Kelenteng Fat Cu Kung Bio Glodok Jakarta Barat

January 02, 2020. Label:
Kunjungan ke Kelenteng Fat Cu Kung Bio di daerah Glodok Jakarta Barat ini terjadi ketika tengah berlangsung perayaan She Jit (Ulang Tahun) Dewa Fat Cu Kung dengan melaksanakan Acara Kirab Gotong Toa Pekong mengelilingi kawasan Pecinan di Jakarta Barat, pada Minggu 18 Oktober 2009. Sudah lama memang, namun baru sekarang saya menulis catatannya.

Acara tahunan itu berlangsung meriah oleh sebab bukan hanya merupakan kirab budaya Cina seperti penampilan Liong (Naga), Barongsay, dan Tatung (pertunjukan semacam debus), namun juga menampilkan arak-arakan kebudayaan Nusantara, pasukan pengibar Bendera Merah Putih, serta ada pula penampilan kelompok marching band.

Lokasi Kelenteng Fat Cu Kung Bio berada di Jalan Kemenangan VIII No. 12 - 14, Kelurahan Glodok, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, berjarak hanya sekitar 300 meter dari Kelenteng Jin De Yuan. Meskipun ramai pengunjung namun kami masih mendapatkan tempat parkir, walau sedikit agak jauh dari lokasi kelenteng.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta
Suasana di dalam Kelenteng Fat Cu Kung Bio cukup ramai saat itu, dan sedikit agak repot untuk masuk ke dalam ruangan kelenteng dimana orang-orang tengah bersembahyang setelah membakar beberapa batang hio. Jumlah batang hio yang dibakar bergantung pada niatan doanya.

Begitu banyaknya batang hio yang dibakar oleh umat yang datang silih berganti, membuat udara di dalam ruangan dipenuhi oleh kabut putih yang lama kelamaan membuat mata terasa pedih dan mengeluarkan air. Altar sembahyang di sebelah kiri dipersembahkan bagi Hian Tian Siang Tee, Hok Tek Ceng Sin, dan Couw Su Kong.

Dewa yang disebut terakhir mengingatkan saya pada kunjungan ke Kelenteng Tjo Su Kong di Tanjung Kait, Tangerang. Berbagai macam buah dan sayuran terlihat berjejer di atas meja, diapit oleh sejumlah hiolo yang umumnya terbuat dari kuningan, baik yang polos maupun yang berukir indah.

Acara Shejit Yang Mulia Kongco Fat Cu Kung ini biasanya digelar selama 2 hari, yaitu Sabtu dan Minggu. Di hari Sabtu pengurus kelenteng menerima Kim Sien (patung dewa dewi) dari kelenteng tamu. Malam harinya ada malam kesenian dan panggung hiburan, serta ramah tamah dengan pimpinan kelenteng.

Minggu pagi mulai jam 08.00 hingga jam 10.00 diselenggarakan ritual sembahyang Shejit, dilanjutkan dengan persiapan kirab. Kirabnya sendiri dimulai pada pukul 13.00, setelah selesai makan siang. Pembagian sembako bagi orang yang tidak mampu juga diselenggarakan sebagai bagian dari perayaan Shejit.

barongsay kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Seorang pria terlihat melambaikan rotan yang dibalut dengan pita-pita menyerupai bola api, seolah sedang mencoba menarik perhatian Barongsay untuk bermain. Mereka berada di depan pintu masuk Kelenteng Fat Cu Kung Bio.

Di belakang si pria tampak Kim Lo untuk membakar kertas sembahyang, hiolo yang diletakkan pada dudukan berhias naga, serta benda persembahan berupa buah dan sayuran di atasnya. Membakar kertas sembahyang dan hio selain sebagai sarana ritual juga ada aspek perputaran ekonomi dalam membantu para penjual kertas sembahyang dan hio.

Barongsay dengan warna dominan merah, yang sebelumnya berwarna kuning keemasan, juga mendekati ke arah pintu masuk Fat Cu Kung Bio, mungkin untuk mendapat berkah keselamatan sebelum ikut dalam kirab. Salah satu yang paling menarik dalam kirab , namun juga bisa mendirikan bulu roma bagi banyak orang yang melihatnya, adalah adanya Tatung, yaitu orang kerasukan yang menyakiti diri dengan menusuk tembus kedua pipinya menggunakan batang logam serta menyayat lidahnya dengan pedang.

Acara kirab diikuti oleh puluhan joli (tandu yang berisi patung para dewa) yang berasal dari berbagai kelenteng di seluruh Indonesia. Sepertinya ada semacam kesepahaman tak tertulis bahwa setiap kelenteng wajib mengirimkan joli sebagai partisipasi untuk mengagungkan kongco yang tengah berulang tahun.

Tuan rumah kelenteng ini adalah Fat Cu Kung (Fa Zhu Gong), dewa Tao yang dipercayai memiliki kesaktian luar biasa. Orang yang mengalami kesulitan hidup dan penyakit yang sulit sembuh sering meminta pertolongan kepada Fat Cu Kung. Orang juga bersembahyang di depan altarnya untuk memohon agar hidupnya menjadi lebih baik, serta untuk memohon berkah dan perlindungan.

Setelah mengambil foto patung dewa di dalam Kelenteng Fat Cu Kung Bio, saya keluar dari ruangan dan menunggu di jalan dekat kelenteng hingga acara kirab dimulai. Beberapa kelompok penabuh tambur berdatangan ke lokasi, salah satu penabuhnya adalah gadis remaja berusia sangat muda. Joli dengan hiasan sangat indah dikeluarkan dan siap diusung.

Ketika kirab budaya Kelenteng Fat Cu Kung Bio sudah akan dimulai, saya meninggalkan area kelenteng dan menunggu arak-arakan di dekat Toko Merah, dan terus mengikuti arak-arakan hingga setelah melewati Stasiun Kota, dan berhenti di sana, sampai sebagian besar peserta kirab lewat. Secara keseluruhan acara kirab Kelenteng Fat Cu Kung Bio Glodok ini berlangsung meriah dan sangat menarik untuk ditonton.

Jika ada waktu, sempatkan sesekali melihat acara yang biasanya berlangsung setiap bulan Oktober ini. Rute yang umumnya dilalui adalah dari Kelenteng Fat Cu Kung Bio di Jalan Kemenangan – Jalan Toko Tiga – Jalan Pintu Kecil - Jalan Kali Besar Barat - Jalan Kali Besar Timur 3 – Taman Fatahillah – Jalan Lada – Glodok – Jalan Hayam Wuruk – Berputar di Krukut / Kompas – Jalan Gajah Mada – Jalan Pancoran – Toko Tiga – dan berakhir di Jalan Kemenangan lagi.

Informasi Kelenteng Fat Cu Kung Bio

Alamat : Jalan Kemenangan VIII No. 12 - 14, RT.07 RW.03, Kelurahan Glodok, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat. Lokasi GPS : -6.142947, 106.8114337, Waze.

Galeri Foto Kelenteng Fat Cu Kung Bio

Bersembahnya di altar Dewi Kwan Im di Fat Cu Kung Bio dengan hiolo keemasan berukir cantik. Manusia adalah mahluk lemah, yang selalu berharap rasa welas asih dari penguasa hidup.

kwan im kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Barongsay dengan warna dominan merah, yang sebelumnya berwarna kuning keemasan, juga mendekati ke arah pintu masuk Fat Cu Kung Bio, mungkin untuk mendapat berkah keselamatan sebelum ikut dalam kirab.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Di sebelah kiri adalah altar sembahyang bagi Kwan Seng Tee Kun, yang lebih dikenal dengan sebutan Kwan Kong, seorang jenderal dari jaman Tiga Negara yang dipuja dan dihormati karena keteladannya.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Di tengah adalah altar sembahyang bagi Thay Siang Lie Lo Koen, yang dikelilingi oleh empat patung dewa lainnya, diantaranya Kwee Seng Ong dan Lui Kung. Thay Siang Lie Lo Koen atau Thay Siang Lo Kun atau Tai Shang Lao Junatau Maha Dewa Thay Siang, adalah Li Er atau Li Dan atau Lao Tse (Lao Zi), pendiri Taoisme. Di sebelah kanan adalah altar bagi Hian Tian Siang Tee, Hok Tek Ceng Sin, dan Couw Su Kong.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Pandangan lebih dekat pada patung Lao Tze dan kelima pengawal atau muridnya. Patungnya terlihat memegang sebuah labu di tangan kirinya. Selain di kelenteng Tri Dharma, penganut Tao memiliki tempat ibadah sendiri yang disebut Li Tang.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Sebuah joli dengan ukiran naga sangat indah ini berasal dari Vihara Dewa Rejeki di Babakan Madang. Di dalam joli ada pula ukiran burung Hong yang tak kalah eloknya. Pria berkaos kuning berasal dari Kwan Im Kiong, Pamekasan Madura. Peserta kirab memang datang dari daerah-daerah di seluruh Indonesia.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Joli lainnya yang tak kalah elok dengan hiasan bebungaan dan pita merah yang dibentuk menjadi kembang. Bukan beban yang ringan untuk memanggul joli dan berjalan di terik matahari Jakarta dengan jarak cukup jauh. Joli ini bernomor 1, artinya berada di urutan paling depan dalam kirab.

joli kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Barisan penabuh tambur dan simbal tampak baru saja datang menuju ke area Fat Cu Kung Bio. Mereka mengenakan kaos yang bertulis sebuah merk kendaraan bermotor. Barongsay telah berjalan di depan mereka.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Seorang gadis remaja memperlihatkan kepiawaiannya dalam menabuh tambur dengan irama yang hidup dan bergairah, disaksikan oleh para penabuh lainnya. Selain simbal sedang dan kecil terlihat pula kenong yang tak semua grup Barongsay menggunakannya. Kalau tak salah mereka berasal dari Jembatan Dua, Jakarta.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Patung para dewa yang dijejer di area Kelenteng Fat Cu Kung. Patung-patung ini mungkin yang dibawa dari berbagai kelenteng peserta kirab, dan boleh jadi dibawa pulang kembali. Yang berwajah hitam, berambut dan berjanggut hitam kalau tak salah adalah Fat Cu Kung.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Patung-patung para dewa dilihat dari sisi yang berbeda. Boleh jadi patung Fat Cu Kung adalah yang bermuka hitam dan berkumis berjanggut hitam dengan hiasan di kepalanya. Patung paling kiri ada tulisan Boen Tek Bio, Sewan, Tangerang. Jadi benar bahwa patung-patung itu dibawa ke Fat Cu Kung sebagai bagian dari perayaan She Jit.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Patung lainnya dengan pakaian yang terlihat mewah, dikalungi rangkaian bunga melati. Di belakangnya sepertinya adalah patung Dewa Bumi.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Tidak lama setelah saya menunggu di area sekitar Toko Merah kepala iring-iringan Kirab She Jit Fat Cu Kung Bio mulai terlihat, didahului oleh dua buah jeep dan dua mobil lainnya. Awal arak-arakan adalah pasukan pengibar bendera berseragam putih-putih yang membawa bendera Merah Putih, sebagai tanda penghormatan dan kesetiaan pada NKRI.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Di belakang pasukan pembawa Bendera Merah Putih itu terlihat marching band yang membawa lagu-lagu nasional dan lagu populer, dan agak samar di belakangnya terlihat ada Liong (Naga).

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Ekor dari marching band yang membawa bendera yang dikibar-kibarkan ke berbagai arah secara simultan. Marching Band ini berasal dari Kabupaten Karawang. Di belakangnya terlihat kelompok wanita dan pria yang mengenakan baju adat dari Bali.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Beberapa peserta kirab budaya Fat Cu Kung Bio wanita dengan pakaian adat Bali yang menambah kecantikan dan kemolekannya.

kirab budaya kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Kelompok penabuh musik tradisional Bali dengan kain poleng berjalan di belakang wanita cantik pada foto sebelumnya.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Group Liong dari TNI ikut memeriahkan Kirab Budaya She Jit Kelenteng Fat Cu Kung Bio.

kirab kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Atraksi Liong yang memikat dari grup TNI-AD, yang kalau tak salah berasal dari kesatuan di Semarang.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Penampilan Lion dari grup TNI lainnya, yang sepertinya dari kesatuan yang sama melihat lambang yang ada di kepalanya.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Grup Marching Band dari Kabupaten Karawang.

marching band kabupaten karawang kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Para pengibar umbul-umbul Marching Band Kabupaten Karawang yang semuanya mengenakan jilbab.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Ketiga wanita itu tampaknya adalah para penari Bali yang memamerkan kebolehannya di awal kirab dan di beberap titik tertentu di sepanjang rute arak-arakan.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Dua grup Liong dari kesatuan TNI dengan warna naga berbeda tampak berjalan beriringan. Mereka melakukan atraksi individual dan juga atraksi bersama yang menarik.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Pemimpin kedua grup Liong tampak memberi aba-aba untuk memulai sebuah atraksi bersama.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Kedua grup Liong mulai menggerakkan naganya secara bergelombang, sementara Barongsay di depannya juga mulai beraksi.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Grup Liong yang rupanya dari Kesatuan Yon Armed Kostrad itu terlihat tengah beraksi sambil berguling di atas aspal jalan.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Sebuah formasi naga yang rumit tengah diperlihatkan oleh grup Liong Yon Armed Kostrad.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Pemain Barongsay dan kedua grup Liong tengah beraksi.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Sebuah joli tampak tengah ditandu oleh sejumlah pria. Mereka secara bergantian memanggul joli yang lumayan berat itu.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Inilah salah satu yang paling menarik dalam kirab budaya Fat Cu Kung Bio, namun juga bisa mendirikan bulu roma bagi banyak orang yang melihatnya, yang disebut sebagai Tatung. Terlihat kedua pipi orang itu ditembus dengan menggunakan batang logam serta pedang ditangannya digunakan untuk menyayat lidah dan tangannya.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Tak ada ekspresi sakit sama sekali pada wajah orang itu, yang memang mungkin tengah mati rasa oleh karena kerasukan ketika melakukan ritual Tatung.

tatung kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Pandangan lebih dekat pada wajah orang yang pipinya tembus ditusuk oleh dua batang logam itu.

tatung kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Peserta arak-arakan tampak tengah melintas di depan pintu masuk Stasiun Kota yang juga dikenal dengan sebutan Beos. Di dekat area ini terdapat cukup banyak tempat wisata, seperti Taman Fatahillah, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, dan Jembatan Kota Intan.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Para wanita pun tak mau kalah untuk ikut serta dalam memberi semangat arak-arakan She Jit Kelenteng Fat Cu Kung saat rekan-rekan prianya menggotong sebuah joli ini.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Joli dengan ukiran dan ornamen elok yang tengah dipanggul sekelompok peserta kirab. Setiap kelompok umumnya diiringi oleh orang-orang yang membawa makanan dan minuman.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Iring-iringan joli dan orang-orang yang berasal dari Kelenteng Siu Thian Kiong, Jl. Palapa Raya, Kandang Panjang, Pekalongan Utara.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Rumah-rumahan ini tidak dipanggul namun digerakkan dengan kendaraan bermotor. Di sebelah atas pengendaranya diletakkan beberapa speaker sound system.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Iring-iringan kelompok joli lainnya, yang didahului oleh seorang perempuan yang membawa umbul-umbul sebagai simbol dari kelenteng tempat mereka berasal.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Iring-iringan dari kelenteng yang berada di bawah naungan Yayasan Setya Dharma Jepara.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Peserta arak-arakan dari Fat Cu Kung Bio dan Kelenteng Hok Hien Bio, Kudus.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Liong dengan kepala terlihat garang, dan badan dibalut api, terlihat tengah diarak oleh beberapa orang pria.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Sebuah joli lainnya dengan umbul-umbul dan ornamen naga serta bebungaan indah tampak tengah diarak melewati stasiun kota.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Sebuah kelompok penabuh Barongsay tampak menggunakan tambur berukuran cukup besar yang ditarik dengan dudukan beroda di bawahnya.

kelenteng fat cu kung bio glodok jakarta

Info Jakarta

Hotel, Tempat Wisata, Hotel Melati, Peta Wisata. Infor Jakarta: Peta Wisata, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata, Nomor Telepon Penting.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.

Tulisan lainnya

Kembali ke atas ↑