalam Indonesia " Ada dahulu ada sekarang , ada masa dahulu tak akan ada masa kini, bila tidak ada masa lalu tidak ada masa kini".

Situs Ciungwanara Karangkamulyan

Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, 16 Kilo Meter dari Kota Ciamis. Harga Tiket Masuk Rp.3000 GPS -7.350451, 108.473694.

Share ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Email, Subscribe. . Updated :

Versi Mobile | Kembali ke atas