Gereja Immanuel Jakarta Pusat

December 31, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Hari baru saja lewat tengah hari ketika kami tiba di halaman belakang Gereja Immanuel Jakarta, namun langit Jakarta sudah mulai tertutup awan kelabu tua. Hujan tidak lama lagi akan turun. Sedikit bergegas kami menuju ke ruang pengelola yang lokasinya ada tepat di belakang bangunan utama Gereja Immanuel.

Setelah sempat mengetuk pintu yang salah, akhirnya kami bertemu pengurus gereja, seorang ibu lewat baya, dan sesudah berbincang dengannya mengenai maksud kunjungan maka kami pun diijinkan masuk ke dalam ruang gereja dengan diantar oleh seorang petugas pria bernama Alex.

Berjalan mengekor di belakang Alex, kami pun menaiki undakan serambi belakang Gereja Immanuel Jakarta Pusat yang disangga enam buah pilar, dan masuk ke dalam ruangan melalui pintu jati lengkung berukuran besar dengan induk kunci berukir. Melewati sebuah ruangan pendek, kami pun sampai di ruang utama Gereja Immanuel Jakarta yang berbentuk bundar.

gereja immanuel jakarta pusat
Hal paling menarik ketika sampai di ruang utama Gereja Immanuel Jakarta adalah pipa-pipa orgel cantik yang panjang dan besar di ujung ruangan. Kipas-kipas kecil tampak terpasang pada dinding diantara jendela sebagai pendingin ruang Gereja Immanuel Jakarta yang sepertinya tidak menggunakan sistem pendingin AC ini.

Orgel indah yang masih berfungsi mengiringi acara kebaktian gereja itu dibuat tahun 1843 oleh Jonathan Batz di Utrecht, Belanda. Pada 1985, orgel Gereja Immanuel Jakarta ini dibongkar untuk dibersihkan. Hal menarik lainnya adalah balkon tempat duduk jemaat yang membelah dinding melingkar Gereja Immanuel Jakarta menjadi dua bagian sama besar.

Gedung Gereja Immanuel Jakarta dirancang oleh J.H. Horst, namun sebuah tulisan menyebut bahwa J.H. Horst sebenarnya bukan seorang arsitek, kelahiran Batavia dan belum pernah ke Belanda. Sayangnya saya tidak berhasil menemukan tulisan lain yang mengkonfirmasikan tulisan itu. Hanya saja sebuah buku menyebutkan bahwa J.H. Horst merupakan salah satu pemilik Pabrik Gula Tjipiring di Semarang pada 1849.

Peletakan batu pertama pembuatan Gedung Gereja Immanuel dilakukan pada tanggal 24 Agustus 1835, sedangkan pekerjaan pembangunannya baru selesai dibuat sekitar empat tahun kemudian dan diresmikan pemakaiannya pada tanggal 24 Agustus 1839.

Bagian dalam kubah Gereja Immanuel Jakarta memiliki sepuluh pasang garis konsentrik yang membagi kubah menjadi sepuluh bagian sama besar. Pada puncak tengah kubah terdapat menara bundar dengan pilar-pilar kecil yang dari sela-selanya masuk berkas sinar ke dalam ruangan. Di tengah menara terlihat hiasan bunga teratai dengan enam helai kelopak.

Ketika diresmikan, Gereja Immanuel diberi nama Willemskerk, diambil dari nama Willem I, Raja Belanda yang bertahta pada 1813-1840. Gereja Immanuel Jakarta kini digunakan oleh jemaat Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat – G.P.I.B, yang menyelenggarakan ibadah kebaktian dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Belanda, dan Bahasa Inggris pada jam berbeda.

Lampu kristal yang menyala di atas mimbar di ujung ruangan, serta berkas cahaya dari jendela-jendela di bawah kubah tidak cukup untuk menerangi ruangan berdiameter 9,5 meter ini. Itu lantaran awan hujan yang menggayuti langit Jakarta siang itu telah secara efektif menutupi Matahari. Melangkah lagi ke dekat mimbar terdapat cawan piringan terbuat dari kuningan dengan ukiran indah serta perlengkapan upacara lainnya yang diletakkan di atas meja.

Ada tulisan digrafir pada tepian cawan serta di beberapa bagian tengahnya. Cawan untuk upacara perjamuan kudus itu pada puncaknya terdapat patung domba, berangka tahun 1863. Tempat air berangka tahun 1740, merupakan perlengkapan upacara perjamuan kudus Gereja Immanuel Jakarta.

Pada dinding kiri kanan ruang utama gereja bagian depan terdapat pigura-pigura panjang besar yang berisi daftar nama pemimpin jemaat serta tahun pelayanannya. Salah satunya Nicolaus Molinaeus yang memimpin jemaat Portugis pada 1633. Ia adalah salah satu dari 12 pelajar sekolah agama di Belanda yang mendapat beasiswa dan sebagai imbalannya diwajibkan untuk melayani jemaat Portugis di Batavia selama dua kali masa didiknya.

Beberapa saat berikutnya kami berjalan bersama-sama menyeberangi tengah ruangan menuju tangga melingkar di bawah balkon orgel dengan bonggol pegangan di ujung bawah tangga. Tangga yang keseluruhannya terbuat dari kayu ini masih terbilang baik kondisinya dan tidak ada kekhawatiran untuk menapakinya, meski tetap harus hati-hati.

Alex sempat bercerita tentang kejadian aneh yang dialaminya di Gereja Immanuel Jakarta. Menurut penuturannya, ia pernah jatuh di tangga melingkar itu, dan secara spontan ia meminta maaf jika ada yang merasa tersinggung karena perbuatannya. Tiba-tiba ia merasa seperti disetrum, dan sakit di kakinya pun hilang dan sembuh seketika itu juga.

Pernah pula ia melihat rokok menyala berjalan, tanpa terlihat orangnya. Ketika ia berkata bahwa ini gereja dan meminta agar rokoknya dimatikan, rokok itu pun mati. Kadang terdengar orgel berbunyi sendiri, dan ada suara-suara, kebanyakan orang bule. Entah benar entah tidak, hanya ALex dan Tuhan yang tahu.

Di lantai atas saya bisa melihat papan kunci piano pipa Gereja Immanuel Jakarta dengan melepas semua penutupnya. Tidak ada ruang di bawah pipa orgel, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat foto simetris dari atas balkon. Namun dengan berjalan melewati bangku-bangku di sepanjang balkon melingkar saya bisa mendapatkan foto simetris pipa-pipa orgel raksasa dari ujung balkon tepat di atas mimbar.

Kondisi bangku-bangku kayu itu masih dalam keadaan sangat baik, licin tak berdebu, pertanda dirawat dan sering dibersihkan. Saya sempat mengintip lewat sebuah lubang cahaya di belakang balkon yang memperlihatkan pilar besar pada teras depan Gereja Immanuel Jakarta menghadap ke arah Stasiun Gambir.

Beberapa saat kemudian kami berpamitan, dan bergegas keluar menuju kendaraan lantaran hujan sudah mulai turun. Sesaat sebelum meninggalkan halaman Gereja Immanuel Jakarta saya sempat mengambil foto yang memperlihatkan bentuk gedung dilihat dari samping belakang. Namun karena sudut pengambilannya yang sempit dan terburu-buru, kubah Gereja Immanuel Jakarta hanya terlihat sepotong. Tidak sempat pula mengambil foto Gereja Immanuel Jakarta dari arah depan.

Gereja Immanuel Jakarta

Alamat : Jl. Medan Merdeka Timur No.10, Gambir, Jakarta Pusat. Telp 021-3440747. Email: info@gpib-immanuel-jakarta.org. Lokasi GPS : -6.176588, 106.832085, Waze ( smartphone Android dan iOS ).

Video Gereja Immanuel



Galeri Foto Gereja Immanuel Jakarta

Bagian dalam kubah Gereja Immanuel Jakarta dengan sepuluh pasang garis konsentrik yang membagi kubah menjadi sepuluh bagian sama besar. Pada puncak tengah kubah terdapat menara bundar dengan pilar-pilar kecil yang dari sela-selanya masuk berkas sinar ke dalam ruangan. Di tengah menara terlihat hiasan bunga teratai dengan enam helai kelopak. Ketika diresmikan, Gereja Immanuel diberi nama Willemskerk, diambil dari nama Willem I, Raja Belanda yang bertahta pada 1813-1840. Gereja Immanuel Jakarta kini digunakan oleh jemaat Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat – G.P.I.B, yang menyelenggarakan ibadah kebaktian dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Belanda, dan Bahasa Inggris pada jam berbeda.

willemskerk gereja immanuel jakarta pusat

Ruang utama Gereja Immanuel Jakarta dilihat dari area di bawah orgel. Pada dinding kiri kanan di belakang Olyve dan Alex, terdapat pigura-pigura panjang besar yang berisi daftar nama pemimpin jemaat serta tahun pelayanannya. Salah satunya Nicolaus Molinaeus yang memimpin jemaat Portugis pada 1633.

Ia adalah salah satu dari 12 pelajar sekolah agama di Belanda yang mendapat beasiswa dan sebagai imbalannya diwajibkan untuk melayani jemaat Portugis di Batavia selama dua kali masa didiknya. Beberapa saat berikutnya kami berjalan bersama-sama menyeberangi tengah ruangan menuju tangga melingkar di bawah balkon orgel dengan bonggol pegangan di ujung bawah tangga.

Tangga yang keseluruhannya terbuat dari kayu ini masih terbilang baik kondisinya dan tidak ada kekhawatiran untuk menapakinya, meski tetap harus hati-hati.

orgel gereja immanuel jakarta pusat

Orgel indah yang masih berfungsi mengiringi acara kebaktian gereja itu dibuat tahun 1843 oleh Jonathan Batz di Utrecht, Belanda. Pada 1985, orgel Gereja Immanuel Jakarta ini dibongkar untuk dibersihkan. Hal menarik lainnya adalah balkon tempat duduk jemaat yang membelah dinding melingkar Gereja Immanuel Jakarta menjadi dua bagian sama besar.

orgel gereja immanuel jakarta pusat

Pigura-pigura panjang besar yang terlihat telah berumur tua menempel pada dinding tinggi di susu samping dan belakang mimbar yang berisi daftar nama-nama pemimpin jemaat serta tahun pelayanannya.

gereja immanuel jakarta pusat

Nama paling atas adalah Nicolaus Molinaeus yang memimpin jemaat Portugis pada tahun 1633. Ia adalah salah satu dari 12 pelajar sekolah agama di Belanda yang mendapat beasiswa dan sebagai imbalannya diwajibkan untuk melayani jemaat Portugis di Batavia selama dua kali masa didiknya.

nicolaus molinaeus gereja immanuel jakarta pusat

Daftar para pendeta Gereja Injili yang mulai ada sejak 1855 dengan JGG Bierhaus hingga tahun 1951 dengan R Ploeger. Dalam setahun bisa ada beberapa orang yang tercantum pada daftar, namun tidak setiap tahun berganti orang juga.

gereja immanuel jakarta pusat

Salah satu pintu dengan pengeras suara warna hitam menempel pada salah satu sisinya. Jendela di kiri kanannya bertutup kaca dan dimatikan dengan pelindung lempengan besi. Keamanan rupanya menjadi hal yang penting untuk tempat tua bersejarah seperti ini.

Di atas adalah balkon melingkar berisi tempat duduk jemaat, dengan ornamen pada dinding diantara jendela. Antara jendela dan kubah ada ornamen repetitif selang seling motif bunga dan orang.

gereja immanuel jakarta pusat

Paruh dalaman kubah yang memperlihatkan ornamen pada dalaman puncak luar kubah. Kayu-kayu yang disusun membentuk garis-garis pada dalaman kubah itu terlihat agak aneh karena di tepi luarnya mengikuti lengkung kubah namun makin ke arah tengah makin lurus seperti jaring laba-laba.

gereja immanuel jakarta pusat

Paruh kanan ruang utama Gereja Immanuel Jakarta memperlihatkan dua tingkat bangku kayu melengkung mengikuti bentuk dinding, dan delapan deretan kursi kayu berpenyangga tangan yang berjejer rapi menghadap ke arah mimbar.

gereja immanuel jakarta pusat

Paruh kiri ruang utama Gereja Immanuel Jakarta yang merupakan bayangan cermin sisi lainnya. Sejumlah lampu kristal tampak menggantung di beberapa titik di bawah balkon yang melingkar. Langit mendung serta tidak dinyalakannya semua lampu membuat suasana di dalam ruangan ini tampak agak remang.

gereja immanuel jakarta pusat

Cawan piringan terbuat dari kuningan dengan ukiran indah serta perlengkapan upacara lainnya yang diletakkan di atas meja. Ada tulisan digrafir pada tepian cawan serta di beberapa bagian tengahnya. Cawan untuk upacara perjamuan kudus itu pada puncaknya terdapat patung domba, berangka tahun 1863.

gereja immanuel jakarta pusat

Tempat air berangka tahun 1740 merupakan salah satu perlengkapan pada upacara perjamuan kudus yang diselenggarakan Gereja Immanuel Jakarta.

gereja immanuel jakarta pusat

Bagian mimbar Gereja Immanuel dengan kain hijau berlambang bintang putih dalam lingkaran orange. Pada meja bertaplak kain hijau terdapat tempat air, piring dan tempat minum, serta cawan piringan di sisi kirinya.

gereja immanuel jakarta pusat

Bagian awal tangga ulir menuju ke lantai dua Gereja Immanuel dengan bonggol segiempat dan bulatan setengah lingkaran di puncaknya. Mengikuti alur uliran tapak tangga kayu itu lebar di satu sisi dan sempit di sisi lainnya.

gereja immanuel jakarta pusat

Tangga ulir elok yang keseluruhannya terbuat dari kayu ini masih terbilang cukup baik kondisinya dan tidak ada kekhawatiran untuk menapakinya, meski tetap harus hati-hati karena bisa saja terpeleset jika melangkah sembarangan.

gereja immanuel jakarta pusat

Papan kunci piano pipa Gereja Immanuel Jakarta yang tutupnya harus dilepas terlebih dahulu seluruhnya untuk bisa melihatnya.

gereja immanuel jakarta pusat

Ruang utama Gereja Immanuel Jakarta dilihat dari balkon di samping orgel. Tidak ada ruang di bawah pipa orgel, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat foto yang simetris dari atas balkon.

gereja immanuel jakarta pusat

Mengintip lewat sebuah lubang cahaya di belakang balkon memperlihatkan pilar besar pada teras depan Gereja Immanuel Jakarta yang menghadap ke arah Stasiun Gambir.

gereja immanuel jakarta pusat

Berjalan melewati bangku-bangku di sepanjang balkon melingkar itu saya bisa mendapatkan foto simetris pipa-pipa orgel raksasa dari ujung balkon tepat di atas mimbar.

gereja immanuel jakarta pusat

Pipa orgel di balkon lantai dua dengan dalaman puncak kubah yang diambil dari atas mimbar Gereja Immanuel Jakarta. Warna dalaman kubah tampak sudah agak kusam dan sudah memerlukan pengecatan ulang.

gereja immanuel jakarta pusat

Sudut pandang melebar yang hanya bisa menjangkau puncak pipa orgel saja untuk mendapatkan sekaligus lubang cahaya pada puncah kubah. Jika dilihat abstraktif dalaman kubah ini berbentuk seperti kaki dan jaring laba-laba.

gereja immanuel jakarta pusat

Bangku kayu melingkar dua tingkat pada balkon Gereja Immanuel Jakarta. Kondisi bangku-bangku kayu itu masih dalam keadaan sangat baik, licin tak berdebu, pertanda dirawat dan sering dibersihkan.

gereja immanuel jakarta pusat

Pandangan tegak pada orgel yang menjadi daya tarik utama dari Gereja Immanuel, selain kubah, dan ornamen-ornamen lainnya yang terlihat klasik dan elok.

gereja immanuel jakarta pusat

Pandangan dekat pada piano dengan pelat merk yang sudah menua, serta tiga buah pelat berderet tegak di sisi sebelah kanannya.

gereja immanuel jakarta pusat

Sesaat sebelum meninggalkan halaman Gereja Immanuel Jakarta saya sempat mengambil foto yang memperlihatkan bentuk gedung dilihat dari samping belakang. Namun karena sudut pengambilannya yang sempit dan terburu-buru, kubah Gereja Immanuel Jakarta hanya terlihat sepotong.

gereja immanuel jakarta pusat

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat.
Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.