Foto Taman Legenda

Ada dua tempat pembelian tiket Taman Legenda Keong Emas TMII yang posisinya berhadapan dengan jarak 15 meter, masing-masing ada tiga loket. Tiket all in one dipatok seharga Rp.130.000, yang menjadi Rp.160.000 untuk hari Jumat, Sabtu, Minggu dan hari libur, tidak termasuk tiket Museum Asmat dan Mobil Gowes. Kadang ada promo dimana pengunjung membayar lebih murah, dan untuk anak berusia di bawah 2 tahun masih gratis.



Tengara nama Taman Legenda Keong Emas menjadi salah satu tempat yang disukai pengunjung untuk foto diri, dengan undakan tinggi dan Pendopo Melati khas Jawa di belakangnya. Kontur taman memang dibuat berundak di sejumlah lokasi, membuatnya lebih menarik dan tak membosankan. Di belakang pendopo adalah Taman Bunga Keong Emas yang memanjang hingga Theater IMAX.



Kolam memanjang di Taman Legenda Keong Emas TMII, diapit lintasan jalan berundak dengan patung-patung legenda keong emas. Sebelum matahari naik dan menjelang sore adalah waktu yang pas untuk berkunjung ke taman ini.



Latar depan adalah patung yang menggambarkan saat mBok Rondo Dadapan menemukan Keong Emas di sungai, yang kemudian dibawanya pulang ke rumah. Sedangkan di latar belakang adalah patung yang pertemuan kembali antara Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun, disaksikan mbok Rondo dan abdi setianya. Di belakang patung pertemuan adalah relief kisah Legenda Keong Emas.



Loket yang berada di sisi sebelah kiri, yang juga jumlahnya 3 buah, namun hanya dibuka satu atau dua jika pengunjung sedang tidak banyak. Di musim libur, tersedianya 6 loket itu akan sangat membantu mempercepat pelayanan dan mengurangi panjang antrian.



Detail harga tiket bisa dilihat pada foto ini. Namun papan harga tiket itu sudah berubah saat kami datang lagi ke sana beberapa minggu kemudian. Ada harga promo.



Poster-poster untuk menarik perhatian orang agar mampir ke Taman Legenda Keong Emas. Kincir angin raksasa Mata Legenda disebut sebagai tertinggi di Indonesia pada poster paling kanan itu.



Area parkir yang luas, sayangnya waktu pulang sensor parkir di bemper depan ada yang merusak. Di sana memang ada sejumlah pedagang asong dan anak-anak kampung, entah mengapa mereka bisa masuk dan dibiarkan ada di sana.



Denah Taman Legenda Keong Emas yang ada di bagian depan area. Meskipun sangat membantu, namun mungkin tak banyak pengunjung yang benar-benar memanfaatkannya, termasuk saya waktu itu. Akibatnya tak semua wahana didatangi.



Pandangan dari dalam area pada kanopi yang memayungi gerbang dan area penjualan tiket masuk. Di ujung sebelah kiri pada foto adalah pintu keluar, dan di sebelah kirinya adalah Teater Legenda yang bisa ditonton gratis.



Pandangan dekat pada pintu keluar dimana pengunjung bisa menukar saldo uang yang tak terpakai. Di sana juga dijual berbagai macam cindera mata.



Pintu masuk ke Teater Legenda, dengan jadwal pemutaran film tercantum pada poster di sebelah pintu. Dua kali kami ke sana, dua kali pula film baru saja dimulai dan pintu sudah ditutup karena penuh.



Pemandangan pada kincir raksasa Mata Legenda yang diklaim sebagai tertinggi di Indonesia itu. Kami belum sempat naik kincir itu.



Di sebelah kiri adalah patung yang menggambarkan Raden Panji Asmorobangun tengah bersemedi meminta petunjuk Dewata untuk mencari isterinya yang hilang.



Patung Raden Panji Asmorobangun dengan Kincir Raksasa Mata Legenda di belakang sana.



Di ujung sana adalah atap kerucut Museum Asmat. Genang air di sebelah kiri adalah danau air tawar buatan yang luas, berada di depan Museum Air Tawar.



Patung Raden Panji pada arah bagian samping depan area, memperlihatkan stasiun monorail di ujung sana, dan semacam kafe di samping kirinya.



Mata Legenda dan danau air tawar di belakangnya. Satu keluarga itu sedang menuju ke area komidi putar yang letaknya berseberangan dengan kincir.



Taman yang berada di sisi kanan air mancur Taman Legenda Keong Emas dengan sebuah patung tangan dengan keong emas di atas jari telunjuknya dan relief Dewi Sekartaji di telapak tangan.



Ukiran indah pada bagian dalaman atap Pendopo Melati yang dibuat dari kayu jati, dengan sebuah lampu antik menggantung di pusatnya.



Gerbang masuk wahana Petualangan Dinosaurus, dengan seekor Pteranodon menggantung di bawah tengara namanya. Tiruan burung purba itu bisa bergerak dan mengeluarkan suara.




Panorama dari samping Pendopo Melati ke arah danau air tawar dan kincir Mata Legenda, jalan ke sebelah kiri adalah ke wahana Legenda Dinosaurus.



Tampak samping depan Pendopo Melati dengan latar belakang komidi putar Nirwata Kisar dan kapal ayun Bajak Laut.



Panorama pada kolam air mancur di Taman Legenda Keong Emas yang sedang dimatikan. Patung Dewi Sekartaji dan Keong Emas tampak di sebelah kiri, dan sejajar dengan patung itu di sebelah kanan atas ada patung pertempuran Raden Panji dengan raksasa.



Pandangan dekat pada Patung Penjelmaan, menggambarkan penjelmaan Dewi Sekartaji yang dijadikan Keong Emas oleh Dewa Surya, atas suruhan Dewa Narada.



Pandangan pada Patung Berburu, menggambarkan perburuan kijang yang dilakukan oleh Raden Panji Asmorobangun saat ia dan dua abdi setianya berkelana untuk mencari isterinya.



Saat air mancur hidup memuntahkan air ke kolam. Di ujung sana tampak satu keluarga tengah berjalan kaki mendekati Patung Pertemuan.



Pandangan dekat pada Patung Pertemuan yang menggambarkan suasana saat Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun dipertemukan kembali.



Pandangan ke arah Pendopo Melati dan Kincir Mata Legenda dari area di dekat Patung Pertemuan.



Patung yang yang menggambarkan pertarungan antara raksasa yang menculik Dewi Sekartaji melawan Raden Panji Asmorobangun. Selain mereka berdua, ada patung singa dan ular naga di sana.



Sudut pandang lain pada patung pertarungan itu.




Patung yang menggambarkan penjelmaan kembali Dewi Sekartaji dari cangkang Keong Emas.



Pandangan dekat pada patung yang menggambarkan saat mBok Rondo Dadapan hendak memungut Keong Emas dari sungai.



Tengara I "love" Taman Legenda saat sepi orang yang berfoto di sana.



Kincir raksasa Mata Legenda dengan 24 kereta yang masing-masing setidaknya bisa berisi 2-4 orang.



Tengara komidi putar Nirwana Kisar yang disukai oleh anak-anak, karena selain dua lantai juga memang indah.



Komidi putar ini akan terlihat lebih indah pada malam hari saat lampu-lampunya yang menyala terlihat jelas. Tempat duduk bagi orang tua yang menunggu disediakan di sana.



Permainan Baby Dino yang digerakkan motor dimana anak-anak menungganginya untuk berkeliling di lintasan yang tak terlalu panjang ini.



Permainan mobil tanjak dimana anak-anak duduk di kereta atau mobil mini yang bergerak secara otomatis megikuti rel yang menanjak dan menurun hingga waktunya selesai.



Permainan kapal ayun Bajak Laut yang membuat orang yang tak tahan guncangan bisa muntah karena tak kuat saat perut dikocok.



Permainan roller-coaster mini Ulat Selur yang terlihat tak begitu menantang karena memang terutama ditujukan untuk anak kecil.



Pandangan tegak pada Kincir Raksasa Mata Legenda. Kapan-kapan ingin datang lagi ke sini untuk melihat panorama saat langit mulai gelap.



Di sebelah kiri adalah tempat penukaran kelebihan saldo uang, sedangkan di sebelah kanan adalah toko Cindera mata yang sekaligus pintu keluar dari Taman Legenda Keong Emas.



Harga tiket yang baru itu saat kami berkunjung ke sana, namun berlaku khusu selama periode lebaran. Pada libur Natal dan akhir tahun, harga khusus promo sepertinya juga akan ada lagi.



Penampakan bagian depan tidak berubah, hanya saja meja informasi di depan pintu masuk sepertinya dulu tidak ada di sana. Perlu diperhatikan bahwa makanan dan minuman tidak diperbolehkan dibawa ke dalam, dan harus dititipkan ke satpam.



Berfoto di depan patung yang bisa bicara, setidaknya ada suara yang keluar, bibir dan mata pun bisa bergerak-gerak. Lokasinya berada di dekat denah wahana.



Suasana di dalam teater legenda yang akhirnya kami masuk ke dalamnya. Hanya saja karena waktu putarnya masih lama, kami keluar lagi dan akhirnya tidak menonton juga. Menonton film di sini gratis.



Stasiun Beos, tempat dimana pengunjung naik dan turun dari kereta wisata yang berjalan mengelilingi area Taman Legenda Keong Emas. Beos adalah nama lain dari Stasiun Kota.



Area kuda poni di sebelah kanan, serta area bermain dengan kelinci tampak di sebelah kiri. Area itu tidak kami datangi pada saat kunjungan pertama.



Beberapa puluh langkah di sebelah kanan Stasiun Beos terdapat area untuk berfoto yang disebut Taman Legenda Jail (Penjara), dengan lubang untuk berfoto bagi anak-anak dan keluarga, juga jeruji besi.



Beginilah saat orang berfoto seru-seruan di Teman Legenda Jail, dengan menggunakan lubang pada poster wanted, serta jeruji besi.



Pojok edukasi adalah dimana pengunjung bisa berinteraksi dengan domba serta kelinci.



Anak-anak bermain dengan kelinci gemuk di dalam area Pojok Edukasi. Wortel untuk makanan kelinci bisa dibeli di tempat.



Domba juga tak takut pengunjung. Mereka rupanya terbiasa mendapat makanan gratis dari pengunjung. Pengunjung yang harus beli makananannya di tempat :))



Domba-domba mengantri sedekah makanan dari para pengunjung. Enaknya menjadi pengelola, sudah terima bayaran saat pengunjung masuk, eh dapet bayaran pula untuk memberi makan gratis bagi domba piaraannya.



Pemandangan pada Mata Legenda saat senja jatuh, karena kami memang berada di sana hingga setelah matahari tenggelam.



Sudut pandang lainnya pada wahana Mata Legenda yang kini tidak bisa lagi mengklaim sebagai yang tertinggi di Indonesia, setelah ada J-Sky Ferris Wheel di Mal Aeon Cakung, Jakarta Timur.



Berfoto dengan latar Mata Legenda, yang juga dikenal dengan sebutan jantera bianglala. Jika akhir pekan, Mata Legenda beroperasi hingga malam hari.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.