Foto Dari Penjara ke Pigura Galeri

aroengbinang.com - Karya instalasi berupa sebuah kursi rotan (di Jawa juga dikenal dengan nama penjalin) yang sudah terlihat tua dan jebol di sana-sini itu diberi judul "Kesaksian I" yang dipamerkan di Galeri Komunitas Salihara ketika itu. Pembuatnya adalah S. Malela Mahargasari yang berkarir di majalah Tempo dan menduduki sejumlah jabatan di sana.

s malela mahargasari galeri salihara jakarta

Lukisan potret figuratif berjudul "Red, green, blue (Debus II Tan Malaka)" karya Edo Pillu yang dipamerkan di Galeri Komunitas Salihara. Edward Pilliang adalah alumnus ISI Yogyakarta, lahir di Yogyakarta pada tahun 1968. Karyanya telah merambah ke hingga tingkat internasional.

tan malaka edo pillu galeri salihara jakarta

"No Title" oleh Hanafi yang dipajang di Galeri Komunitas Salihara. Tulisan yang tertera adalah : Aku sudah dua kali masuk penjara penjajah belanda. selama itu nasib yang ku alami biasa saja. Artinya masuk penjara ya masuk, sampai waktu yang ditentukan keluar. selama dalam penjara diharuskan bekerja. Titik! Tetapi di penjara Jepang jauh berbeda. Aku melihat, suamiku pun melelehkan air mata. baru kali itulah Aku melihat dia menangis. Apa sebabnya? Tentu jawabnya kureka-reka sendiri. mungkin dia memikirkan anaknya bayi yang baru berumur dua bulan. Andai kata Aku mati dan dia pun mati karena disiksa, tentunya bayi ini keumngkinan matinya lebih besar. Karena sebelum Aku ditangkap oleh Jepang, rumahku sudah dijaga oleh resisir (?) 8 orang. Kami tidak boleh keluar masuk dan tidak boleh menerima tamu. (S.K. Trimurti).

hanafi galeri salihara jakarta

"Kami Ingin" oleh Hanafi, berisikan kata-kata yang ada di dalam surat Kartini ke Stella yang dimaperkan di Galeri Komunitas Salihara ketika itu.

"Tidak Stella, Aku tidak mau mengutip lebih lanjut, mungkin suatu hari nanti, Aku akan mengirimkan seluruh usulan itu sehingga dari situ Kami bisa menyimpulkan seperti apa keadaan Rakyat dewasa ini. Ayah akan melakukan apa yang ia bisa lakukan untuk mengangkat nasib Rakyat. Akupun demikian. Ayah juga sangat erat dengan Leluhur-nya yang tertua di seluruh Pulau Jawa. Tapi hak adalah hak dan Adil adalah adil. Kau Tahu, dalam hal Pendidikan dan Kebudayaan Kami ingin sederajat dengan Orang Orang Belanda, hak dan Keadilan yang Kami Perjuangkan itu juga harus Kami berikan pada orang lain, mempersulit Pendidikan untuk Rakyat sama saja dengan tindakan Czar yang berkhotbah tentang Perdamaian dunia sementara dia menginjak injak hak orang lain, dan malah mengedepankan haknya sendiri. Dua peraturan satu untuk Kami satu untuk mereka. Tidak!"

hanafi galeri salihara jakarta

"Don’t push me", karya instalasi Teguh Ostenrik di Galeri Komunitas Salihara.

teguh ostenrik galeri salihara jakarta

"Mitos atau Tidak (Bendera Baju)", karya instalasi Mella Jaarsma di Galeri Komunitas Salihara. Mella Jaarsma besar di Belanda dan belajar visual art di 'Minerva' Academy di Groningen (1978-1984) dan lalu pergi ke Indonesia untuk belajar di IKJ (1984) dan ISI (1985-1986).

mella jaarsma galeri salihara jakarta