Museum Pos Indonesia Bandung

January 16, 2019. Label:
aroengbinang.com -
Museum Pos Indonesia Bandung berada di samping kanan kompleks Gedung Sate, Bandung, dengan pintu masuk dari Jalan Cilaki. Di seberang Museum Pos Indonesia, dipisahkan oleh Taman Lansia, adalah Yoghurt Cisangkuy yang sering saya kunjungi jika tengah berada di Bandung. Museum Pos Indonesia baru saya kunjungi beberapa bulan yang lalu.

Berkorespondensi dan mengumpulkan perangko memang bukan merupakan kegemaran saya, meskipun pernah juga menggunakan jasa pos untuk berhubungan jarak jauh ketika masih tinggal di Purwokerto. Sehingga meskipun pernah tinggal di Bandung selama lebih dari lima tahun sejak 1979, namun tidak pernah terpikir untuk berkunjung ke Museum Pos Indonesia ini. Gedung Kantor Pusat POS Indonesia Bandung dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada 27 Juli 1920 dengan luas bangunan 706 m2, sedangkan Museum Pos, Telegraph dan Telepon (PTT) baru dibuka pada 1931, menempati sayap kanan gedung. Bentuk bangunannya yang unik ini dirancang oleh J. Berger dan Leutdsgeboulwdienst.

Museum Pos Indonesia Bandung merupakan bagian dari Gedung Kantor Pusat POS Indonesia yang membentuk sudut 45 derajat terhadap Gedung Sate, dan pertemuan garis sumbu kedua sayap simetrisnya membentuk sudut 90 derajat. Koleksi Museum Pos Indonesia terdiri dari peralatan pos, visualisasi, diorama kegiatan layanan pos, serta koleksi perangko.

museum pos indonesia bandung
Tampak muka gedung Museum Pos Indonesia Bandung, dengan undakan menuju ke teras museum. Di samping anak tangga ini terdapat bis surat kuno yang masih ditulis dengan bahasa Belanda. Untuk masuk ke Museum Pos Indonesia, setelah meniti anak tangga kami kemudian menyusur lorong menuju ke arah sebelah kiri. Pada lorong teras Museum Pos Indonesia terdapat Patung dada Mas Soeharto, Kepala Jawatan PTT (Pos Telegrap dan Telepon) Indonesia pertama. Patung ini dibuat pada 1983 oleh Abdul Djalil Pirous.

Uniknya, Mas Soeharto tidak diangkat pemerintah, namun oleh Soetoko mewakili Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon yang secara heroik merebut Gedung Kantor Pusat PTT di Bandung ini pada 27 September 1945 dari tangan Jepang. Peristiwa bersejarah pada 27 September 1945 itu diperingati setiap tahun sebagai Hari Bhakti Postel. Kisah yang menggambarkan semangat perjuangan menggelora dalam menegakkan kedaulatan RI oleh Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon itu bisa dibaca di situs Dirjen Postel.

Setelah kemerdekaan, keberadaan Museum sempat terlantar selama 35 tahun, dan baru pada 1980 Direksi Perum Pos dan Giro membentuk panitia untuk menghidupkan kembali museum ini. Pada 27 September 1983, pada peringatan hari Bhakti Postel, museum secara resmi dibuka untuk umum dan diberi nama Museum Pos dan Giro. Pada 20 Juni 1995 nama museum berubah menjadi Museum Pos Indonesia.

Ada sebuah instalasi ukuran utuh di Museum Pos Indonesia Bandung yang memperlihatkan petugas Pos Keliling Desa, lengkap dengan seragam, helm, motor dan kota suratnya, tengah berada di kantor Desa Sukawenang, Ciwidey, Bandung Selatan. Ada pula koleksi berupa gerobak pos dengan roda kayu yang besar, dan bis-bis surat dari jaman kolonial sampai jaman republik.

Koleksi menarik lainnya adalah The Penny Black, yaitu perangko pertama di dunia yang diterbitkan Pemerintah Inggris pada 16 Mei 1840 dengan lukisan Ratu Victoria. Koleksi lainnya berupa foto Sir Rowland Hill, pengagas pemakaian prangko untuk pengganti biaya tunai pengiriman surat yang dibayar penerima. Juga dipajang koleksi perangko pertama di Hindia Belanda yang terbit 1 April 1864 bergambar Raja Willem III.

Lemari-lemari tarik menjadi tempat penyimpanan koleksi prangko yang jumlahnya mencapai puluhan ribu di Museum Pos Indonesia Bandung. Saya sempat berpikir tentang keamanan koleksi prangko yang sangat berharga ini. Saat itu hanya ada petugas kebersihan yang terlihat, dan saya tak memperhatikan apakah sudah dipasang CCTV di sana. Di ruangan ujung Museum Pos Indonesia Bandung terdapat cukup banyak poster berisi riwayat menarik tentang Surat Emas raja-raja dan naskah Nusantara yang dikoleksi pemerintah Inggris.

Diantaranya adalah surat emas dari Kesultanan Pontianak, Kesultanan Riau, serta poster yang berisikan riwayat seni sungging dalam naskah-naskah Jawa kuno. Sebagaimana Museum Perangko Indonesia, Museum Pos Indonesia Bandung juga menyimpan koleksi sepeda pos yang terlihat sangat unik dan antik. Sepeda pos ini digunakan sekitar tahun 1950-an untuk mengantarkan paket karena adanya kotak segi empat di atas roda depannya. Sepeda merk Falter buatan Jerman Barat tahun 1947 ini kabarnya di Indonesia jumlahnya kurang dari 100 buah.

Beberapa saat sebelum meninggalkan Museum Pos Indonesia Bandung saya mampir ke Tugu Peringatan Pahlawan PTT 1945 - 1949 di halaman museum, yang dibuat persis di tempat dimana bendera merah putih dikibarkan saat Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon merebut Gedung Kantor Pusat PTT ini pada 27 September 1945. Pada bagian bawah tugu tertulis puisi Chairil Anwar, berbunyi:

kami tjuma tulang-tulang berserakan; tapi adalah kepunjaanmu; kaulah lagi jang tentukan nilai tulang-tulang berserakan; ataukah djiwa kami melajang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan; atau tidak untuk apa-apa
kaulah sekarang jang berkata; kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata; kami bitjara padamu dalam hening dimalam sepi; djika dada rasa hampa dan djam dinding jang berdetak; kenang-kenanglah kami; teruskan, teruskanlah djiwa kami


Di atasnya, terukir pada batu, adalah nama-nama para pahlawan Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon, diantaranya Goenawan, Imang, Maskat, Mohammad Rapik, Paimin, Sangadan, Satmoko, Soemardjono, Soepa'at, Soepojo, Soeprapto, Soetojo, dll. Begitulah, meskipun tidak semua pahlawan tercatat namanya oleh sejarah, namun yang sedikit tercatat itu menjadi pengingat buat semuanya.

Museum Pos Indonesia

Alamat: Jalan Cilaki No. 73 Bandung. Telp. 022-420195, pesawat 153. Lokasi GPS : -6.90176, 107.61964, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Senin s/d Minggu 09.00 – 16.00 WIB. Libur nasional tutup. Harga tiket masuk : gratis.

Galeri Foto Museum Pos Indonesia

Instalasi ukuran utuh di Museum Pos Indonesia Bandung yang memperlihatkan petugas Pos Keliling Desa, lengkap dengan seragam, helm, sepeda motor pos roda dua, dan kelengkapan kotak penyimpan surat dan dokumennya, tengah berada di kantor Desa Sukawenang, Ciwidey, Bandung Selatan.

museum pos indonesia bandung

Lemari-lemari tarik di sebelah kiri tempat penyimpanan koleksi prangko yang jumlahnya mencapai puluhan ribu di Museum Pos Indonesia Bandung. Saya sempat berpikir tentang keamanan koleksi prangko yang sangat berharga ini. Saat itu hanya ada petugas kebersihan yang terlihat, dan saya tak memperhatikan apakah sudah dipasang CCTV di sana.

museum pos indonesia bandung

Patung dada Mas Soeharto, Kepala Jawatan PTT (Pos Telegrap dan Telepon) seluruh Indonesia yang pertama, pada tepi lorong yang menuju ke ruang museum. Patung ini dibuat pada 1983 oleh seniman lukis dan grafis terkenal Abdul Djalil Pirous.

museum pos indonesia bandung

Pigura yang berisi tulisan tentang riwayat Museum Pos Indonesia, yang bermula sejak bernama Museum PTT (Pos Telegrap dan Telepon) di jaman kolonial Belanda, hingga sampai diresmikannya nama Museum Pos Indonesia pada 20 Junu 1995.

museum pos indonesia bandung

Bis-bis surat dari jaman kolonial sampai jaman republik. Koleksi Museum Pos Indonesia terdiri dari peralatan pos, visualisasi dan diorama kegiatan layanan pos, serta koleksi perangko dari berbagai negara.

museum pos indonesia bandung

Koleksi sepeda pos pengangkut roda dua dengan beberapa merk. Ada yang kebanyakan dipakai untuk mengangkut dokumen dan surat, ada pula yang lebih banyak dipakai untuk mengirimkan paket sehingga dibuat kotak khusus di atas roda sebagai wadahnya.

museum pos indonesia bandung

Gerobak pos dengan roda kayu yang besar menjadi salah satu koleksi barang antik di Museum Pos Indonesia. Tak jelas apakah ditarik dengan kuda atau binatang lainnya. Akan sangat merepotkan jika ditarik dengan sepeda ontel atau ditarik oleh manusia.

museum pos indonesia bandung

Perangko terbitan pertama di Hindia Belanda dengan foto Raja Wilem ke-3 yang diterbitkan pada 1864. Ada cap Poerwor(ejo) dan nomor-nomor yang entah maksudnya apa. Nilai perangkonya 10 sen.

museum pos indonesia bandung

Beginilah yang akan dilihat oleh pengunjung ketika koleksi perangko dikeluarkan dari dalam papan gesernya. Agak merepotkan memang, karena tidak bisa melihat dengan cukup jelas lantaran jauh, atau harus memiringkan badan untuk melihat dengan lebih dekat.

museum pos indonesia bandung

Koleksi perangko dari Kerajaan Monaco dengan foto ratu dan raja, dan gambar-gambar lainnya. Ada yang berbentuk segitiga, ada yang segiempat mendatar dan tegak, dan ada pula yang berbentuk wajik atau intan.

museum pos indonesia bandung

Koleksi foto perangko The Penny Black, dengan lukisan Ratu Victoria, yang merupakan perangko pertama di dunia, diterbitkan oleh Pemerintah Inggris pada tanggal 16 Mei 1840.

museum pos indonesia bandung

Sir Rowland Hill, pencetus gagasan pemakaian prangko untuk pengganti pelunasan biaya pengiriman surat dengan uang tunai yang biasanya dibayar penerima. Ia dilahirkan di Inggris pada 3 Desember 1795.

museum pos indonesia bandung

Sebuah poster pameran reproduksi foto Surat Emas Raja-Raja dan Naskah Nusantara yang diambil dari koleksi the British Library. Yang paling penting dalam pameran ini adalah surat kepada pejabat tinggi dan raja Inggris dari para raja dan bangsawan berbagai daerah Nusantara, seperti dari Aceh, Ambon, Bandung, Banjarmasin, Banten, Bone, Buleleng, Cirebon, Karangasem, Lingga, Palembang, Pontianak, Riau, Sambas, Siak, Sumenep, Surakarta, Ternate, Tidore, dan Yogyakarta.

museum pos indonesia bandung

Surat Emas Pontianak. Kesultanan Pontianak didirikan sekitar tahun 1772. Sultan kedua, Syarif Kasim, memiliki hubungan baik dengan Inggris, dan surat-suratnya kepada Raffles bernada bersahabat. Kalimat pertama surat dari Pontianak biasanya situlis dengan kaligrafi yang indah.

museum pos indonesia bandung

Naskah yang dipamerkan berupa prasasti, naskah keagamaan, naskah hukum, perjanjian, surat dan pawukon, karya kesusateraan, dan sejarah dinasti atau babad. Naska asli yang tertua masih berupa prasastu perunggu, batu, atau logam mulia. Tradisi naskah Jawa termasuk yang tertua dan terkaya di Indonesia.

museum pos indonesia bandung

Naskah Jawa yang dibuat atas perintah para bangsawan seringkali bergambar atau bersungging. Sunggingan terdapat pada tanda pemisah bait pada tembang, pada halaman depan, atau pada judul bab. Seni sungging naskah mencapai kejayaannya di Keraton Yogyakarta.

museum pos indonesia bandung

Sebuah koleksi Museum Pos Indonesia berupa timbangan untuk paket yang kelihatan sudah kuno. Timbangan seperti ini mungkin sangat jarang atau tak lagi bisa ditemukan di kantor-kantor pos, diganti dengan model yang lebih baru.

museum pos indonesia bandung

Koleksi sepeda pos yang terlihat sangat unik dan antik. Sepeda pos ini digunakan sekitar tahun 1950-an, merk Falter buatan Jerman Barat tahun 1947, yang di Indonesia jumlahnya diperkirakan kurang dari 100 buah.

museum pos indonesia bandung

Tugu Peringatan Pahlawan PTT 1945 – 1949 yang dibuat persis di tempat dimana bendera merah putih dikibarkan saat Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon merebut Gedung Kantor Pusat PTT ini pada 27 September 1945.

museum pos indonesia bandung

Terukir pada batu adalah nama-nama para pahlawan Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon, diantaranya Goenawan, Imang, Maskat, Mohammad Rapik, Paimin, Sangadan, Satmoko, Soemardjono, Soepa’at, Soepojo, Soeprapto, Soetojo, dll.

museum pos indonesia bandung

Bangunan di ujuang sana dengan spanduk menempel pada dinding adalah Museum Pos Indonesia. Tempat parkir museum bercampur dengan kendaraan para pegawai kantor Pos dan pegawai kantor pemerintah provinsi Jawa Barat.

museum pos indonesia bandung

Info Bandung

Tempat Wisata di Bandung, Peta Wisata Bandung, Hotel Murah di Bandung, Hotel di Bandung

Penulis : Pejalan musiman yang musim-musiman jalannya, dan hari-harinya kebanyakan ditemani Mac.