Foto Museum Kebangkitan 4

aroengbinang.com - Poster yang menceritakan pemicu meletusnya Perang Diponegoro, hingga akal licik Belanda berhasil menangkap sang pangeran dan membuangnya ke tempat pengasingan.

museum kebangkitan nasional jakarta

Poster mengenai sejarah pergolakan yang terjadi di Sulawesi Selatan dan Kepulauan Maluku karena nafsu kolonialisme Belanda, selain karena pertentangan diantara penguasa lokal sendiri yang dimanfaatkan dengan baik oleh penjajah untuk memecah belah kekuatan perlawanan.

museum kebangkitan nasional jakarta

Jubah Sultan Thaha Syaifudin (1816 - 1904). Nama kecilnya adalah Thahaningktar. Setelah naik tahta dan menggunakan gelar Sultan Thaha Syaifudin, ia tak mau melanjutkan perjanjian dengan kompeni, sehingga mendapat ancaman dan serangan armada Belanda. Dengan dukungan rakyat Jambi dan strategi perang yang baik, beliau sanggup melakukan perlawanan dan tak bisa ditangkap sampai wafat pada 26 April 1904 dan dimakamkan di Muaro Tebo, Jambi.

museum kebangkitan nasional jakarta

Manekin yang menggambarkan tokoh Cut Nyak Dien (1850-1908). Ia terjun langsung di medan pertempuran melawan Belanda. Suaminya tewas pada 1899, dan ia ditangkap pada 1906 lalu dibuang ke Kutaraja, selanjutnya dipindah ke Sumedang hingga wafatnya pada 6 November 1908. Di sebelahnya adalah Martha Christina Tiahahu (1801-1818) yang mendapat predikat Mutiara dari Nusa Laut. Di sebelahnya lagi adalah Nyi Ageng Serang (1752-1828), yang pada saat Perang Diponegoro dan diangkat sebagai penasehat perang beliau sudah berusia 73 tahun. Atas anjuran beliau, pasukan Diponegoro memakai Daun Lumbu sebagai penyamaran dalam pertempuran.

museum kebangkitan nasional jakarta

Di latar depan adalah miniatur kapal layar VOC Belanda, dan sebuah miniatur meriam kecil di sebelah kanannya. Di latar belakang adalah lukisan yang menggambarkan perjuangan para pahlawan dalam usaha mengusir penjajah dari tanah air.

museum kebangkitan nasional jakarta