Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka Tanah Sirah Agam

Sebuah tanda arah kecil berbunyi Rumah Buya Hamka yang saya lihat di tepian jalan di sekitar Danau Maninjau membuat kami berbalik arah untuk kemudian berkunjung ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka di Kampung Tanah Sirah, Sungai Batang Maninjau, Sumatera Barat. Sebuah kunjungan menyenangkan yang tidak direncanakan sebelumnya.

Lokasi museum berada sejauh 6,7 km atau sekitar 12 menit perjalanan dari pertigaan tepian Danau Maninjau di ujung bawah Kelok 44, melewati jalanan yang cukup mulus dengan pemandangan sekitar tepian danau yang indah. Salah satunya adalah Pohon Randu raksasa yang bisa dilihat di tulisan Danau Maninjau.

Letak Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka sangat dekat dengan tepian danau, hanya sekitar 90 meter, namun tak ada akses langsung ke danau dari depan rumah. Area dengan akses ke tepian danau masih berjarak 240 meter dari museum arah ke Selatan, dimana terlihat banyak sekali karamba untuk budi daya ikan bilis.

museum rumah kelahiran buya hamka
Tampak depan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, yang terletak beberapa meter di atas permukaan jalan, menghadap Danau Maninjau, dengan bentuk bangunan tradisional rumah gadang. Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka ini mudah dikenali karena selain selalu ramai dikunjungi pejalan, juga terdapat tulisan besar di tebing rumah yang dihias dengan tatanan bebatuan.

Semasa hidupnya HAMKA dikenal luas sebagai sastrawan, ulama, dan juga aktivis politik. Karena kegiatan politiknya HAMKA pun sering berbenturan dengan penguasa, seperti dengan Soekarno soal NASAKOM dan kemudian dengan Soeharto tentang ketidaksetujuannya terhadap diselenggarakannya perayaan Natal Bersama.

Masuk ke dalam Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, terdapat sebuah meja tempat pengunjung mengisi buku tamu, yang ditunggui oleh seorang pria berusia 60-an tahun bernama Hanif dan seorang lagi penjaga yang lebih muda.

Pada dinding sebuah ruangan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka terdapat foto-foto Buya Hamka, kursi tua, tongkat peninggalan Buya Hamka, dan ada pula lampu antik. Nampaknya akan lebih hidup jika di bawah foto-foto di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka itu diberi keterangan atau cerita singkat tentang foto-foto itu, yang tentu akan sangat membantu para pengunjung.

Di samping meja buku tamu terdapat meja lain yang di atasnya dihampar cincin polos dan cincin yang matanya dihias berbagai jenis batu akik dengan bermacam warna dan ukuran. Pada dinding di belakangnya terdapat foto Buya Hamka dengan Bung Hatta, dan seorang tokoh lain yang tampaknya adalah Haji Agus Salim.

Sedangkan di dalam ruang yang lokasinya berada di sudut sebelah kanan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka digunakan sebagai tempat untuk menyimpan pakaian peninggalan, buku-buku karya HAMKA, tanda-tanda penghargaan dan kenang-kenangan yang diperuntukkan bagi Buya.

Sebagai sastrawan, HAMKA menghasilkan karya-karya sastra monumental, seperti kisah Di bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Derwijk, Merantau ke Deli, dan karya lainnya. Buku-buku karyanya menjadi peninggalan yang sangat berharga bagi perjalanan dan perkembangan sejarah sastera tanah air.

Tempat tidur yang pernah digunakan Buya HAMKA, nama popoler dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah, bisa dilihat di museum ini. HAMKA lahir di tempat ini pada 17 Februari 1908, dan tinggal di rumah neneknya selama 6 tahun. Pendidikan formal HAMKA hanya sampai kelas dua di sekolah rendah. HAMKA kemudian belajar di Sumatera Thawalib di Padangpanjang, sekolah dengan sistem madrasah yang didirikan ayahnya, setelah mereka sekeluarga pindah kota itu pada 1914.

Ketika kedua orang tuanya bercerai pada tahun 1923, pada usia 15 tahun HAMKA pergi seorang diri meninggalkan Padangpanjang untuk merantau ke Jawa, namun sesampainya di Bengkulu ia terkena wabah cacar, sehingga dua bulan kemudian HAMKA kembali lagi ke Padangpanjang.

Setelah sembuh dari penyakit cacar, HAMKA pun berangkat lagi ke Jawa pada tahun 1924, menuju Yogyakarta. Adalah karena bantuan pamannya yang bernama Ja’far Amrullâh, Hamka bisa mengikuti kursus-kursus yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah, dimana ia belajar dari Ki Bagus Hadikusumo. HAMKA juga belajar dari HOS Cokroaminoto, Kiai Haji Fachruddin dan R.M. Surjopranoto.

Rumah nenek Buya HAMKA ini sempat hancur pada masa pendudukan Jepang, dan bentuk Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka yang kita lihat seperti sekarang ini adalah hasil renovasi yang dilakukan pada tahun 2001. Buya HAMKA, meninggal di Jakarta pada 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

7 foto di sini. Alamat : Kampung Tanah Sirah, Sungai Batang Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Lokasi GPS: -0.35582, 100.21826, Waze. Rujukan : Tempat Wisata di Agam, Hotel di Matur, Hotel di Tanjung Raya.

Disarankan untuk Anda