Foto Museum Pengkhianatan PKI 2

aroengbinang.com - Diorama Pembunuhan di Kawedanan Ngawen, Blora, 20 September 1948. Markas Kepolisian Distrik Ngawen diserang pasukan PKI pada 18 September 1948, dan menahan 31 anggota polisi. Pada 20 September 1948, atas perintah Komandan Pasukan PKI Blora, tujuh diantaranya dibunuh secara bergantian dengan menjepit leher mereka dengan dua batang bambu yang dipegang dua orang. Mayat ketujuh orang itu lalu dibuang ke kakus di belakang kawedanan dan ditembak.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Diorama Muso Tertembak Mati, 31 Oktober 1948. Pada 1 Oktober 1948, TNI menguasai Dungus yang dijadikan PKI sebagai basis setelah kekalahan mereka di Madiun. Pemimpin dan pasukan PKI lari ke arah selatan, berusaha menguasai Ponorogo, namun gagal. Musso dan Amir Sjarifuddin lari menuju gunung Gambes, dikawal oleh dua batalyon yang cukup kuat. Mereka berpisah di tengah perjalanan. Musso bersama dua orang pengawalnya menyamar sebagai penduduk desa, tiba di Balong pada pagi 31 Oktober 1948, ia menembak mati seorang anggota Polisi yang memeriksanya.

Dengan naik dokar rampasan diiringi pengawal bersepeda, hari itu juga ia tiba di desa Semanding, Kecamatan Somoroto. Ia menembak seorang perwira TNI yang mencegatnya, namun tidak mengenai sasaran. Karena tidak bisa menjalankan kendaraan TNI rampasan, Musso lari masuk desa, bersembunyi di sebuah blandong (tempat mandi) milik seorang penduduk. Pasukan TNI yang mengepungnya memerintahkan supaya ia menyerah, namun Musso melawan. Ia mati tertembak dalam peristiwa itu.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Pembunuhan Massal di Tirtomoyo, 4 Oktober 1948. Meski Madiun telah direbut oleh pasukan TNI, namun gerombolan PKI masih terus melakukan tindak kekejaman terhadap lawan-lawan politiknya. Di daerah Wonogiri mereka melakukan teror terhadap rakyat dan menculik sejumlah pejabat pamong praja seperti bupati, wedana, polisi, ulama dan rakyat lainnya. Para tawanan yang seluruhnya berjumlah 212 orang disekap di ruangan bekas laboratorium dan gudang dinamit di Bukit Tirtomoyo.

Sejak tanggal 4 Oktober 1948 sebagian tawanan mulai dibunuh setelah terlebih dahulu mengalami siksaan. Ada yang langsung disembelih, ditusuk dengan bambu runcing dan bayonet, atau lehernya dijerat dengan kawat, bahkan ada yang dilempari batu sampai mati dalam keadaan tangan terikat. Pembunuhan yang menelan 56 korban jiwa itu akhirnya bisa dihentikan setelah diserbu oleh Batalyon Nasuhi dan Kompi S Militaire Academic (MA) pada sore hari tanggal 14 Oktober 1948. Sergapan didahului dengan serangan yang dilakukan tiga orang kadet MA yang berhasil melumpuhkan penjaga tahanan, dan membuat gerombolan PKI terkejut, panik, dan melarikan diri.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Satu rombongan pengunjung, tampaknya sebuah keluarga, tengah mengamati salah satu diorama di Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya. Tersedianya informasi yang cukup lengkap di bawah masing-masing diorama sangat membantu bagi pengunjung. Pembuatan diorama juga dilakukan dengan baik dan bisa menggambarkan peritsiwa yang terjadi.

museum pengkhianatan pki lubang buaya

Penangkapan Amir Syarifudin, 29 November 1948. Setelah berpisah dari Musso, melalui perjalanan panjang dan sulit, Amir Sjarifuddin tiba di daerah Purwodadi dan bersembunyi di gua Macan di Gunung Pegat, Kecamatan Klambu. Semula polisi keamanan yang menjaga garis demarkasi Demak-Dempet-Gendong, tidak jauh dari tempat persembunyiannya, adalah orang-orang komunis, sehingga ia merasa aman.

Setelah TNI melucuti Polisi Keamanan itu dan melancarkan operasi-operasi pembersihan di sekitar daerah Klambu, posisi Amir Sjarifuddin pun terjepit. Pada 22 Nopember 1948 pasukan pengawalnya menyerah, dan Senin sore 29 Nopember 1948 tempat persembunyiannya dikepung TNI. Amir Sjarifuddin dan beberapa tokoh PKI lainnya pun menyerah dan diserahkan kepada komandan Brigade-12 di Kudus.

museum pengkhianatan pki lubang buaya