Foto Museum Tekstil

Gedung Museum Tekstil Jakarta dilihat dari depan pada saat kondisinya masih dalam keadaan kusam. Tiket masuknya waktu itu adalah masih Rp.2.000, sangat murah. Dengan jumlah pengunjung yang relatif sedikit, penghasilan bulanan Museum Tekstil ini akan selalu sulit untuk secara mandiri membiayai perawatan gedung dan untuk membayar gaji pegawai.



Museum Tekstil Jakarta memiliki koleksi berupa beka bulu asal Kabanjahe, Karo. Dibuat dari kapas, benang sintetis, pewarna kimia, dan plastik. Jenisnya tenun ikat lungsi, pakan tambahan, dengan motif kepala panah, zigzag dan belah ketupat. Dipakai sebagai selendang, atau ikat kepala dengan busana adat pada acara muda-mudi atau guro-guro, ukuran 163x84 cm. Ajaran agama membuat manusia menutupi tubuh dengan santun dan baik, lalu muncul mode yang dibuat dan disesuaikan dengan cita rasa, sistem nilai dan tradisi setempat.



Tiga orang gadis dengan pakaian tradisional dari Jawa. Ada pula busana dan aksesoris tradisional asal Sulawesi Selatan di Museum Tekstil Jakarta. Harga pakaian kadang menjadi faktor pembeda antara yang mampu dan mau beli dan yang tidak meski ada yang berpakaian sederhana walau harta berlimpah.



Ragam pakaian etnik yang dikenakan oleh wanita Jakarta dan masih digunakan dalam kesempatan tertentu hingga saat ini. Ada pula koleksi pakaian sepasang pengantin dengan warna dominan ungu dan kuning keemasan dengan tutup kepala bergaya Jawa, serta koleksi batik sepanjang 130 meter dengan aneka motif yang merupakan cikal bakal batik terpanjang di dunia (400 meter) kreasi dari Batik Komar.



Busana dan aksesoris tradisional asal Sulawesi Selatan yang menjadi koleksi Museum Tekstil Jakarta. Harga pakaian kadang menjadi faktor pembeda antara yang mampu dan mau beli dan yang tidak. Ada yang suka pakaian sederhana walau harta berlimpah. Ada yang uang pas-pasan namun gemar pakaian mahal. Penampilan, karenanya, sering menyesatkan.



Koleksi pakaian sepasang pengantin dengan warna dominan ungu dan kuning keemasan dengan tutup kepala bergaya Jawa. Di sebelahnya dipamerkan koleksi batik sepanjang 130 meter dengan aneka motif yang merupakan cikal bakal batik terpanjang di dunia (400 meter) kreasi dari Batik Komar.



Prasasti peresmian Museum Tekstil yang seremonialnya dilakukan pada 28 Juni 1976 dan dihadiri oleh Ibu Tien Soeharto.



Teras dengan tempat duduk yang nyaman di halaman belakang yang luas. Terlihat ada banyak pepohonan di halaman belakang ini yang bisa digunakan sebagai bahan pewarna tekstil alam, baik dari daun, bunga mau pun tangkainya.



Pandangan samping pada Gedung Museum Tekstil Jakarta, dengan lubang-lubang lengkung besar untuk sirkulasi udara. Atap ruangan utamanya dibuat tinggi menyesuaikan dengan kondisi di area tropis. Di sebelah kanan tampak prasasti yang berisi riwayat singkat gedung ini.



Sebuah tempat teduh yang berada di bawah sebuah pohon besar rindang, yang berada di sayap kiri Museum Tekstil. Bangku tempat duduk disediakan di sana bagi pengunjung yang ingin sejenak beristirahat sambil menikmati suasana di halaman musuem yang sangat luas ini.



Prasasti Museum Tekstil yang menjelaskan sejarah singkat tentang gedung yang ditempatinya. Gedung bergaya Art Deco ini dibangun pada abad 19 sebagai sebuah rumah pribadi dari seseorang yang berkebangsaan Perancis. Rumah tersebut kemudian dijual kepada Konsul Turki yang bernama Abdul Aziz Almussawi Al Katiri, dan lalu pada tahun 1942 berpindah tangan ke Dr. Karel Christian Ceuq.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.