Kelenteng Sin Tek Bio Pasar Baru Jakarta

aroengbinang.com -
Pernahkah anda mendengar kelenteng di daerah Pasar Baru? Ya, di tengah–tengah pasar, berhimpit di antara gedung yang menjulang, di sebuah gang sempit tak jauh dari Bakmi Gang Kelinci, tepat di belakang Bakmi A Boen yang terkenal itu terdapat Kelenteng Sin Tek Bio Pasar Baru Jakarta, salah satu kelenteng tertua di Kota Jakarta.

Bagi warga Jakarta maupun luar Jakarta, Pasar Baru identik dengan toko kain lengkap dengan para penjahit, juga toko sepatu, kamera, penjual bakmi atau pun kuliner khas India. Pedagang yang menempati ruko di kawasan Pasar Baru kebanyakan etnis Tionghoa dan India. Etnis Tionghoa umumnya berdagang kelontong, bakmi atau pun membuka usaha busana / perlengkapan olah raga / sepatu; sedang etnis India umumnya mengelola toko kain. Awal berdirinya Pasar Baru (dulu Passer Baroe) adalah dampak dari peristiwa penumpasan etnis Tionghoa di Batavia pada 1740.

Masa itu etnis Tionghoa "diisolir" di luar benteng Batavia, mereka hanya diijinkan berada di dalam kota Batavia pada siang hari. Lalu saat Weltevreden, kawasan elit Batavia berkembang (sekarang sekitar Lapangan Banteng - Gambir - Senen) ; sebuah pasar pun terbentuk sebagai pelengkap perniagaan. Kawasan yang dibangun pada abad ke-19 ini kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan perniagaan yang dikendalikan oleh pengusaha Tionghoa yang datang dari luar tembok Batavia.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta
Satu Sabtu siang, setelah menghabiskan semangkok bakmi pangsit Gang Kelinci; kami menyusuri gang kecil di sampingnya. Sebuah papan kecil bertuliskan Yayasan Vihara Dharma Jaya (Sin Tek Bio) Anno 1698 Batavia menjadi petunjuk arah; menempel di dinding depan gang. Jika melihatnya selintas, tak akan ada yang memperhatikan karena papannya bersaing dengan pesan sponsor sebuah jaringan telepon seluler yang tertulis besar-besar di situ.

Vihara Dharma Jaya berdiri pada 1698, kemungkinan dibangun oleh para petani Tionghoa yang tinggal di sekitar kebun Cornelis Chastelein (sekarang Lapangan Banteng) untuk menjalankan ibadah dan kebudayaannya. Jika dahulu kelenteng kecil ini berada di tengah hutan perkebunan, maka saat ini posisinya terhimpit di dalam gang kecil di tengah pasar. Gang kecil yang kiri kanannya dipadati dengan barang dagangan, satu-satunya akses menuju Vihara Dharma Jaya dari Pasar Baru dengan latar belakang kedai Bakmi A Boen yang dulunya pintu masuk vihara. Langkah kami pertama kali memasuki altar Kwan Im (Kwan Im Bio) yang terpisah dengan gedung utama di sisi belakang vihara. Beragam patung memenuhi tempat ini, namun ada satu yang cukup menyita perhatian karena tampak berbeda dari patung-patung yang biasanya berada di vihara.

Semula klenteng ini bernama Het Kong Sie Huis Tek, dengan pintu utama menghadap ke Jl Belakang Kongsi. Pada 1812, pintunya berpindah ke bagian belakang dan namanya pun diganti menjadi Sin Tek Bio. Pada 12 Mei 1982, kembali terjadi peruabahan nama menjadi Vihara Dharma Jaya seiring dengan sentimen negatif pada nama Cina yang berkembang saat itu.

Di Kelenteng Sin Tek Bio Jakarta ada sebuah patung kayu mengenakan sorban dengan sikap berdoa memangku kitab suci. Di depannya terpampang tulisan Ta Ol Lao Shi (Kyai Zakaria II atau akrab dengan sebutan Eyang Djugo), sedang di sisi kirinya menggantung pigura berisi gambar yang mulai buram dengan tulisan samar-samar terbaca Raden Mas Imam Sudjono. Berakhirnya perang Jawa yang berlangsung selama 5 (lima) tahun pada 1825 - 1830, ditandai dengan penangkapan Pangeran Diponegoro di kediaman de Kock di Magelang pada 28 Maret 1830. Peristiwa ini, membuat banyak pasukan dan pengikut Diponegoro melarikan diri dari kejaran Belanda ke wilayah timur Pulau Jawa.

Diantaranya adalah mantan Senopati Pangeran Diponegoro, cicit Hamengkubuwono I dari Kraton Nyayogyakarta (1755 - 1792), yang bernama Raden Mas Imam Sudjono atau Eyang Sudjo. Eyang Sudjo  mengikuti ayah angkatnya penasehat spiritual Diponegoro, Kyai Zakaria II atau Eyang Djugo cucu Pangeran Diponegoro (cicit Pakubuwono I yang memerintah Kartasura pada 1705 - 1719) dari trah Mataram yang memilih mengasingkan diri ke daerah Gunung Kawi, Jawa Timur. Ketika meninggal, keduanya dimakamkan dalam satu liang dan hingga kini makamnya di Gunung Kawi selalu ramai dikunjungi pesiarah dari etnis Tionghoa untuk memanjatkan doa.

Sebagai guru spiritual, Eyang Djugo mendapat gelar Taw Low She / Ta Ol Lao Shi, artinya guru besar pertama, sedang RM Imam Sudjono diberi gelar Jie Low She atau guru besar kedua. Hal lain yang menarik di Kuan Im Bio adalah genta / lonceng dan bedug yang menggantung di kiri dan kanan atas pintu masuk. Oleh dua wanita yang berjaga di Kuan Im Bio, kami diijinkan melangkah ke dalam bangunan utama Sin Tek Bio melalui pintu belakang. Sebuah patung besar Budha duduk tertawa lebar menyambut langkah kami di bawah tangga menuju lantai dua.

Di Vihara ini, terdapat 28 (dua puluh delapan) altar, 14 (empat belas) altar di lantai atas yang dikelilingi ratusan patung yang sebagian besar berasal dari abad ke-17; sedang 14 (empat belas) altar lainnya di ruang utama di lantai bawah. Kongco Hok Tek Ceng Sin sang Dewa Bumi adalah dewata utama yang menempati altar utama. Patungnya seumur dengan Sin Tek Bio dan didatangkan langsung dari Tiongkok.

Celengan Shi Mien Fut yang sudah tua terlihat berada di pojok ruang altar di lantai dua Sin Tek Bio. Yang juga menarik adalah adanya altar doa untuk Embah Raden Suria Kencana Winata, salah satu dari 14 altar di ruang utama vihara. Meskipun menarik, kelenteng ini terhimpit di dalam padatnya Pasar Baru dengan gang kecil sebagai akses yang bermuara ke Jl Samanhudi

Usai menikmati Sin Tek Bio, kami menyegarkan tenggorokan dengan minum es krim jadul yang telah ada semenjak 1979 di Restoran Tropik. Restoran ini menempati bangunan yang dulunya rumah toko milik Tio Tek Hong, yang mempopulerkan sistem harga banderol dan pemiliknya pandai mempromosikan dagangan di tokonya dengan memasang iklan di koran Bintang Betawi.

Ada banyak gedung bersejarah yang masih dipertahankan di daerah ini, diantaranya Kantor Pos Filateli, Stadschouwburg (sekarang dikenal sebagai Gedung Kesenian Jakarta), Ursulint Zuster School (Santa Ursula), Gedung Antara, Toko Kompak dan lain-lain. Tak cukup waktu sehari untuk menyurusi kawasan Pasar Baru. Kini, Pasar Baru menjadi sentra wisata belanja dan sejarah. Menyusuri Pasar Baru, sama dengan menyusuri sepenggal kisah sejarah negeri.

Kelenteng Sin Tek Bio Pasar Baru

Alamat : Vihara Dharma Jaya, Jl. Pasar Baru Dalam Pasar No 146, Jakarta Pusat 10710. Lokasi GPS : -6.160856, 106.836093, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Galeri Foto Kelenteng Sin Tek Bio Pasar Baru

Patung kayu memakai sorban tengah berdoa memegang sebuah kitab suci, dengan keterangan Ta Ol Lao Shi (Kyai Zakaria II atau Eyang Djugo). Di sisi kiri ada gambar dengan keterangan Raden Mas Imam Sudjono. .

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Di Kelenteng Sin Tek Bio Pasar Baru ada 28 altar, 14 diantaranya di lantai dua dengan ratusan patung dari abad ke-17 dan sisanya di lantai pertama. Dewa Bumi merupkan dewata utama yang menempati altar di lantai satu, dan patungnya didatangkan langsung dari Tiongkok ketika kelenteng berdiri.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Celengan Shi Mien Fut yang sudah tua di pojok ruang altar di lantai dua Sin Tek Bio. Yang juga menarik adalah adanya altar doa untuk Embah Raden Suria Kencana Winata, salah satu dari 14 altar di ruang utama vihara. Meskipun menarik, kelenteng ini terhimpit di dalam padatnya Pasar Baru dengan gang kecil sebagai akses yang bermuara ke Jl Samanhudi

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Altar Dewi Kwan Im dengan satu rupang (patung) utama berukuran cukup besar, dan sejumlah patung lainnya yang lebih kecil diletakkan di belakangnya. Dua rupang besar berwarna putih diletakkan agak tingggi di belakang rupang utama. Pada setiap lampu minyak di depan arca ditempel stiker nama penyumbangnya. Hiolo juga ada di sana.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Deretan rupang dewa dan orang suci dengan berbagai ekspresi dan posisi badan terlihat pada foto. Paling depan adalah rupang Buddha Tertawa berwarna keemasan yang tampak sudah menua. Kelenteng ini memang terlihat sangat kaya dengan beragam patung yang semuanya mengesankan.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Altar Dewi Kwan Im dilihat dari sudut pandang yang berbeda, memperlihatkan susunan lampu minyak yang ditata bertingkat secara rapi. Tingkat paling tinggi mungkin diperuntukkan bagi orang penting atau penyumbang yang paling dermawan.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Satu bagian altar yang unik, karena ada foto, dan juga lukisan yang berasosiasi dengan kepercayaan di Asia Selatan. Di sana tercantum nama Sai Ba Ba. Sathya Sai Baba lahir 23 November 1926 dengan nama Sathyanarayana Raju, meninggal 24 April 2011. Ia seorang Guru, orator, pencipta lagu dan puisi serta filsuf India Selatan yang sering digambarkan sebagai orang suci.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Altar Kwan Seng Tee Kun yang lebih dikenal sebagai Kwan Kong, panglima perang di jaman Sam Kok yang dipuja karena memberi teladan pada keberanian, kejujuran dan kesetiaan. Di sebelah kirinya adalah altar Dewa Bumi (Fu Te Chen Shen, Hok Tek Ceng Sin).

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Pandangan agak jauh pada altar Dewi Kwan Im (Kuan She In Pu Sat atau Kwan She Im Po Sat), memperlihatkan ornamen naga hijau di sisi luar tong besar warna merah yang digunakan sebagai lampu minyak. Adanya lampu minyak yang menyala sepanjang waktu membuat kelenteng sering beresiko kebakaran.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Sejumlah rupang dewa yang elok dengan berbagai posisi tangan yang biasanya memiliki arti tertentu. Lukisan pada tembok paling kiri adalah Kwan Im yang digambarkan sebagai Avalokitesvara Mahabodhisatwa. Selain berbahan keramik yang halus, ada pula rupang yang dibuat dari pualam, tembaga dan kuningan.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Pada altar di tengah terdapat rupang Lao Zi atau Lao Tzu, filsuf terkenal dan pendiri Taoisme, digambarkan dalam posisi duduk dengan memegang kipas bergambar Yin-Yang, yang dikenal juga sebagai simbol Taiji. Dewa muka hitam di sebelah kanan adalah Cang Thian She.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Ada tiga rupang di bagian depan yang semuanya digambarkan dalam posisi duduk. Yang tengah tampaknya Lao Tzu, namun tak jelas siapa yang ada di kiri kanannya. Di belakangnya berderet arca para dewa dan orang suci. Pada meja di depan ketiga rupang terdapat cawan-cawan persembahan.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Pandangan arah depan pada rupang foto sebelumnya. Pada papan tengara terbaca Kung Fu Ce, Yen She Thien Cun, Thai Siong Lo Kun, Mao San Cu She, dan Ta Pai Sam Kai Fu Mu. Dari semua nama itu yang saya kenali adalah Thai Siong Lo Kun atau Thay Siang Lo Kun atau Tai Shang Lao Jun, atau Maha Dewa Thay Siang. Sosok ini mewujud sebagai Lao Tse, pendiri Taoisme.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Ini salah satu dari sedikit altar yang selalu ada di bawah, yaitu altar bagi To Ti Pa Kong Pa Po, yaitu para dewa bumi yang menguasai tanah setempat, seperti tanah dimana kelenteng didirikan. Kelompok dewa ini kedudukannya paling rendah dalam kepangkatan Surga dan paling dekat dengan manusia, sehingga altarnya sejajar dengan lantai.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Sejumlah rupang dewa yang hampir semuanya memperlihatkan ekspresi wajah gembira. Paling depan bawah tentunya adalah arca Buddha yang berwarna keemasan. Tak saya kenal arca-arca lai di belakangnya.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Sebuah tambur dan lonceng tua terlihat diletakkan di sisi kanan bawah rupang para dewa pada foto sebelumnya. Lonceng dan tambur biasa dibunyikan sebelum sebuah acara ritual dimulai.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Rupang Thai Siong Lo Kun, atau Lao Tze yang diapit oleh Er Lang Shen dan Jiu Thien Sian Ni. Er Lang Shen dikenal sebagai Malaikat Pelindung Kota Sungai. Ia hidup di zaman dinasti Qin, dan merupakan putra Li Bing, Gubernur propinsi Xi Chuan.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Lita duduk sejenak di bawah sebuah tambur yang diletakkan cukup tinggi pada dudukan kayu. Ada pemukul kayu panjang di bawah kirinya, sehingga meskipun tinggi tampaknya tambur ini masih dibunyikan pada waktu acara tertentu.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Lonceng di sisi berlawanan, di sebelah kanan dari tambur pada foto sebelumnya. Terlihat ada tali yang digunakan untuk menarik pemukul lonceng. Di sebelah kiri ada beras yang biasa ditumpuk sebelum diberikan kepada kaum miskin, dan di sebelah kanan bawah ada tumpuk kertas sembahyang.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Tengara nama Wihara Dharma Jaya dengan baris alamat di bawahnya terlihat sudah menua. Di latar depan adalah hiolo Thian (Tuhan) yang dikenali dengan topangan kaki tiganya, dan biasanya diletakkan di bagian depan kelenteng, atau bahkan kadang terpisah dari bangunan utamanya.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Dua orang teman, satu di kiri dan satu di kanan, tampak tengah memotret rupang Buddha Tertawa, salah satu wujud Buddha yang populer. Ditengarai dengan wajahnya yang mengumbar tawa dan perutnya yang gendut, serta posisi duduk yang santai.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Pemandangan pada tiga altar pertama di Kelenteng Sin Tek Bio. Agak jarang saya melihat ada payung di dalam kelenteng, sebagaimana pada foto di atas. Sebelah kanan adalah altar Dewi Kwan Im.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Pemandangan pada altar Tee Cong Ong Po Sat atau Ksitigarbha Bodhisattva, digambarkan dalam wujud seorang bhiksu yang lengkap dengan jubahnya. Ia sering dikaitkan dengan Sepuluh Raja Akhirat (She Tien Yan Wang) yang ada di bawah pengaruhnya.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Sebuah altar dengan deretan rupang para dewa, yang diantaranya adalah Fat Cu Kong, Chi Thien Ta Sen Fo Cu, Pa Sien, Ta Mo Cu She. Di sebelahnya lagi adalah altar Lao Tze. Ada pula altar Xian Tiang Sang Ti (Hian Thian Siang Te), dewa langit dengan keududkan sangat tinggi, hanya setingkat di bawah Yu Huang Da Di (Giok Hong Tay Te).

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Pemandangan pada langit-langit ruangan kelenteng dengan lampion dan hio lingkar kerucut. Dengan begitu banyaknya lampu minyak yang menyala setiap waktu maka bisa dimengerti bahwa tak mungkin sebuah kelenteng memiliki langit-langit yang bersih dari jelaga.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Lita tengah mengagumi arca-arca yang ada di sebuah altar. Arca Buddha berukuran besar tampak ada di bagian paling atas. Ada pula arca dewa Kwan Im sebagai perwujudan Avalokitesvara.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Pengaruh Raden Suria Kencana yang dipercayai sebagai karuhun orang Sunda juga terasa di Kelenteng Sin Tek Bio, dengan adanya sebuah altar yang diperuntukkan khusus baginya. Boleh jadi karena jaman dahulu, sebelum ditaklukkan oleh Fatahillah, Jakarta adalah merupakan bagian Kerajaan Pajajaran.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Deretan lampion merah di bagian atas, dan lampu-lampu minyak yang ditata rapi di bagian depan, serta sejumlah lilin besar, membuat altar Dewa Bumi ini merupakan altar yang ramai. Bisa dimaklumi karena rizki dan kelancaran usaha menjadi otoritas dewa ini. Dan jangan harap doa akan terkabul jika sebelumnya tidak terlebih dahulu memberi amal dan berbuat kebajikan.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Hiolo tua yang ada di sebuah altar dengan tulisan Giok Hong Siang Tee, dan tulisan Sin Tek Bio di bawahnya. Kaisar Giok merupakan penguasa surga, neraka, dan seluruh alam, termasuk alam manusia.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Bagian bawah dari hiolo tua itu, yang memperlihatkan tulisan "Anno 1698 Batavia". Hiolo biasanya berisi abu dan digunakan sebagai tempat untuk menancapkan hio persembahan. Memegang hio ternyata ada adabnya, yaitu harus khidmat dan bara apinya harussejajar dengan titik tengah di antara kedua alis mata.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Keempat teman saat berada di halaman depan Kelenteng Sin Tek Bio, yang kesemuanya bergaya beda, meski tanpa arahan. Di ujung sana adalah Kimlo tempat membakar kertas uang persembahan. Arca sepasang singa penjaga juga ada di halaman depan ini.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Di atas atap kelenteng terlihat ada sepasang arca naga berebut mustika (matahari). Kedua singa batu penjaga (Ciok Say) tampak pada foto ini, mengapit hiolo Thian.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Tanda panah berlawanan pada tempat yang sama, karena kelenteng ini memang bisa diakses dari dua pintu masuk yang berbeda. Nama yayasan dan tahun berdirinya kelenteng terlihat pada foto ini.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Ornamen khas di sebuah kelenteng terlihat pada foto ini. Ada lampion, lampu minyak, lilin, dan ada pula sepasang naga besar yang melilit tiang. Dalam budaya Tionghoa, naga melambangkan kekuatan, wibawa, dan tuah dalam mengawal air, hujan, dan banjir. Naga bersifat Yang dan fenghuang (phoenix) bersifat Yin (betina).

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Spanduk mencolok dipasang menempel pada tembok di depan kelenteng, menawarkan sebuah obat dewa, obat yang mengobati segala macam penyakit. Meskipun mustahil ada obat sapujagad semacam ini, namun jika orang sudah putus asa, apa pun akan dicoba. Yang pasti, obat semacam ini bisa mengobati kemiskinan penjualnya, jika laku.

kelenteng sin tek bio pasar baru jakarta

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat.

Penulis : Travel Blogger | #TukangKuburan IG: @olive_ssb