Jawa Tengah, Kudus, Rahtawu, Sendang

Sendang Belik Moro Rahtawu Kudus

Kunjungan ke Sendang Belik Moro Rahtawu terjadi karena kebetulan melihat ada tanda di pinggir jalan dengan dasar hijau dan tulisan putih yang menyebut nama sendang dan nama Pertapaan Kunto Dewo. Meskipun sudah merasa cukup untuk hari itu namun jarak yang ditulis pada tengara itu menggoda, karena menyebut angka 100 meter. Kedua tempat itu pada arah dan jarak yang sama.

Setelah sebelumnya melihat tengara nama sejumlah tempat menarik di Rahtawu dengan jarak yang cukup jauh, ada 6, 7, dan 12 km, yang semuanya tak terjangkau karena waktu dan niatan yang tak memadai, melihat jarak hanya 100 meter tentu saja menjadi tak ada artinya. Kasmudi pun lalu menepikan kendaraan, dan setelah turun kami berjalan kaki menyusur jalan setapak.

Sebelumnya kami sempat melihat tengara ke arah Petilasan Punden Segobrok. Nama yang menarik, hanya tak memungkinkan kami kunjungi karena tertera jarak 7 km dan jalannya hanya bisa dilalui sepeda motor. Entah hingga berapa kilometer masih bisa dengan kendaraan roda dua, lantaran namanya punden peninggalan dari jaman megalitik hingga Hindu biasanya ada di puncak bukit.

sendang belik moro rahtawu kudus

Rumah gubug dengan dinding potongan bambu dan dilapis seng bagian bawahnya itu adalah tempat dimana Sendang Belik Moro Rahtawu berada. Tempat yang sangat sederhana dan kecil rupanya, agak berbeda dengan yang saya bayangkan semula.

Ukuran sendang memang biasanya kecil, jika mata airnya besar disebut umbul, namun biasanya ada di tempat terbuka. Sendang biasanya tempat dimana penduduk desa mengambil air dan mandi, kadang untuk mencuci beras dan sayuran jika airnya mengalir keluar.

Biasanya sendang dipelihara kebersihannya dan tak dipakai mencuci baju. Sedangkan belik umumnya memiliki aroma mistik dan kadang digunakan untuk ritual kutug pada setiap malam Jumat, yaitu membakar kemenyan untuk mendapat perlindungan, keselamatan dan berkah dari Hyang Widi.

Sempat kami lihat pintu masuk di belakang gubug belik yang berada tepat di bawah batu sangat besar, di bawah pohon Nangka yang tengah berbuah. Tak ada papan nama di sana. Dugaan saya itulah yang disebut sebagai Pertapaan Kunto Dewo, nama lain dari Yudistira atau Prabu Puntadewa. Dalam kisah pewayangan, Yudistira adalah satu-satunya dari Pandawa Lima yang masuk ke surga dengan jasadnya.

sendang belik moro rahtawu kudus

Sebelum sampai ke gubug dimana terdapat Sendang Belik Moro Rahtawu Kudus Pemandangan, kami menyusuri jalan setapak sejauh beberapa puluh langkah, dan kemudian terlihat pemandangan elok pada lembah sungai dan lereng perbukitan tinggi yang berada tepat di atasnya.

Terlihat di lembah sana, di dekat sungai, adalah sebuah rumah beratap genteng. Entah digunakan sebagai tempat tinggal atau hanya rumah singgah sementara. Agak jauh di sebelah kiri, tak tampak pada foto, ada pemandangan elok pada tanah pertanian bertingkat yang berada tepat di kaki bukit. Ladang itu tampak belum lama ditanami.

Di sebelah kiri agak sedikit ke atas adalah sebuah air terjun kecil yang rupanya menjadi sumber air bagi tanah pertanian ini. Terlihat pula seorang petani yang sedang bekerja menyiangi sawahnya. Suasana sangat sepi, namun seseorang baru saja keluar dari dalam rumah gubug itu, sehingga ke sanalah kami melangkah.

Kesan saya, penduduk Rahtawu sudah sangat sadar akan arti pentingnya menumbuhkan sumber perekonomian yang berbasis wisata dengan memanfaatkan semua potensi yang ada, baik potensi alam nyata maupun alam spiritual. Tinggal bagaimana mereka mengembangkan potensi itu dari sisi seni kreatif dan budaya, untuk membuat dagangan wisatanya menjadi lebih berselera seni dan berkelas.

Penamaan Sendang Belik Moro Rahtawu sebenarnya terdengar berlebihan, dan baru saya temukan di tempat ini. Umumnya hanya dipakai salah satu, mana yang lebih tepat menggambarkan karakter mata air dan pemanfaatannya. Baik nama sendang maupun belik menunjukkan bahwa sumber air yang ada di sana datang dari satu atau lebih mata air, yang umunya keluar dari dasar tanahnya.

Sendang Belik Moro Rahtawu merupakan mata air relatif kecil yang dialirkan melalui sebatang pipa paralon cukup besar dan ditampung di ember lebar dengan gayung plastik di dalamnya. Kondisi yang masih sangat sederhana dan perlu sentuhan tangan yang ahli untuk memolesnya.

Air di dalam ember itu tampak hampir kosong yang rupanya baru digunakan oleh orang yang kami lihat beberapa saat lalu keluar dari tempat ini. Oleh karena debit air yang kecil itu maka memerlukan waktu yang agak lama sampai ember itu penuh kembali. Boleh jadi saja airnya mengalir lebih besar di musim penghujan.

Genangan air di luarnya tampak masih berwarna bening yang berarti bahwa orang itu jika pun mandi tidaklah menggunakan sabun atau shampoo. Hal yang baik. Sejumlah batu hitam tampak berada disekitar ember, dan salah satunya berbentu persegi panjang dengan permukaan halus pertanda hasil tatahan manusia, layaknya sebuah batu candi.

Air Sendang Belik Moro ini bersih dan segar saat saya memakainya untuk mencuci tangan dan muka. Kelestarian belik seperti ini sangat bergantung pada kelestarian lingkungan, terutama pepohonan dan gerumbul perdu yang bisa menjadi penahan air saat hujan turun sehingga tidak langsung masuk ke sungai dengan sia-sia.


Sendang Belik Moro Rahtawu Kudus

Alamat : Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Hotel di Kudus, Hotel Murah di Kudus, Peta Wisata Kudus, Tempat Wisata di Kudus.


Bagikan ke:
Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah. Penduduk Jakarta yang sedang tinggal di Cikarang Utara. Traktir BA secangkir kopi. Secangkir saja ya! November 15, 2019.