Museum Joang ’45 Jakarta Pusat

January 03, 2020. Label:
Museum Joang '45 Jakarta menempati gedung tua terawat baik bernama Gedung Joang '45 yang lokasinya berada di Jl. Menteng Raya 31, Jakarta, berjarak 100 m dari Patung Pak Tani menuju ke arah Jl. Cikini Raya, di sebelah kiri jalan. Gedung yang ditempati oleh Museum Joang '45 ini dibangun pada tahun 1938.

Sumber lain menyebut Museum Joang ’45 dibangun tahun 1920, dan sebelumnya merupakan hotel dengan nama Schomper Hotel yang dikelola keluarga keturunan Belanda bernama L.C. Schomper. Selama pendudukan Jepang, gedung ini digunakan Ganseikanbu Sendenbu (Departemen Propaganda) dan namanya menjadi Gedung Menteng 31. Sejak 1942 digunakan sebagai tempat memberikan program pendidikan politik bagi para pemuda Indonesia.

Yang menjadi pembicara diantaranya adalah Soekarno, Hatta, Moh. Yamin, Sunaryo, dan Achmad Subarjo. Mereka yang memperoleh pendidikan politik diantaranya adalah Sukarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, A.M. Hanafi dan beberapa lagi lainnya yang kemudian dikenal sebagai Pemoeda Menteng 31. Inilah kelompok yang 'menculik' Soekarno, Hatta, serta Fatmawati dan Guntur ke Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi kemerdekaan.

museum joang 45 jakarta pusat

Tampak muka gedung Museum Joang '45 Jakarta Pusat, dengan patung Soekarno - Hatta di kiri kanan pintu masuk. Museum ini menyimpan koleksi foto yang mendokumentasikan peristiwa bersejarah di Indonesia antara tahun 1944-1949. Di dalam museum juga disimpan patung beberapa pahlawan, koleksi lukisan, mobil yang pernah dipakai Presiden dan Wakil Presiden yang pertama, serta Mobil yang dipakai Bung Karno pada Peristiwa Pemboman di Cikini.

Masuk ke ruangan terlihat beberapa baris kursi menghadap layar yang memutar pertunjukan film tentang peristiwa bersejarah di sekitar proklamasi kemerdekaan, dan peran yang dimainkan kelompok Pemoeda Menteng 31. Salinan videonya bisa dibeli. Di sisi sebelah kiri terdapat ruangan dimana berjajar patung dada tokoh nasional berwarna kuning keemasan dan sejumlah salinan foto serta kisah perjuangan tokoh Pemoeda Menteng 31.

Ada sebuah ruangan kecil dimana disimpan dokumentasi terkait Bung Hatta berupa sebuah kursi rotan, meja kerja, dan foto-foto. Museum Joang '45 juga memiliki perpustakaan yang berada di sebuah ruang kecil di sebelah kiri ruang utama museum. Perubahan nama Gedung Menteng 31 menjadi Museum Joang '45 terjadi pada tanggal 19 Agustus 1974, yang peresmiannya dilakukan oleh, ketika itu, Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Ali Sadikin.

museum joang 45 jakarta pusat

Sebuah diorama Museum Joang ’45 menggambarkan suasana di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta, atau Lapangan Gambir, yang letaknya kira-kira di depan PLN Gambir), saat Soekarno memberikan pidato singkat yang bersejarah pada 19 September, 1945. Peristiwa Rapat Raksasa yang dihadiri lebih dari 100.000 orang di Lapangan Ikada itu tidak lepas dari peran dan kenekatan para pemuda Menteng 31 yang tergabung dalam Komite van Actie yang memprakarsai rapat umum ini. Teks pidato Bung Karno dalam rapat di Lapangan Ikada itu juga dipajang di museum.

Foto tua tokoh pergerakan legendaris Tan Malaka namun kontroversial, bersama Sukarni dan Ibu Mangunsarkoro dipajang salah satu dinding Museum Joang ’45. Ada pula dua buah foto Tan Malaka lainnya yang dipotret sendirian, serta foto Soekarno dan Tan Malaka berjalan beriringan dalam peristiwa rapat raksasa di Lapangan Ikada.

Diorama lainnya di Museum Joang ’45 yang menggambarkan situasi di Gedung Menteng 31 antara bulan Agustus - September 1945, dimana kurir-kurir para pejuang dari seluruh Jakarta berkumpul di gedung Museum Joang ’45 untuk mendapatkan informasi terbaru tentang bagaimana berjuang melawan Belanda yang berencana untuk datang kembali ke Indonesia.

Sebuah poster tampak dipajang di sebuah dinding museum yang berisi foto Panglima Besar Jenderal Sudirman saat ditandu semasa memimpin perang gerilya melawan Belanda karena sakit pada paru-parunya. Di samping kanan gedung utama, pada emperan belakang, ada deretan patung dada sejumlah tokoh pergerakan nasional berukuran cukup besar. Tampaknya mereka tidak mendapatkan tempat di ruangan utama museum sehingga terpaksa harus diletakkan di emperan gedung.

Di belakang gedung utama Museum Joang '45 terdapat ruangan terbuka cukup luas, dimana di sebelah kanannya ada bangunan terpisah yang khusus digunakan untuk menyimpan kendaraan kepresidenan dengan nomor REP-1 dan REP-2 yang pernah digunakan oleh Presiden dan Wakil Presiden pertama RI, serta sebuah mobil lainnya. Ada pula dua patung dada di depan gedung itu.

Keluar ke halaman depan, di sisi sebelah kanan terdapat relief yang menggambarkan situasi perjuangan dan semangat para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Ada pula narasi, kutipan tulisan dari Trisnoyuwono, dan tulisan "Merdeka atau Mati!" yang mampu membakar semangat bangsa Indonesia ketika itu dalam melawan penjajah.

Setelah berkeliling melihat koleksi Museum Joang ’45, pengunjung bisa beristirahat sejenak sambil menikmati minuman dan makanan ringan di Kantin Joang yang berada di samping kanan museum. Di dalam kantin berukuran agak mungil namun cukup nyaman itu selain ada minuman dingin untuk menyegarkan tenggorok tersedia pula makanan yang bisa untuk mengganjal perut jika sudah kelaparan.

Informasi Museum Joang '45 Jakarta

Alamat : Jl. Menteng Raya 31, Jakarta. Nomor Telp 021-3909148. Lokasi GPS : -6.186004, 106.836299, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Selasa - Minggu jam 09.00 - 15.00. Hari Senin tutup. Harga tiket masuk : Rp.2.000.

Video Informasi Museum Joang '45



Galeri Foto Museum Joang '45 Jakarta

Diorama Museum Joang ’45 yang tentang situasi di Gedung Menteng 31 pada bulan Agustus - September 1945, dimana kurir pejuang dari seluruh Jakarta berkumpul untuk mendapatkan informasi terbaru tentang bagaimana melawan Belanda yang hendak datang kembali ke Indonesia.

museum joang 45 jakarta pusat

Di belakang gedung Museum Joang '45 terdapat ruangan terbuka. Di bagian kanan ada bangunan yang menyimpan kendaraan kepresidenan dengan nomor REP-1 dan REP-2 yang digunakan Presiden dan Wakil Presiden pertama RI, serta sebuah mobil lainnya. Ada dua patung dada di depan gedung itu.

museum joang 45 jakarta pusat

Patung dada Bung Karno yang diletakkan di beranda Museum Joang '45 Jakarta, dengan tengara peresmian gedung di Jl Menteng 31 ini oleh Presiden Soeharto pada 19 Agustus 1974.

museum joang 45 jakarta pusat

Patung dada Bung Hatta yang juga berada di serambi Gedung Museum Joang '45 dengan tengara pemugaran yang mulai dilakukan pada 9 September 1973 dan selesai pada 17 Agustus 1974 semasa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

museum joang 45 jakarta pusat

Di sisi sebelah kiri terdapat ruangan dimana berjajar beberapa buah patung dada tokoh-tokoh nasional berwarna kuning keemasan dan sejumlah salinan foto serta kisah perjuangan beberapa tokoh Pemoeda Menteng 31.

museum joang 45 jakarta pusat

Poster-poster yang menceritakan kisah seputar tokoh yang tergabung dalam Kelompok Menteng 31 dan riwayat beberapa orang diantara mereka, seperti Chaerul Saleh, A.M. Hanafi, Sukarni, dan Adam Malik.

museum joang 45 jakarta pusat

Masuk ke dalam ruangan Museum Joang ’45 akan terlihat sebuah area dengan beberapa baris kursi menghadap layar yang memutar pertunjukan film tentang peristiwa bersejarah di sekitar hari-hari proklamasi kemerdekaan, dan peran yang dimainkan oleh kelompok Pemoeda Menteng 31. Salinan videonya bisa dibeli oleh pengunjung.

museum joang 45 jakarta pusat

Foto Tan Malaka saat sedang membuka buku GERPOLEK (Gerilya, Politik, dan Ekonomi) pada bulan Oktober 1948 di Yogyakarta. Gerpolek ditulis Tan Malaka ketika ia meringkuk di penjara Madiun pada 1948 dengan hanya mengandalkan pengetahuan, ingatan, dan semangat, tanpa dukungan informasi kepustakaan.

museum joang 45 jakarta pusat

Foto Tan Malaka bersama tokoh proklamasi Soekarni dan Ibu Mangunsarkoro. Tak ada keterangan waktu dan tempat kapan foto ini diambil. Adalah Sukarni yang mengusulkan agar Bung Karno dan Bung Hatta saja yang menandatangani teks Proklamasi, atas nama bangsa Indonesia.

museum joang 45 jakarta pusat

Foto Tan Malaka lainnya yang diambil pada bulan Oktober 1948 di Yogyakarta. Gerpolek dan Madilog (Materialisem, Dialektika, Logika) merupakan karya penting Tan Malaka semasa hidupnya. Pada Februari 1949, Tan Malaka hilang mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangannya bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri. Belakangan diketahui bahwa Tan Malaka ditembak mati pasukan TNI di lereng Gunung Wilis pada 21 Februari 1949. Pada 28 Maret 1963 Presiden Soekarno menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan kemerdekaan Nasional.

museum joang 45 jakarta pusat

Not balok dan syair lengkap lagu Indonesia Raya gubahan WR Supratman yang diperdengarkan pada 1929 di Gedung Kenari. Pada saat itu, lagu ini dimainkan secara lengkap oleh orkes namun tanpa vokal.

museum joang 45 jakarta pusat

Foto dokumentasi di Museum Joang '45 Jakarta saat Soekarno dan Tan Malaka berjalan beriringan dalam peristiwa rapat raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945.

museum joang 45 jakarta pusat

Ada sebuah ruangan kecil dimana disimpan dokumentasi terkait Bung Hatta berupa sebuah kursi rotan, meja kerja, dan foto-foto. Museum Joang ’45 juga memiliki perpustakaan yang berada di sebuah ruang kecil di sebelah kiri ruang utama museum.

museum joang 45 jakarta pusat

Museum Joang ’45 juga memiliki perpustakaan yang berada di sebuah ruang kecil di sebelah kiri ruang utama museum.

museum joang 45 jakarta pusat

Sebuah poster tampak dipajang di sebuah dinding museum yang berisi foto Panglima Besar Jenderal Sudirman saat ditandu semasa memimpin perang gerilya melawan Belanda karena sakit pada paru-parunya. Ada pula dokumentasi foto Jenderal Sudirman disambut masyarakat desa saat akan kembali ke Yogyakarta, serta ia berfoto bersama stafnya di Yogyakarta setelah penghentian tembak menembak.

museum joang 45 jakarta pusat

Tiga diantara diorama di Museum Joang 45 Jakarta yang menggambarkan peristiwa di seputar revolusi kemerdekaan, termasuk rapat raksasa di Ikada pada diorama paling kiri. Diorama paling kanan menggambarkan anggota Lasykar Wanita Indonesia yang tengah berlatih dan ada pula yang bertuga menolong korban perang di pihak pejuang.

museum joang 45 jakarta pusat

Teks Pidato Bung Karno pada 19 September 1945 di Lapangan Ikada "Soedara-soedara, kami tidak akan mengingkari proklamasi kemerdekaan dan akan membela republik sampai titik darah penghabisan", (sorak sorai beberapa menit). "Saja tahoe bahwa soedara datang kemari agar bisa bertemu dengan presiden soedara, dan oentoek mendengarkan perintahnja. Apakah mempertjajai presiden soedara?", (teriakan beroelang oelang: lami pertjaja..! kami pertjaja..!). "Nah kalaoe begitoe poelanglah dengan tenang dan toenggoelah perintah kami, apakah soedara akan menoenggoe perintah kami?", (kami toenggoe perintah). "Kalau bagitoe poelanglah sekarang .... Dengan tenang". (giebels, 2001:38.1).

museum joang 45 jakarta pusat

Patung Soekarno - Hatta, serta sebuah ruangan di museum Joang '45 Jakarta yang menyimpan benda-benda bersejarah serta dokumentasi foto serta lukisan.

museum joang 45 jakarta pusat

Ruang kecil yang digunakan sebagai perpustakaan Museum Joang '45 dengan satu stel meja kursi Betawi berisi koleksi beberapa buah buku, majalah, dan tulisan seputar peristiwa dan tokoh yang beperan dalam perjuangan kemerdekaan RI.

museum joang 45 jakarta pusat

Di samping kanan gedung utama, pada emperan belakang, ada deretan patung dada sejumlah tokoh pergerakan nasional berukuran cukup besar. Tampaknya mereka tidak mendapatkan tempat di ruangan utama museum sehingga terpaksa harus diletakkan di emperan gedung.

museum joang 45 jakarta pusat

Mobil yang digunakan oleh Presiden Soekarno saat terjadi peristiwa pemboman terhadap diri dan anak-anaknya di Perguruan Cikini, Jakarta, 30 November 1957. Pada peristiwa itu korban meninggal dunia ada 9 orang dan sekitar 100 orang lainnya luka berat, terbanyak adalah murid-murid sekolah itu. Presiden Soekarno dan keluarganya, diantaranya Megawati, selamat. Mobil Chrysler Imperial 38 bernomor polisi B 9105 ini merupakan hadiah dari Raja Arab Saudi. Di spatbor kiri mobil dan kaca belakangnya terdapat cacat akibat ledakan itu, yang dipertahankan sebagai bukti sejarah. Mobil ini berada di dalam ruangan yang sama dengan Mobil Rep.1 dan Rep.2.

museum joang 45 jakarta pusat

Mobil DeSoto keluaran 1942 ini dulu dipakai Wakil Presiden RI, Mohammad Hatta, hadiah dari pengusaha Djohan Djohor, yang digunakan oleh Wapres Hatta di Jakarta dan di Yogyakarta. Mobil yang sempat menjadi oplet ini dibeli kembali oleh Hatta dan direstorasi dengan bantuan Hasyim Ning. Mesin Mobil sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi.

museum joang 45 jakarta pusat

Mobil Buick-8 tipe Limited-8 5247 cc keluaran 1939 ini dipakai sebagai kendaraan Dinas Presiden Soekarno antara 1945-1949. Mobil ditemukan di belakang kantor Departemen Perhubungan Masa Pendudukan Jepang oleh Sudiro, Ketua Barisan Banteng, yang meminta kunci mobil dari supirnya setelah membujuknya pulang ke kampungnya di Kebumen, dan menyerahkan mobil ke Presiden Soekarno sebagai kendaraan yang dirasa pantas untuk Presiden dengan nomor polisi Rep-1.

museum joang 45 jakarta pusat

Tampak depan bangunan berdinding depan kaca yang digunakan sebagai tempat penyimpanan 3 mobil kepresidenan jaman dahulu, diapit patung dada dua orang tokoh di kiri kanannya.

museum joang 45 jakarta pusat

Di belakang gedung utama Museum Joang ’45 terdapat ruangan terbuka cukup luas, dimana di sebelah kanannya ada bangunan terpisah yang khusus digunakan untuk menyimpan kendaraan kepresidenan dengan nomor REP-1 dan REP-2 yang pernah digunakan oleh Presiden dan Wakil Presiden pertama RI, serta sebuah mobil lainnya. Ada pula dua patung dada di depan gedung itu.

museum joang 45 jakarta pusat

Seorang pengunjung tampak tengah membaca keterangan pada patung dada yang berada di bagian depan bangunan tempat penyimpanan mobil kepresidenan pertama dan bersejarah itu.

museum joang 45 jakarta pusat

Teras depan Museum Joang '45 Jakarta yang memperlihatkan tempat duduk dan meja petugas yang terasa kurang pas karena memunggungi patung Bung Karno serta merusak pemandangan. Semoga sudah ada pengaturan yang lebih elegan bagi tempat petugas itu.

museum joang 45 jakarta pusat

Di sebelah kiri ada relief lambang bintang dan angka 1945-1949, serta tulisan "Kita meninggalkan museum ini tetapi sebenarnya tidak. Karena sejarah itu berlangsung terus sejalan dengan penghidupan dan kehidupan manusia, khususnya bagi kita generasi pejuang '45, Bangsa Indonesia dan Bangsa-Bangsa di Dunia pada umumnya". Di tengah ada relief yang menggambarkan semangat berkorban dari para pejuang kemerdekaan.

museum joang 45 jakarta pusat

Sajak karya Trisnoyuwono dalam Pagar Kawat Berduri "Peluru-peluru menembus tubuhnya, satu-satu muncu yang akrab baginya, lalu berhamburan dan tinggal warna putih, putih yang paling putih, dan sebelum nyawanya pergi, sepersekian detik ia mendengar, Lagu Indonesia Raya".

museum joang 45 jakarta pusat

Semboyan "Merdeka atau Mati" merupakan salah satu semboyan hebat yang mampu membakar semangat para pejuang untuk bertempur melawan pasukan penjajah meski hanya berbekal senjata rampasan dan peralatan tempur seadanya.

museum joang 45 jakarta pusat

Setelah berkeliling melihat koleksi Museum Joang ’45, pengunjung bisa beristirahat sejenak sambil menikmati minuman dan makanan ringan di Kantin Joang yang berada di samping kanan museum.

museum joang 45 jakarta pusat

Selain minuman dingin dan minuman panas tersedia pula makanan ringan yang bisa dipakai untuk mengganjal perut jika sudah kelaparan.

museum joang 45 jakarta pusat

Info Jakarta

Nomor Telepon Penting, Hotel di Jakarta Pusat, Hotel Melati di Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta Pusat, Peta Wisata Jakarta, Rute Lengkap Jalur Busway TransJakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta Pusat.

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.

Tulisan lainnya

Kembali ke atas ↑