Foto Museum Sejarah Nasional Indonesia

Diorama Museum Sejarah Nasional Indonesia yang menggambarkan kedatangan Cheng Ho ke Majapahit pada 1405 semasa pemerintahan Raja Wirakramawardhana, suami Kusumawardhani, putri Hayam Wuruk. Sejak Majapahit mengalami zaman keemasan, hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangga berlangsung dengan baik. Kedatangan Cheng Ho yang muslim memberi pengaruh pada berdirinya kelenteng untuk menghormatinya di beberapa tempat di Jawa yang jamaahnya tidak makan babi. Diorama di bagian ini menggambarkan jaman kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.



Diorama lainnya di Museum Sejarah Nasional Indonesia menggambarkan Pertempuran Sunda Kelapa. Pada 1522 Raja Pajajaran meneken persetujuan dengan Henrique Leme yang memberi hak orang Portugis membangun benteng di Sunda Kelapa. Untuk membendung pengaruh Portugis yang telah menguasai Malaka sejak awal abad ke-16, Raja Demak Sultan Trenggono mengirim Fatahillah dengan pasukannya yang berhasil mengalahkan armada Portugis dalam pertempuran di Pelabuhan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527, dan lalu mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta atau kota kemenangan.



Diorama Museum Sejarah Nasional Indonesia yang menggambarkan berdirinya perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada tanggal 3 Juli 1922 oleh Ki Hajar Dewantara dengan semangat nasionalisme. Kongres Pendidikan Nasional pertama terjadi pada tahun 1935 untuk mencari rumusan pendidikan nasional dan menjalin persatuan.



Diorama di Museum Sejarah Nasional Indonesia tentang suasana saat pengesahan Pancasila sebagai landasan falsafah negara dan UUD 1945 dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945 di Pejambon Jakarta. Dalam rapat itu Soekarno dan Moh. Hatta terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.



Diorama ini menggambarkan suasana ketika berlangsung Konferensi Asia – Afrika di Bandung pada 18 – 24 April 1955, yang membicarakan usaha bagi penyelamatan dunia dari bencana perang nuklir, dan pembentukan dunia baru yang aman dan damai, bebas dari kolonialisme. Konferensi ini diikuti oleh 30 negara Asia dan Afrika.



Pada Maret 1942, Panglima Angkatan Bersenjata Belanda menyerah tanpa syarat kepada Tentara Jepang di Kalijati, Jawa Barat. Diperlihatkan pada sebuah diorama gambaran para pekerja Romusha yang banyak sekali tewas setelah dipaksa membangun pangkalan militer, landasan pesawat terbang, jalan dan jembatan oleh tentara pendudukan Jepang.



Diorama pemberontakan Tentara PETA di Blitar, 14 Februari 1945. Pada Oktober 1943 Pemerintah Pendudukan Jepang membentuk tentara Pembela Tanah Air, namun perasaan benci terhadap tentara Jepang semakin memuncak ketika membangun kubu-kubu pertahanan bersama romusha. Menyaksikan penderitaan rakyat dan keinginan untuk merdeka, Supriyadi memimpin pemberontakan batalyon PETA Blitar dengan menyerbu markas militer Jepang.



Diorama Museum Sejarah Nasional Indonesia tentang proklamasi kemerdekaan. Didahului Peristiwa Rengasdengklok, pada 16 Agustus 1945 malam hingga dinihari 17 Agustus 1945 berlangsung rapat di Jl Imam Bojol 1, Jakarta, untuk merumuskan naskah proklamasi. Gedung tempat berlangsungnya rapat itu kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.



Diorama lahirnya ABRI pada 5 Oktober 1945, berlatar Candi Borobudur. Pada 22 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan Barisan Keamanan Rakyat untuk memelihara keamanan dan ketertiban umum di wilayahnya masing-masing. Pada 5 Oktober 1945 keluar dekrit pemerintah tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat.



Diorama penggambaran peristiwa pertempuran heroik di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kisah menggetarkan itu bisa dibaca di catatan perjalanan tentang Monumen Suryo. Mallaby, Jenderal Inggris yang kematiannya menjadi pemicu serangan Sekutu ke Surabaya, dikubur di Makam Perang Jakarta.



Diorama kegiatan Gereja Katolik Roma dalam proses penyatuan bangsa. Perhimpunan Politik Katolik Indonesia ikut menandatangani petisi Soetardjo 1936 yang menuntut pemerintah kolonial untuk memerdekakan bangsa Indonesia.



Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang dicetuskan pada Kongres Pemuda kedua di Jakarta, di tempat yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan pertama kali dalam peristiwa yang sangat bersejarah ini.



Suasana Digul pada tahun 1927. Pada 1926 dan 1927 timbul pemberontakan terhadap pemerintah Belanda di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Barat yang ditumpas dengan kejam. Sekitar 13.000 orang ditangkap, dan 1300 diantaranya dibuang ke Tanah Merah, Digul. Digul kemudian juga menjadi tempat pembuangan bagi Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir.



Diorama suasana Gedung Stovia, ketika para mahasiswa kedokteran pribumi menyelenggarakan rapat pada 8 Mei 1908 dan melahirkan Boedi Oetomo. Tanggal itu kemudian dianggap sebagai tonggak lahirnya pergerakan nasional Indonesia. Konsolidasi kemudian dilakukan dengan melakukan Kongres pada 4-5 Oktoner 1908 bertempat di Yogyakarta. Bekas Gedung STOVIA itu kini menjadi Museum Kebangkitan Nasional.



Kegiatan Indonesische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia yang berdiri di Belanda pada tahun 1922. Cikal bakalnya adalah Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908. Perkumpulan yang semula bertujuan hanya untuk mengadakan pesta dansa dan pidato-pidato itu kemudian menjadi wadah pergerakan para pelajar di Belanda untuk memikirkan masa depan Indonesia dan menyebarkan ide-ide antikolonial. Pada 1927 mereka ambil bagian dalam Kongres Pergerakan Antikolonialisme di Brussel. Sejak itu Perhimpunan Indonesia memulai pergerakan untuk menuntut kemerdekaan Indonesia. Pemerintah Belanda kemudian menangkap para pemimpin perhimpunan ini, yakni Mohammada Hatta, Abdul Madjid, Ali Sastroamidjojo, dan Nasir Datu Pamuntjak. Namun pengadilan memutus mereka tidak bersalah.



Diorama berdirinya Muhammadiyah pada 18 November 1912. Didirikan di Yogyakarta oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, Muhammadiyah menjadi alat bagi pembangunan jiwa kebangsaan melalui kegiatan pendidikan, sosial budaya, dan keagamaan.



Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, ditandai dengan didirikannya Boedi Oetomo oleh dr. Sutomo dan kawan-kawan, melanjutkan cita-cita dr. Wahidin untuk menghimpun tokoh-tokoh pergerakan nasional.



Kartini 1879-1904. Buah pikirannya dalam surat-surat yang dikirim kepada para sahabatnya di negeri Belanda kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang.



Diorama sekolah Kartini dari sudut pandang yang berbeda.



Kegiatan Gereja Protestan dalam Penyatuan Bangsa. Pada 1930 berdiri Perserikatan Kaum Christen dan Partai Kaum Masehi Indonesia yang merupakan bagian gerakan nasional.



Diorama Puputan Jagaraga dari sudut pandang berbeda.

Tanam Paksa, 1830-1870, dibuat oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch yang memaksa rakyat di Jawa menanami sebagian besar tanah mereka dengan tanaman yang laku di Eropa, seperti nila, kopi, teh, lada, gula, dan kayu manis.



Pertempuran Jagaraga 1848-1849. Pertempuran rakyat Bali melawan Belanda yang terjadi di depan Pura Dalem Jagaraga berakhir dengan gugurnya seluruh isi pura sehingga kemudian terkenal sebagai Puputan Jagaraga.





Perlawanan Sisingamangaraja 1877-1907. Bentrokan pertama antara pasukan Sisingamangaraja dan pasukan Belanda terjadi pada 15 Februari 1878. Pada pertempuran di Tanggabatu dekat Balige tahun 1884, pasukan Sisingamangaraja memukul mundur tentara Belanda.



Perang Aceh 1873-1904. Serangan pertama Belanda gagal, dan memakan korban panglimanya yang bernama Kohler dalam pertempuran di halaman Masjid Agung Baiturrahman, Banda Aceh.



Perang Banjar, 1859-1905, dipimpin oleh Pangeran Antasari. Penyerangan terhadap kapal Belanda Onrust di Lontartur dilakukan oleh Pangeran Suropati, saudara Pangeran Antasari.



Perang Paderi, 1821-1837, dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol yang didukung ulama dan kaum adat.



Perang Diponegoro, 1825-1830, membuat Belanda kehilangan 15.000 tentara. Dalam pertempuran di sekitar Kali Bogowonto, Diponegoro berhasil mengalahkan pasukan kavaleri Belanda. Diponegoro dijebak dan ditangkap di Magelang pada 28 Maret 1830. Makam Pangeran Diponegoro ada di Makassar.



Rakyat Maluku tidak mau menerima politik monopoli Belanda dan mengangkat senjata dibawah pimpinan Pattimura. Pada 15 Mei 1817 Pattimur dan rakyat Maluku menyerbu dan merebut Benteng Duurstede di Saparua.



Pertempuran mempertahankan Benteng Somba Opu yang berlangsung pada 8-9 Agustus 1668, dipimpin oleh Sultan Hasanuddin.



Armada Dagang Bugis pada abad ke-15. Luasnya daerah yang dikunjungi bisa dilihat pada tulisan tentang hukum laut Amanna Gappa dan peta laut Bugis.



Diorama tentang peranan pesantren dalam penyatuan bangsa di abad ke-14, melalui pendidikan di pesantren dan pondok yang dilakukan oleh guru agama, kia, dan ulama.



Diorama lainnya yang elok adalah penggambaran Armada Perang Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Majapahit memperkuat armada perangnya untuk menjaga keutuhan wilayah Nisantara serta untuk mengatasi gangguan keamanan diantaranya oleh armada Tiongkok. Setelah Majapahit, tidak ada lagi kerajaan di Jawa yang memiliki armada laut yang kuat.



Sebagai negara kepulauan mestinya Indonesia menjadi negara maritim yang kuat, sebagaimana dahulu Sriwijaya dan Majapahit. Kekuatan maritim yang kuat bukan saja menjadi pertahanan buat keutuhan negara kesatuan RI namun juga untuk menjaga kekayaan alam yang ada di laut.



Penggambaran peristiwa Sumpah Palapa yang dikeluarkan oleh Mapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit pada 1331. Gajah Mada bersumpah untuk tidak makan Palapa (nasi dan lauknya) sebelum Nusantara disatukan dibawah Majapahit. Sumpah itu mendahului idealisme persatuan Indonesia, yang diperjuangkan oleh para perintis kemerdekaan sejak 1908.



Ada pula diorama menggambarkan Candi Jawi, dibangun pada 1292 pada jaman Kartanegara, yang merupakan gabungan Candi Siwa dan Buddha. Kartanegara adalah raja terakhir Kerajaan Singasari, sebuah kerajaan Hindu dekat Pandakan, Jawa Timur. Di bagian atas candi ini terdapat patung Buddha Aksobhya, sedangkan di bagian bawahnya terdapat Arca Siwa Mahadewa.



Diorama lainnya menggambarkan pembangunan Bendungan Waringin Sapta yang dibuat pada abad ke-11 oleh Raja Airlangga. Bendungan itu dimaksudkan untuk mengendalikan aliran Kali Brantas yang kerap meluap dan menimbulkan banjir, dan untuk membuat saluran irigasi bagi para petani.



Diorama kehidupan pada masa kejayaan kerajaan Jawa lama, ditandai dengan didirikannya Candi Borobudur pada 824 M oleh Raja Samaratungga dari keluarga Sailendra dengan sumbangan dari para penganut agama Budha. Borobudur yang berbentuk stupa raksasa itu menjadi cermin alam semesta.



Pembangunan Candi Borobudur konon menghabiskan hampir dua ribu kaki kubik batu. Di dalamnya terdapat 504 Arca Budha, serta sejumlah 1555 stupa ukuran besar kecil.



Diorama kesibukan Pelabuhan Sriwijaya pada abad 8 – 13 M di Museum Sejarah Nasional Indonesia. Pelabuhan samuderanya menjadi titik simpang jalur utama perdagangan Indonesia – Tiongkok – India yang membuat Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dan budaya di Asia dan membawa kemakmuran bagi rakyat dan Dinasti Syailendra.



Penggambaran masyarakat Indonesia Purba yang hidup antara 3000 – 2000 SM. Pada jaman megalitikum itu sudah ada kehidupan masyarakat yang teratur dengan peninggalan budaya tersebar di seluruh Indonesia, seperti di Besuki, Cabenge, Cibalay, Gilimanuk, Gunung Padang, dan di Pasemah. Hasil budaya megalitikum yang terpenting adalah alat serpih, menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, punden berundak, dan arca. Di Situs Cibalay masih banyak peninggalan jaman megalitikum yang belum lagi digali.



Penentuan Pendapat Rakyat Irian Jaya (PEPERA) pada 1969 dibawah pengawasan PBB, sebagai pelaksanaan Persetujuan New York tahun 1962. Keputusan Dewan Musyawarah PEPERA dengan suara bulat memilih Irian Jaya tetap bagian RI yang disahkan PBB pada 19 November 1969 dengan 84 suara setuju, 6 menolak, dan 30 suara abstain.



Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret 1966, yang kemudian digunakan oleh Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia dan membersihkan kabinet dari menteri-menteri yang ada indikasi terlibat G 30 S/PKI.



Mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang didukung ABRI, partai politik dan organisasi massa mengadakan demonstrasi pada 11 Januari 1966 - 11 Maret 1966 dengan mengajukan Tri Tuntutan Rakyat.



Pada 1 Oktober 1965, G30 S / PKI melakukan pembunuhan terhadap pimpinan TNI-AD, yang jenazahnya baru diangkat dari sumur di Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965. Tanggal 1 Oktober kemudian diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila.



Presiden Soekarno mengumumkan Tri Komando Rakyat pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta. Pada 1 Mei 1963 berlangsung upacara penyerahan Irian Jaya kepada Indonesia yang diwakili oleh Sudjarwo Tjondronegoro di Jayapura.



Pemilihan Umum pertama pada tahun 1955 diikuti 48 partai politik untuk memilih wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 29 September 1955, dan untuk memilih wakil-wakil rakyat di Dewan Konstituante pada tanggal 15 Desember 1955.



Penggambaran suasana Konferensi Asia – Afrika di Bandung yang berlangsung pada tanggal 18 – 24 April 1955. Pembahasan mencakup usaha penyelamatan dunia dari perang nuklir, dan pembentukan dunia baru yang aman, damai, bebas dari kolonialisme.



Indonesia menjadi anggota PBB pada 28 September 1950.



Diorama yang menggambarkan kembalinya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 1950. Republik Indonesia Serikat yang diterima sebagai sebuah hasil kompromi berlawanan dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Rakyat dari seluruh daerah menolak konsep federasi dan menuntut kembalinya negara kesatuan. Oleh karenanya, anggota RIS secara spontan mendeklarasikan penyatuan kembali Republik Indonesia.



Dioarama yang menggambarkan suasana upacara Pengakuan Kedaulatan di Jakarta yang dipimpin Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan pengibaran Sang Saka Merah Putih. Perjuangan militer dan diplomasi melawan militer Belanda, yang berujung pada tekanan Dewan Keamanan PBB, memaksa Belanda ke meja perundingan.



Pada 7 Juli 1949 tercapai kesepakatan untuk mempersiapkan Konferensi Meja Bundar untuk membicarakan pengakuan kedaulatan Indonesia. Pada KMB yang berlangsung di Den Haag pada 27 Desember 1949 itulah pemerintah Belanda akhirnya bersedia mengakui kedaulatan Indonesia melalui pembentukan Republik Indonesia Serikat.



Ibukota RI, Yogyakarta, direbut Belanda dalam aksi militer kedua pada tanggal 19 Desember 1948 dan para pemimpin pemerintahan ditangkap. Pemerintahan Darurat dipindahkan ke Bukittinggi, dan Jenderal Sudirman memimpin perang gerilya dan baru kembali pada Juli 1949 setelah tercapai persetujuan dengan Belanda melalui perundingan.



Perang gerilya mempertahankan kemerdekaan yang berlangsung tahun 1945 - 1949.



Integrasi Timor Timur tahun 1976.



KTT ke-10 Negara-Negara Non Blok pada tahun 1992



Keberhasilan uji terbang perdana N-250 produksi IPTN Bandung pada 10 Agustus 1995, dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.



Fasilitas bagi difabel di Museum Sejarah Nasional Indonesia.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.