Foto Curug Ngumpet

Beberapa pengunjung tampak tengah menikmati suasana di bagian depan Curug Ngumpet Bogor ketika kami tiba. Saya merasa cukup beruntung ketika berada di area air terjun ini karena cuaca cukup baik. Air tidak begitu deras dan angin tidak begitu kencang sehingga tidak sampai membawa kabut air yang bisa membasahi tubuh dan terutama kamera.



Dengan batuan besar terserak di mana-mana di sepanjang sungai yang membuat saya mudah menemukan tempat aman untuk meletakkan kamera saat memotret dengan kecepatan rendah agar mendapatkan gambar Curug Ngumpet Bogor yang halus. Sebuah trik yang suka saya lakukan ketika sedang tidak membawa tripod.



Berfoto diantara bebatuan yang berlumut warna kehijauan segar di latar depan memberi kontras yang indah dengan warna air Curug Ngumpet Bogor yang putih keperakan di belakangnya. Bagi pasangan pejalan, foto prewed di tempat wisata ini mungkin memberi nuansa berbeda. Setidaknya ada kesan alami kuat yang bisa ditangkap oleh kamera.



Pandangan yang memperlihatkan kolam kecil di bawah air terjun serta menampilkan beningnya air yang merendam bebatuan kecil di latar depan. Di sisi sebelah kanan aliran sungai juga terdapat tebing yang menjadi ujung jalan yang dilalui pengunjung. Di sana ada titik alami yang nyaman di bawah sebuah pohon untuk menikmati suasana di sekeliling curug.



Dewi dan sepasang pengunjung berada di sekitaran aliran sungai di bawah Curug Ngumpet yang dipenuhi bebatuan besar. Ada dua karpet air yang jatuh dari atas, yang terbelah oleh sebuah batu besar di puncak tebing.



Di sisi sebelah kanan aliran sungai juga terdapat tebing yang menjadi ujung jalan yang dilewati pengunjung. Di sana ada sebuah titik alami yang nyaman di bawah sebuah pohon yang tak terlalu besar untuk menikmati suasana di sekeliling Curug Ngumpet.



Kedua pengunjung yang tadi berada di sekitaran telah pergi meninggalkan lokasi, dan Dewi tengah melihat foto yang diambilnya baru saja dengan BB-nya. Berkas sinar di sebelah kanan tengah terbentuk dari kabut air yang melayang dari air yang jatuh.



Jika saat itu pengunjung hanya bisa duduk di atas batu dan berlindung dibalik sebatang pohon yang tidak begitu besar, maka saat ini sekitaran Curug Ngumpet tampaknya sudah ada perubahan lebih baik. Bongkah batu besar yang berada di tebing Curug Ngumpet itu menandai adanya aktivitas gunung berapi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini. Gunung Salak memang pernah meletus dahsyat hingga menghancurkan Istana Bogor.



Pemandangan ke arah hilir sungai di bawah Curug Ngumpet. Batu-batu besar masih banyak terlihat terserak di sana. Jika saja punya waktu mungkin akan menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk berjalan menyusuri sepanjang aliran sungai. Hanya saja harus sangat beresiko bila dilakukan di musim hujan atau setelah siang hari di musim kemarau sekalipun.



Meskipun pada kenyataannya kabut air sungai seperti ini tak akan terlihat ketika pengunjung datang ke Curug Ngumpet, namun aliran air yang dingin jernih akan menjadikan tempat ini pengobat lelah yang manjur bagi pengunjung setelah berkendara menempuh jalan yang cukup jauh dari Jakarta, misalnya, ke tempat ini.



Bergaya di atas batu hijau lumut dengan latar depan kabut air sungai, dan latar belakang karpet air yang jatuh dari atas tebing akan menjadi kenangan sangat menyenangkan ketika tiba kembali di rumah.



Tak sebagaimana banyak air terjun lain yang harus ditempuh dengan jarak cukup jauh, menuruni undakan yang banyak, tidak demikian dengan Curug Ngumpet. Ini merupakan curug yang bisa dinikmati keindahannya tanpa harus mengeluarkan energi banyak, baik ketika datang maupun pulang.



Dewi dengan latar air jatuh dan latar depan batu berlumut yang terlihat kontras dan elok. Umumnya lebih baik berkunjung ke sebuah curug setelah musim penghujan. Meski debit air akan lebih kecil namun air terjun akan terlihat jernih putih seperti kapas.



Lita dan Dewi berdiri di dekat kolam Curug Ngumpet dengan butir-butir air jatuh dari puncak tebing yang menyerupai bola-bola salju kecil ketika dipotret dengan kecepatan agak tinggi.



Menjadi jauh berbeda dan halus air terjunnya ketika dipotret dengan kecepatan kamera yang lambat. Tantangannya adalah obyek orang harus sediam mungkin, karena gerakan tubuh atau kepala yang kecil sekalipun akan membuat foto orangnya menjadi kelihatan berbayang dan kabur.



Agak ditarik ke belakang juga terlihat cantik dengan batu-batu besar berlumut menjadi penghias latar depan, dan air jatuh seperti ribuan jarum yang melayang turun. Fotografer profesional bisa mendapatkan foto prewed yang hebat di tempat ini.



Butir air terjun kasar yang diambil dengan kecepatan penutupan shutter tinggi juga bisa menjadi latar foto yang bagus, apalagi jika debit air sedang besar di sekitar musim penghujan.



Pandangan pada tebing Curug Ngumpet lainnya, dengan serak batuan yang bertebaran di batang sungai di bawahnya.



Umumnya waktu terbaik untuk berkunjung ke sebuah curug adalah di mendekati akhir musim penghujan, ketika debit air masih cukup besar dan airnya jernih.



Nama air terjun Curug Ngumpet ini memang terdengar tidak begitu merdu ditelinga sehingga membuat orang bisa sengaja melewatinya. Nama, sebagaimana penampilan, kadang bisa juga menipu orang.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.