Jam Sunda (Pertanda Waktu Masyarakat Sunda)

September 23, 2018. Label:
Masyarakat Sunda seperti halnya masyarakat adat di daerah lainnya sarat dengan tata-titi dalam kehidupan kesehariannya, menghormati yang lebih tua dan mengayomi yang lebih muda, salah satunya terbukti dari undak-usuk bahasanya. Peninggalan leluhur yang patut kita lestarikan dan memperkaya budaya Sunda diantaranya yang berhubungan langsung dengan keseharian masyarakat Sunda di masa lampau yang memiliki kebiasaan tersendiri. Seperti yang berkaitan dengan waktu atau dalam bahasa Sunda disebut "wanci". Masyarakat Sunda mempunyai kalender perhitungan Sunda dan Jam Sunda Pertanda Waktu Masyarakat Sunda. Adapun jam Sunda begitu detail mengartikan waktu demi waktu.

Pada zaman dahulu sebelum adanya tehnologi, masyarakat Sunda memiliki alat pengukur waktu sendiri, menggunakan istilah Wanci Sunda. Orang Sunda menggunakan ciri-ciri waktu atau wanci untuk menentukan waktu dalam sehari semalam sebelum mempunyai arloji atau bekér. Istilah waktu pada umumnya didasari oleh pengalaman kejadian sehari-hari dan yang berkaitan dengan alam sekitarnya.

Penunjuk waktu orang Sunda sama halnya seperti jam pada umumnya, terdapat angka 1 sampai 12. Adapun yang membuat unik adalah masing-masing angka mempunyai dua sebutan. Wanci Sunda memiliki sebutan-sebutan khusus untuk menjelaskan keberadaan waktu yang berjumlah 24 jam. Inilah penjelasan jam Sunda yang menjelaskan keberadaan waktu berjumlah 24 jam.

jam sunda pertanda waktu masyarakat sunda Pukul 01 Tumorek (torek) yaitu tidak mendengar apa-apa, artinya waktu orang pada umumnya tertidur pulas. Pukul 02 Janari Leutik , yaitu waktu dini hari kecil (awal) . Pukul 03 Janari Gede , yaitu dini hari besar (akhir). Pukul 04 Kongkorongok Hayam , yaitu waktu ayam berkokok. Pukul 05 Balebat , yaitu waktu fajar mulai menyingsing. Pukul 06 Carangcang Tihang , yaitu langit mulai terang. Pukul 07 Meletek Panonpoe , yaitu munculnya matahari. Pukul 08 Ngaluluh Taneuh, yaitu waktu menggarap tanah (petani pergi berladang). Pukul 09 Haneut Moyan, yaitu waktu berjemur saat sinar Matahari sedang hangat. Pukul 10 Rumangsang , yaitu sinar matahari mulai panas. Pukul 11 Pecat Sawed, yaitu saat petani melepaskan tali kerbau agar kerbau bisa mencari makan sendiri. Pukul 12 Tangange, yaitu waktu tengah hari.

Pukul 13 Lingsir , yaitu matahari bergerak ke arah barat. Pukul 14 Kalangkang Satangtung, yaitu bayangan setinggi badan (panjang bayangan sama dengan tinggi tubuh). Pukul 15 Mengok, yaitu matahari sudah mulai condong ke arah barat. Pukul 16 Tunggang Gunung, yaitu matahari sudah berada di atas puncak gunung. Pukul 17 Sariak Layung, yaitu matahari sudah mulai tenggelam menyisakan lembayung. Pukul 18 Sareupna, yaitu matahari tenggelam / hari sudah mulai gelap. Pukul 19 Harieum Beungeut, yaitu sinar matahari sudah tidak tampak dan hari sudah benar-benar gelap. Pukul 20 Sareureuh Budak, yaitu anak-anak pada waktu ini biasanya sudah tertidur. Pukul 21 Tumoke, yaitu waktu ketika suara binatang malam sudah mulai terdengar. Pukul 22 Sareureuh Kolot , waktu ketika orang tua / dewasa sudah tertidur. Pukuk 23 Indung Peuting , yaitu mega hideung atau bulan sudah tepat diatas mega hitam sudah muncul. Pukul 24 Tengah Peuting, yaitu waktu tengah malam.

jam sunda pertanda waktu masyarakat sunda Jam Sunda yang dipajang di salah satu Bank swasta yang berada di Kota Bandung, cukup menarik perhatian ditulis di atasnya "Jam Sunda jeung Dawuhna" atau jam Sunda dengan waktu keadaanya. Itulah wanci atau jam Sunda pertanda waktu masyarakat Sunda, warisan karuhun Sunda yang turun-temurun perumpamaan setiap jam dengan kejadian alam semesta dan kebiasaan yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Turut melestarikan budaya daerah bagian dari memperkaya budaya Indonesia, dan menghormati peninggalan leluhur yang tercipta dari pemikiran yang beradab di masanya. Jam Sunda sebagai pertanda waktu maayarakat Sunda yang maaih berkembang di kalangan pecinta adat Sunda semoga turun-menurun tetap dikenal sebagai auatu warisan budaya.

: Senang membuat catatan diri setiap perjalanan sekedar penghargaan atas apa yang dilihat dan dirasakan sebagai ritual ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta.(Jatuh cinta pada lembah, gunung dan pepohonan ). Follow aroengbinang ! Bagikan ke: Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.