Foto Masjid Agung Kyai Mojo 5

Pandangan ke arah selatan dari dek pandang menara Masjid Agung Kyai Mojo yang memperlihatkan pinggiran Danau Tondano, melewati lahan persawahan yang luas dan subur. Jika ditarik garis lurus, jarak dari masjid ke tepian danau adalah sekitar 3 km.

masjid agung al-falah kyai mojo minahasa sulawesi utara

Masih dari dek pandang menara Masjid Agung Kyai Mojo yang mengarah ke Danau Tondani dengan bangunan gereja menjulang lebih tinggi dari bangunan rumah warga yang ada di sekitarnya. Tanaman padi di latar depan terlihat masih muda dan ada sejumlah petani yang saat itu tengah bekerja di sana.

masjid agung al-falah kyai mojo minahasa sulawesi utara

Kaligrafi di puncak Masjid Agung Kyai Mojo yang berbunyi 'Allah' dengan lampu diletakkan di sebelahnya. Puncak masjid tentu saja lebih rendah dari dek pandang dimana kami berada, sehingga kami seperti memiliki pemandangan seekor burung yang terbang di atas atap masjid.

masjid agung al-falah kyai mojo minahasa sulawesi utara

Foto terakhir dari dek pandang menara Masjid Agung Kyai Mojo yang saya tujukan ke arah Danau Tondano. Belakangan baru tahu bahwa mestinya saya juga bisa mengarahkan lensa tele untuk melihat Benteng Moraya, yang entah mengapa tak pula saya kunjungi saat berada di Tondano. Namun sepertinya benteng itu belum dibangun kembali ketika kami ada di sana.

masjid agung al-falah kyai mojo minahasa sulawesi utara

Pilar beton dengan bilah-bilah pagar besi cantik menyerupai tusuk sate dipasang sebagai pagar depan Masjid Agung Kyai Mojo, yang mengingatkan pada bentuk tusuk sate yang ada pada puncak Gedung Sate di Bandung. Di bagian tengah pagar yang artistik itu terdapat pintu pagar dengan desain yang tak biasa namun cukup cantik.

masjid agung al-falah kyai mojo minahasa sulawesi utara

Tengara nama Masjid Agung Al-Falah Kyai Modjo Kabupaten Minahasa, di Kelurahan Kampung Jawa, Tondano. Nama sang kyai pada tengara nama ini ditulis dengan menggunakan ejaan lama. Adalah sebuah ironi bahwa Kyai Mojo yang berjuang melawan Belanda dengan semangat hendak mendirikan negara berdasar syariat agama Islam, yang dalam soal ini berbeda pendapat dengan Pangeran Diponegoro, harus hidup di pengasingan yang mayoritas warganya justru beragama Kristen, dan hidup damai di sana bersama pengikutnya, kawin campur dan melahirkan keturunan campuran Jawa Minahasa.

Sudah benar bahwa para pendiri negara ini memutuskan mendirikan NKRI, bukan berdasar agama tertentu, karena hanya dengan bentuk seperti itulah persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia bisa terus terpelihara, oleh sebab setiap orang memiliki hak dan kewajiban sama yang dijamin oleh undang-undang, tanpa memandang suku, agama dan kepercayaannya.

masjid agung al-falah kyai mojo minahasa sulawesi utara

©2020 aroengBinang