Foto Curug Cijalu

Beberapa orang penduduk tampak berjalan kaki di jalan yang masih mulus aspalnya, namun sayangnya waktu itu hanya sebagian saja yang jalannya masih bagus seperti ini. Setelah berkendara selama beberapa menit akhirnya kami masuk ke jalanan berbatu di tengah perkebunan teh yang sangat luas. Meski aspalnya sudah terkelupas habis, menyisakan bebatuan yang membuat kendaraan sering terguncang dan harus berjalan lambat, namun pemandangan alam ketika melewati perkebunan teh itu sangatlah indah!



Serombongan anak muda baru tiba di Curug Cijalu yang disebut anak yang saya temui beberapa saat sebelumnya sebagai Curug Cikondang dengan ketinggian air terjun yang cukup mengesankan, yaitu sekitar 90 m, ketika kami bersiap untuk meninggalkan tempat, kembali ke area parkir setelah beberapa lama menikmati suasana di tempat ini.



Setelah sekitar seperempat jam dari pertigaan jalan besar kami pun sampai di gerbang masuk Curug Cijalu Subang. Tidak ada penjaga yang bertugas di sana, mungkin karena bukan hari libur, sehingga kami pun lewat begitu saja di samping pos jaga, namun kami membayar karcis di lokasi curug.



Kami melewati jalan setapak berbatu dari area parkir kendaraan untuk menuju ke lokasi Curug Cijalu Subang. Di sebelah kiri jalan setapak ini adalah sebuah area terbuka yang cukup luas, beralas rerumputan hijau di tengah jajarana pohon pinus yang cukup padat dan rimbun, yang menjadi tempat dimana pengunjung biasa berkemah.



Lita dan mala dengan senjatanya masing-masing. Setelah masuk ke ke kiri di pertigaan jalan itu kami sempat berhenti selama beberapa saat untuk melihat dan menikmati pemandangan perbukitan indah di kejauhan.



Hamparan pohon teh yang luas dengan latar perbukitan yang dirimbuni pepohonan menjadi pemandangan yang mengasyikkan dalam perjalanan menuju ke lokasi Curug Cijalu.



Lita Jonathans di depan pokok kayu yang batang pohonnya entah sudah berada di rumah siapa. Latar perkebunan teh, pohon meranggas di samping pohon rimbun dan perbukitan subur membuat kami berhenti di tepi jalan untuk sejenak menikmatinya.



Sebatang pohon yang daunnya meranggas di kebun teh menjadi pemandangan yang sangat menghibur, di tengah alam yang hening. Kami nyaris tidak berpapasan dengan kendaraan bermotor selama perjalanan ini.



Kontur perkebunan teh yang terlihat indah dengan lekuk lembah dan lereng landai. Berbeda dengan Perkebunan Teh Ranca Bali, di sini tidak tak terlihat bentuk-bentuk menarik pada jalan setapak diantara pohon teh.



Sejauh mata memandang hanya ada pohon teh dan pepohonan rimbun yang menyejukkan mata. Pemandangan dalam perjalanan ke Curug Cijalu ini merupakan keindahan yang tak boleh dilewatkan begitu saja oleh para pejalan.



Sebuah jalan tanah cukup besar tampak membelah kebun teh yang konturnya menurun cukup tajam. Lintasan itu tampaknya digunakan oleh kendaraan pengangkut daun teh setelah dselesai pemetikan. Suasana di sini cukup sunyi dan menyenangkan.



Kami berhenti di beberapa titik sepanjang jalan untuk menikmati sejenak pemandangan yang indah seperti ini. Jika saja saat itu musim petik, tentu akan menjadi pemandangan yang sangat menarik dan lebih hidup suasananya.



Di sebuah belokan, dimana terdapat beberapa buah gubuk yang mungkin digunakan sebagai warung pada akhir pekan, kami akhirnya bisa melihat Curug Cijalu dari kejauhan. Sangat indah!



Meskipun deretan pepohonan cemara itu tidak begitu rindang, namun suasana di sekitar tempat parkir kendaraan Curug Cijalu ini cukup sejuk dan menyenangkan.



Tempat berkemah yang letaknya persis di sebelah area parkir kendaraan dan warung-warung makanan. Sepertinya cukup nyaman, apa lagi sumber air bersih berlimpah, udaranya sejuk, dan ada keamanan di sini.



Beberapa menit berjalan kami tiba di Curug Cilemper yang cukup tinggi, persis di kiri jalan, dengan bebatuan hitam sepanjang tebing curug yang dijadikan rambatan air. Debit air di curug ini tidak begitu besar, namun susunan batu hitamnya cukup menarik.



Mala di Curug Cilemper yang cukup tinggi. Meski debit airnya tak begitu besar namun airnya jernih dan curug ini memiliki susunan batu hitam yang elok.



Mala dan Lita di Curug Cilemper. Tak ada papan nama di depan curug ini. Adalah seorang bocah penjual makanan ringan yang mengatakan bahwa curug ini bernama Curug Cilemper.



Beberapa orang pengunjung tampak tengah meninggalkan lokasi berlatar belakang Curug Cikondang, yang semula kami kira sebagai Curug Cijalu.



Lita dan Mala dengan latar belakang elok yang memperlihatkan suasana dan aliran air yang sangat tinggi dari Curug Cikondang.



Aliran air Curug Cikondang ini tampaknya juga merambat melewati batuan hitam sebagaimana Curug Cilemper, hanya saja curug ini jauh lebih tinggi dan debit airnya lebih besar sedkit.



Pandangan lebih dekat ke Curug Cikondang, yang semula saya kira adalah Curug Cijalu. Foto dibuat dari jarak cukup dekat dan merupakan penggabungan dari tiga frame foto.



Kolam di kaki Curug Cikondang yang lumayan lebar dan memanjang bisa dipakai untuk mandi-mandi bagi yang ingin merasakan dinginnya air pegunungan. Hanya saja tak ada ruang ganti di sini.



Mala dan Lita dengan latar Curug Cikondang. Jarak dari area parkir ke curug ini tidak begitu jauh, dengan akses jalan yang relatif datar dan tidak terlalu sulit. Hanya saja karena banyak batuan maka pejalan harus cukup hati-hati agar tidak keseleo atau luka terantuk batu.



Serombangan anak-anak muda itu masih berada di bawah Curug Cikondang, sementara seorang pedagang makanan tampak tengah meniti jalan untuk mendekati rombongan itu berharap mendapatkan rejeki dari mereka.



Pandangan jalan berbatu dengan memunggungi Curug Cikondang. Memang agak merepotkan lewat jalan seperti ini, karena salah-salah melangkah bisa membuat kaki jadi runyam.



©2021 Ikuti

Traktir aku secangkir kopi, atau bacakan doa buat mereka yang membuat hidup lebih baik.