Foto Makam Mbah Lancing 1

Bagian dalam cungkup dengan pilar kayu berukir, yang ternyata tidak ada makam di dalamnya. Di ujung ruangan ada tulisan "Makam Eyang Agung Lancing", dengan kain beludru digelar di lantai di sebagai tempat duduk bagi para peziarah. Rupanya Makam Mbah Lancing justru berada di belakang cungkup, di tempat terbuka tanpa atap sama sekali.

makam mbah lancing kebumen

Pintu masuk ke Makam Wonodikromo I, keponakan Kyai Dipodrono, atau cucu dari sepupunya Mbah Lancing. Di sekitar si Mbah memang ada sejumlah makam yang sering dikunjungi peziarah, yaitu Makam Eyang Wongsojoyo, Makam Eyang Wonoyudo Inggil, dan Makam Eyang Wonoyudo Kantong. Namun saya sempat berkunjung ke Makam Eyang Wongsojoyo dan Makam Eyang Wonoyudo Inggil.

makam mbah lancing kebumen

Satu makam lagi terpisah di sebelah kanan ditutupi kain hijau adalah makam Kyai Dipodrono, putera Wonoyuda Halus. Mbah Lancing terhitung paman dari Wonoyudo Halus yang juga dikenal sebagai Kyai Wongsojoyo V. Nama asli Mbah Lancing Mirit konon adalah Kyai Baji, nama yang terlalu pendek menurut saya.

makam mbah lancing kebumen

Sudut pandang lain dari Makam Mbah Lancing yang sangat unik, dengan tumpukan kain batik menggunung di atas pusaranya. Di sebelah Makam Mbah Lancing adalah makam ayahnya yang bernama Kyai Ketijoyo. Di latar depan adalah bekas bakaran dupa yang telah menggunung tinggi. Entah berapa ribu orang yang telah menyumbang pada gunungan dupa itu.

makam mbah lancing kebumen

Untuk masuk ke makam Eyang Wongsojoyo peziarah harus membuka alas kaki dan menapak di atas pasir yang cukup tebal. Suasana di makam ini juga sepi saat itu. Menjelang sore dan malam hari, apalagi pada malam Jumat Kliwon, tempat ini mungkin akan sangat ramai peziarah, yang datang dengan menyimpan berbagai niat dan keinginan di hatinya.

makam mbah lancing kebumen

©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.