Makam Keramat Mbah Tumpang atau Pangeran Danuningrat di Cimahi

aroengbinang.com - Menyusuri garis keturunan keluarga ternyata sangat menyenangkan, hal ini mengingatkan kita kepada leluhur atau karuhun dan mempererat tali persaudaraan serta menyambung tali silaturahmi. Begitupun ketika saya berziarah ke Makam Mbah Tumpang atau Pangeran Danuningrat di Cimahi diawali dari rasa penasaran mengingat silsilah yang saya baca dari buku Aki Raden Djoekardi salah satu sesepuh keluarga besar saya, dan karena animo keluarga besar bermaksud mengenalkan silsilah leluhur kepada anggata keluarga terutama generasi mudanya supaya mengetahui lebih dekat siapa leluhur kita. Awalnya saya agak kaget ketika mengetahui makam beliau ada di daerah Cimahi karena daerah yang hampir setiap hari saya lewati.

Ternyata beliau dianggap sebagai tokoh orang suci yang disakralkan dan makamnya dianggap keramat oleh sebagian masyarakat setempat, info itu pun saya bara dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dan catatan dari Tjimahi Heritage. Banyak orang yang berziarah di makam Mbah Tumpang, entah apa tujuannya saya tidak tahu pasti. Sedangkan saya berzairah hanya sekedar karena sebagai turunan beliau bagian dari napak tilas jejak leluhur yang diprakasai oleh perkumpulan keluarga besar kami selain itu tentunya membaca doa bersama untuk ahli qubur Pangeran Danuningrat yang tak lain adalah Dalem Tumpang. Rasa penasaranpun bertambah ingin mengetahui lebih dalam sosok beliau.

Diawali dari catatan keluarga besar bahwa Mbah Tumpang atau Pangeran Danuningrat mempunyai anak Raden Kertayuda yamg disebut sebagai patih Bandung yang makamnya di Kebun Jeruk Jakarta dan salah satu anaknya adalah Raden Soemadiredja seorang Wadana Bulubur Garut dikebumikan di Situs Pemakaman Wiranatakusumah di belakang Mesjid agung Bandung. Kemudian anak dari Raden Soemadiredja adalah Eyang Buyut saya yang bernama Raden Rangga Soemawiredja Wadana Leles Nama Eyang Rangga dijadikan nama keluarga besar kami yaitu RARRASOEWi (Rundayan Raden Rangga Soemawiredja) dan salah satu anaknya adalah Nenek kandung saya dari pihak Ibu , yaitu Raden Djoewarna. Begitulah silsilah keluarga kami yang berhubungan dengan Mbah Tumpang yang juga tertulis di Tjimahi Haritage. Jika dirunut dari trah Mbah Tumpang, saya adalah garis keturunan yang ke 7.

dari beliaulah kami mendapat catatan sejarah mengenai rundayan keluarga. Eyang Rangga begitu kami menyebutnya, seorang yang sangat disiplin yang mengajarkan anak-anaknya untuk menjaga tali persaudaraaan dan tidak melupakan silsilah. Berkat Eyang Rangga lah kami tidak "pareumeun obor" , beliau sangat rajin menulis hal yang penting dan kebiasan ziarah qubur keluarga kami ke makam leluhur adalah salah satu yang dicontohkan Eyang buyut Rangga terhadap keturunannya secara turun temurun kami melanjutkan kebiasaan itu dan petuah lain dari Eyang buyut yaitu menjaga persaudaraan.

Penulis : Senang membuat catatan diri setiap perjalanan sekedar penghargaan atas apa yang dilihat dan dirasakan sebagai ritual ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta.(Jatuh cinta pada lembah, gunung dan pepohonan ). Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.