Foto Gereja Immanuel

Hal paling menarik ketika sampai di ruang utama Gereja Immanuel Jakarta adalah pipa-pipa orgel cantik yang panjang dan besar di ujung ruangan. Kipas-kipas kecil tampak terpasang pada dinding diantara jendela sebagai pendingin ruang Gereja Immanuel Jakarta yang sepertinya tidak menggunakan sistem pendingin AC ini.



Bagian dalam kubah Gereja Immanuel Jakarta memiliki sepuluh pasang garis konsentrik yang membagi kubah menjadi sepuluh bagian sama besar. Pada puncak tengah kubah terdapat menara bundar dengan pilar-pilar kecil yang dari sela-selanya masuk berkas sinar ke dalam ruangan. Di tengah menara terlihat hiasan bunga teratai dengan enam helai kelopak.



Ruang utama Gereja Immanuel Jakarta dilihat dari area di bawah orgel. Pada dinding kiri kanan di belakang Olyve dan Alex, terdapat pigura-pigura panjang besar yang berisi daftar nama pemimpin jemaat serta tahun pelayanannya. Salah satunya Nicolaus Molinaeus yang memimpin jemaat Portugis pada 1633. Ia adalah salah satu dari 12 pelajar sekolah agama di Belanda yang mendapat beasiswa dan sebagai imbalannya diwajibkan untuk melayani jemaat Portugis di Batavia selama dua kali masa didiknya.



Orgel indah yang masih berfungsi mengiringi acara kebaktian gereja itu dibuat tahun 1843 oleh Jonathan Batz di Utrecht, Belanda. Pada 1985, orgel Gereja Immanuel Jakarta ini dibongkar untuk dibersihkan. Hal menarik lainnya adalah balkon tempat duduk jemaat yang membelah dinding melingkar Gereja Immanuel Jakarta menjadi dua bagian sama besar.



Pigura-pigura panjang besar yang terlihat telah berumur tua menempel pada dinding tinggi di susu samping dan belakang mimbar yang berisi daftar nama-nama pemimpin jemaat serta tahun pelayanannya.



Nama paling atas adalah Nicolaus Molinaeus yang memimpin jemaat Portugis pada tahun 1633. Ia adalah salah satu dari 12 pelajar sekolah agama di Belanda yang mendapat beasiswa dan sebagai imbalannya diwajibkan untuk melayani jemaat Portugis di Batavia selama dua kali masa didiknya.



Daftar para pendeta Gereja Injili yang mulai ada sejak 1855 dengan JGG Bierhaus hingga tahun 1951 dengan R Ploeger. Dalam setahun bisa ada beberapa orang yang tercantum pada daftar, namun tidak setiap tahun berganti orang juga.



Salah satu pintu dengan pengeras suara warna hitam menempel pada salah satu sisinya. Jendela di kiri kanannya bertutup kaca dan dimatikan dengan pelindung lempengan besi. Keamanan rupanya menjadi hal yang penting untuk tempat tua bersejarah seperti ini.

Di atas adalah balkon melingkar berisi tempat duduk jemaat, dengan ornamen pada dinding diantara jendela. Antara jendela dan kubah ada ornamen repetitif selang seling motif bunga dan orang.



Paruh dalaman kubah yang memperlihatkan ornamen pada dalaman puncak luar kubah. Kayu-kayu yang disusun membentuk garis-garis pada dalaman kubah itu terlihat agak aneh karena di tepi luarnya mengikuti lengkung kubah namun makin ke arah tengah makin lurus seperti jaring laba-laba.



Paruh kanan ruang utama Gereja Immanuel Jakarta memperlihatkan dua tingkat bangku kayu melengkung mengikuti bentuk dinding, dan delapan deretan kursi kayu berpenyangga tangan yang berjejer rapi menghadap ke arah mimbar.



Paruh kiri ruang utama Gereja Immanuel Jakarta yang merupakan bayangan cermin sisi lainnya. Sejumlah lampu kristal tampak menggantung di beberapa titik di bawah balkon yang melingkar. Langit mendung serta tidak dinyalakannya semua lampu membuat suasana di dalam ruangan ini tampak agak remang.



Cawan piringan terbuat dari kuningan dengan ukiran indah serta perlengkapan upacara lainnya yang diletakkan di atas meja. Ada tulisan digrafir pada tepian cawan serta di beberapa bagian tengahnya. Cawan untuk upacara perjamuan kudus itu pada puncaknya terdapat patung domba, berangka tahun 1863.



Tempat air berangka tahun 1740 merupakan salah satu perlengkapan pada upacara perjamuan kudus yang diselenggarakan Gereja Immanuel Jakarta.



Bagian mimbar Gereja Immanuel dengan kain hijau berlambang bintang putih dalam lingkaran orange. Pada meja bertaplak kain hijau terdapat tempat air, piring dan tempat minum, serta cawan piringan di sisi kirinya.



Bagian awal tangga ulir menuju ke lantai dua Gereja Immanuel dengan bonggol segiempat dan bulatan setengah lingkaran di puncaknya. Mengikuti alur uliran tapak tangga kayu itu lebar di satu sisi dan sempit di sisi lainnya.



Tangga ulir elok yang keseluruhannya terbuat dari kayu ini masih terbilang cukup baik kondisinya dan tidak ada kekhawatiran untuk menapakinya, meski tetap harus hati-hati karena bisa saja terpeleset jika melangkah sembarangan.



Papan kunci piano pipa Gereja Immanuel Jakarta yang tutupnya harus dilepas terlebih dahulu seluruhnya untuk bisa melihatnya.



Ruang utama Gereja Immanuel Jakarta dilihat dari balkon di samping orgel. Tidak ada ruang di bawah pipa orgel, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat foto yang simetris dari atas balkon.



Mengintip lewat sebuah lubang cahaya di belakang balkon memperlihatkan pilar besar pada teras depan Gereja Immanuel Jakarta yang menghadap ke arah Stasiun Gambir.



Berjalan melewati bangku-bangku di sepanjang balkon melingkar itu saya bisa mendapatkan foto simetris pipa-pipa orgel raksasa dari ujung balkon tepat di atas mimbar.




Pipa orgel di balkon lantai dua dengan dalaman puncak kubah yang diambil dari atas mimbar Gereja Immanuel Jakarta. Warna dalaman kubah tampak sudah agak kusam dan sudah memerlukan pengecatan ulang.



Sudut pandang melebar yang hanya bisa menjangkau puncak pipa orgel saja untuk mendapatkan sekaligus lubang cahaya pada puncah kubah. Jika dilihat abstraktif dalaman kubah ini berbentuk seperti kaki dan jaring laba-laba.



Bangku kayu melingkar dua tingkat pada balkon Gereja Immanuel Jakarta. Kondisi bangku-bangku kayu itu masih dalam keadaan sangat baik, licin tak berdebu, pertanda dirawat dan sering dibersihkan.



Pandangan tegak pada orgel yang menjadi daya tarik utama dari Gereja Immanuel, selain kubah, dan ornamen-ornamen lainnya yang terlihat klasik dan elok.



Pandangan dekat pada piano dengan pelat merk yang sudah menua, serta tiga buah pelat berderet tegak di sisi sebelah kanannya.



Sesaat sebelum meninggalkan halaman Gereja Immanuel Jakarta saya sempat mengambil foto yang memperlihatkan bentuk gedung dilihat dari samping belakang. Namun karena sudut pengambilannya yang sempit dan terburu-buru, kubah Gereja Immanuel Jakarta hanya terlihat sepotong.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.