Manusia Lanjut Usia di Benua Biru

Menikmati hidup melakukan kegiatan sebisa mungkin tanpa bantuan orang lain itulah yang dilakukan beberapa Manusia Lanjut Usia di Benua Biru, yang saya kenal baik mulai dari tahun 2002 hingga sekarang tepatnya di Prancis dan Spanyol. Makin banyak lansia berusia berkisar 70 hingga 87 tahun yang saya ketahui sehubungan dengan aktifitas yang dilakukan. Menuliskan kehidupan mereka sangatlah menarik, gaya hidup dan keseharian yang mengundang decak kagum.

Tahun 2004 saya mengenal pasangan Papa Jean Louise dan Mama Suzanne, mereka meminta saya untuk memanggil Papa dan Mama. Pertama kali berjumpa di Indonesia, kami mendaki Gunung Ijen bersama-sama saat itu usia mereka masih sekitar 68 tahun nan Papa dan Mama hanya terpaut beberapa tahun saja. Tanpa ada kesulitan melakukan perjalanan menuju Kawah Ijen dengan riang, saat itu usia saya baru masuk kepala empat, wah malu juga jika ketahuan lelah oleh Mama Suzanne. Belum lagi kawannya yang bernama Mamie Paulet ia lebih tua dari Mama Suzzane dengan gesit menapaki jalan setapak menuju Kawah Ijen, mereka manusia lanjut usia warga negara Prancis yang membuat saya tercengang.

Tahun 2013 saya berjumpa kembali dengan mereka di negaranya, serasa bermimpi bisa bertemu lagi dan yang lebih mengherankan mereka seperti tidak menua, pola dan gaya hidup yang tertib serta asupan nutrisi yang sehat membuat mereka seperti itu. Tanpa disadari saya membandingkan manusia lanjut usia di Indonesia, tetapi saya tidak akan membahas hal itu karena manusia lanjut usia di benua biru inilah yang akan saya ceritakan.


Tahun 2017 kembali mengunjungi Prancis, saya pergunakan kesempatan ini untuk berkunjung ke rumah Papa Jean Louise dan Mama Suzzane. Kejutan! mereka tidak menyangka kedatangan tamu jauh dan kamipun saling melepas rindu. Inilah halaman rumahnya yang resik dan terawat dengan baik, luas dipenuhi rumput dan bunga cantik aneka warna serta tiga pohon rindang membuat halaman makin teduh dan asri di musim semi.

Hal yang paling mengesankan, mereka merawat dan membersihkan rumahnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Walaupun secara ekonomi Mama dan Papa sangat mampu membayar orang untuk bekerja membersihkan rumahnya namun kata Mama lebih baik melakukan sendiri selain masih mampu bekerja agar ada aktifitas. Padahal saat itu usia Papa dan Mama sudah menjelang 80 tahun, Mama mengajak saya mengelilingi rumahnya ruang demi ruang.


Inilah Papa Jean Louise dan Mama Suzzane, kami berpose di depan rumah mereka. Papa dan Mama tinggal berdua di rumah sebesar itu, sesekali anaknya datang berkunjung. Mereka tidak mau menyusahkan anaknya, menurut Papa jika suatu saat sudah tidak kuat lagi, lebih baik hidup di maison de retraite atau panti jompo agar bisa bersosialisasi dengan penghuni panti sebaya dan hal itu akan lebih menyenangkan. Siang yang cerah saat itu Mama dan Papa mengenakan celana jeans dan jaket yang menghangatkan.

Seorang lansia yang juga saya kenal, Albert tinggal di rumah jompo setelah istrinya meninggal dunia. Dulu ia pernah bekerja di Indonesia dan ketika mendengar ada grup yang akan berwisata ke Indonesia, Albert menyuruh anaknya yang berusia 50 tahunan untuk ikut dan Albert yang membayarkan biaya perjalanannya. Opa keren itu berseloroh, sudah lama sekali ia tidak mempergunakan uangnya dalam jumlah yang banyak. O la la, artinya banyak lansia mapan memutuskan hidup di panti jompo atas keinginan sendiri. Biasanya hampir setiap akhir pekan anak cucunya datang menjenguk ke panti jompo secara bergantian, terkadang mengajak jalan-jalan atau bermalam di rumah mereka beberapa hari. Beberapa panti jompo yang saya datangi di Prancis dan Spanyol kondisinya sangat baik dengan fasilitas yang komplit, jadi jangan mengira panti jompo di negera mereka tempat yang mengkhawatirkan.


Pasangan lansia lain yang saya kebal baik adalah Irene dan Bernand usianya lebih dari 80 tahun, mereka pasangan yang sangat mapan dan sering melakukan pesiar ke luar negri. Kami diundang makan malam di rumahnya yang super bersih dan rapih, sama halnya dengan Papa dan Mama Suzzane merekapun tinggal berdua. Irene dan Bernand menyiapkan makan malam dan melarang kami untuk membantu. Al hasil saya hanya menonton mereka memasak di dapurnya yang tertata cantik, kemudian Bernand membakar daging kambing muda di halaman belakang rumah mereka yang luas. Sebelumnya kami menyanyi dan menari bersama, salah seorang dari kami memainkan piano tua. Irene dan Betnand sangat senang pianonya dimainkan karena menurut penuturan mereka piano tersebut sudah berpuluh-puluh tahun tidak ada yang memainkan.

Irene perempuan tua yang energik ia masih mengemudi di usia 83 tahun, tempat kediamannya di desain sempurna. Tidak ada sedikitpun undak-undakan atau trap semua lantai di rumah ini sejajar dengan ruangan yang leluasa, hal ini mereka perhitungkan jika suatu saat penghuni rumah harus mempergunakan kursi roda. Seorang jasa pengirim bunga datang mengantarkan rangkaian bunga cantik untuk Irene dan Bernand dari anaknya yang tinggal di Kota Toulouse. Bunga sebagai permintaan maaf karena tidak bisa datang menemui orang tuanya di akhir pekan.


Entah bagaimana caranya mereka mengurus rumah, bukan karena mewah tetapi karena bersih dan terawat dengan baik. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan segalanya dikerjakan dengan sendiri, walaupun mereka sangat mapan untuk membayar orang namun itu tidak mereka lakukan. Cara penyimpan barang yang rapih dan tertib bahkan terlihat sangat artistik, selain itu memudahkan mereka untuk mengambil jika dibutuhkan.

Manusia lanjut usia di benua biru banyak mengajarkan saya kedisiplinan, tata tertib, sesuatu yang baru dan mengenal mereka buat saya adalah luar biasa. Energi yang tidak pernah mati, bagaimana mereka memerangi penyakit seperti Mamie Paulet dan Madame Rita orang Spanyol yang pengindap penyakit kanker. Mereka tetap bersemangat dan menjalankan rutinitas sehari-hari, menurut kebanyakan dari mereka selama kuat dan bisa mengerjakan sendiri janganlah mengandalkan orang lain.

Pola hidup yang tertib dengan mengkonsumsi makanan yang sehat adalah menunjang kehidupan mereka menjadi seperti itu, selain itu rutin melakukan olah raga. Saling memperhatikan pasangan adalah hal yang tidak kalah pentingnya, begitu ucap Bernand sambil melirik Irene yang masih cantik di usia senja senangnya melihat pasangan lansia yang masih romantis. Rumah Irene rumah yang hangat, dan kami laksana tamu agung yang diperlakukan dengan istimewa.

Ada pasangan lansia lainnya Maite dan Andre, suami istri kocak dengan mata yang berbinar. Lagi-lagi tinggal berdua di rumah mereka yang tidak terlalu besar, salah satu anaknya tinggal bersebelahan dengan mereka dan saya mengenalnya lebih dari 10 tahun. Rasanya wajah Maete masih sama seperti ketika pertama kali berjumpa, dan Andre setua itu masih saja jahil. Menjadi tua adalah hukum alam, tetapi mengisi masa tua dengan sesuatu yang bermanfaat minimal untuk diri sendiri adalah sebuah pilihan. Pelajaran berharga yang saya petik dari sahabat-sahabat manusia lanjut usia di benua biru, merekapun menyukai saya apa adanya.

Manusia lanjut usia di benua biru menjadi inspirasi memberi contoh yang baik, hidup yang disiplin, sehat, dan penuh kasih sayang. Memotivasi dan menghargai diri sendiri untuk tetap menjadi orang yang bermanfaat, minimal untuk diri sendiri. Menjadi tua merupakan suatu fase kehidupan yang dialami oleh setiap manusia, memaknai hidup hingga bahagia dengan apa yang telah diberikan Sang Pencipta. Makin panjang usia seseorang, sejalan dengan pertambahan usia tubuh akan mengalami kemunduran secara fisik maupun psikologis.

Mereka cermin untuk diteladani terlepas dari perbedaan budaya dan keyakinan, membuat hidup lebih berarti adalah salah satu cara mengusir rasa kesepian yang kerap singgah pada manusia lanjut usia. Selalu saja ada ruang untuk merindukan mereka, semoga masih diberi kesempatan untuk berjumpa kembali di negerinya atau mungkin saja di negeriku? A bientot, sampai bertemu lagi.




. Updated :

Versi Mobile | Kembali ke atas