Museum Radya Pustaka 43 dari 54

April 15, 2019
Prasasti Mantyasih I ditemukan di daerah Kedu, Jawa Tengah, ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa Kuna, menyebutkan bahwa pada tanggal 11 paro gelap bulan Caitra tahun 829 Saka (11 April 907 M), Sri Maharaja Rakai Watakura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu meresmikan beberapa daerah menjadi sima, yaitu Mantyasih termasuk hutannya di Munduan dan Kayupanjang, tanah perumahan di Kuning termasuk sawahnya di Wunut, dan hutan Susundara dan Sumwing.

Pemberian sima merupakan anugerah karena para patih di Mantyasih berjasa dalam beberapa hal, yaitu bekerja bakti waktu perkawinan raja, melakuka pemujaan dan pemeliharaan bangunan suci, dan berhasil menjaga keamanan jalan ketika terjadi bahaya atas Desa Kuning. Bagian penutupnya berisi permintaan tolong kepada para dewa dan arwah raja agar turut membantu melindungi isi prasasti.

Nama raja yang telah meninggal itu adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Sri Maharaja Rakai Warak, Sri Maharaja Rakai Garung, Sri Maharaja Rakai Pikatan, Sri Maharaja Rakai Kayuwangi, dan Sri Maharaja Rakai Watuhumalang. Sima merupakan daerah perdikan yang diberi hak bebas pajak.

museum radya pustaka solomuseum radya pustaka museum radya pustaka museum radya pustaka
Radya Pustaka | « Foto-42 | Foto-44 »