Museum Pengkhianatan PKI 34 dari 90

February 08, 2019
aroengbinang.com - Kampanye Budaya PKI, 25 Maret 1963. Selain ingin menguasai politik, PKI juga menggarap bidang lainnya termasuk sastra dan budaya yang dilakukan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) bersama lembaga yang ada di bawahnya seperti Lembaga Sastra, Lembaga Film dan Lembaga Drama.

Secara sistematis mereka memasukkan faham komunisme ke dalam seni dan sastra, mempolitikkan budayawan dengan semboyan "Politik adalah Panglima" serta mendiskreditkan para sastrawan dan budayawan non-komunis. Usaha itu dilakukan melalui media massa PKI dan di berbagai pertemuan, salah satunya Konferensi Nasional I Lembaga Sastra Indonesia di Medan pada tanggal 22-25 Maret 1963.

Konferensi tidak hanya membahas masalah budaya yang harus bernafaskan komunisme tetapi juga membahas politik yang menuntut segera dibentuk kabinet gotong royong agar tokoh-tokoh PKI duduk di dalamnya. Di bidang sastra dikeluarkan tuntutan agar buku-buku terbitan Balai Pustaka benar-benar seirama dengan Manifesto Politik (Manipol). Konferensi juga sangat mendukung setiap kegiatan olah raga dan pertemuan-pertemuan bernafas internasional yang berkiblat pada negara-negara komunis. Konferensi tersebut merupakan bagian dari kampanye budaya PKI. Untuk menunjukkan kekuatannya, sehabis konferensi mereka mengadakan pawai alegoris berkeliling Kota Madiun.

museum pengkhianatan pki lubang buayamuseum pengkhianatan pki museum pengkhianatan pki museum pengkhianatan pki
Museum Pengkhianatan PKI | « Foto-33 | Foto-35 »
Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!