Kelenteng, Medan, Sumatera Utara, Wihara

Vihara Setia Budi Medan

Sekitar jam 3 sore saya berkunjung ke Vihara Setia Budi Medan yang merupakan salah satu kelenteng terbesar dan tertua di kota Medan. Nama asli Vihara ini adalah Kelenteng Kwan Tek Kong. Perubahan nama dan fungsinya menjadi kelenteng Tri-Dharma (tiga kepercayaan, yaitu Buddha, Tao dan Kong Hu Cu) terjadi pada masa Orde Baru.

Penyebabnya adalah hubungan yang tidak baik antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Tiongkok, menyusul peristiwa pemberontakan PKI yang gagal, membuat semua kegiatan ritual dan budaya yang berbau Tiongkok dilarang oleh pemerintah. Akibatnya hampir semua kelenteng menjadi vihara Tri Darma untuk menjaga kelangsungan tempat ibadah mereka.

Letak Vihara Setia Budi Medan agak tersembunyi di tengah permukiman warga, meskipun masih di tengah Kota Medan, tidak jauh dari Merdeka Walk. Sayang sekali tempat parkir kendaraan dan bangunan utama kuil dipisahkan oleh sebuah tembok tinggi yang praktis merusak pemandangan ke arah kelenteng, dan menyembunyikan keindahan di dalamnya.

vihara setia budi medan
Beberapa buah patung singa (Cioksay) yang terbuat dari batu dalam posisi duduk terlihat berjaga di Vihara Setia Budi Medan. Arca singa dan naga, juga harimau, banyak dijumpai di kelenteng. Ada pula burung Hong, bangau, dan binatang mitos Kilin. Sepasang arca singa biasanya diletakkan di depan pintu masuk vihara atau kelenteng.

Di dekat arca singa ada hiolo berbentuk kotak memanjang terbuat dari logam berhias relief naga dengan detail rumit. Di permukaan hiolo sebaliknya terdapat relief jenderal beserta pasukan pengawalnya dalam pakaian perang lengkap. Ritual di dalam rumah maupun di kelenteng, tidak bisa dipisahkan dengan hio dan hiolo.

vihara setia budi medan
Seorang wanita agak sepuh berdiri sambil berdoa tepat di depan altar utama di dalam Vihara Setia Budi Medan yang dipakai untuk memuja Kwan Kong. Jenderal yang hidup di jaman Samkok (Tiga Negara) ini adalah satu-satunya leluhur yang dipuja oleh para penganut dari tiga kepercayaan dalam masyarakat Tionghoa. Ia dipuja banyak orang karena teladan untuk keberanian, kejujuran, dan kesetiaannya.

Di belakangnya, tak tampak pada foto, ada seorang pria yang berdoa dengan berlutut sambil memegang dupa yang dibakar. Ada seorang wanita muda berparas menarik bercelana pendek membakar setangkup hio dan lalu menancapkannya ke sebuah hiolo memanjang setelah selesai melakukan sembahyang. Asap hio yang membubung tinggi ke angkasa merupakan simbol untuk membawa doa mendekati para dewa yang bertahta di kerajaan langit. Di bawah hiolo terdapat deretan relief sejumlah binatang seperti bangau, gajah, burung, dan beberapa jenis hewan lainnya dengan detail sangat indah. Juga ada relief pendeta dan hweesio.

vihara setia budi medan
Altar yang diperuntukkan bagi penganut agama Buddha ini posisinya berada di belakang altar Kwan Kong. Konon ketika Buddha Sakyamuni tengah memberi wejangan, udara begitu panasnya sehingga banyak yang tidak berkonsentrasi dan jatuh tertidur. Beberapa pengikutnya lalu membakar kayu wangi untuk meningkatkan konsentrasi. Itulah asal muasal pemakaian hio dalam tradisi ritual masyarakat Tionghoa.

Lilin-lilin berwarna merah tua dengan ornamen naga, dari yang mulai yang kecil sampai yang berukuran sangat besar hingga seribuan kati, terlihat cukup banyak di Vihara Setia Budi Medan ini. Memandang cahaya lidah api lilin yang bergoyang-goyang tersapu angin bisa menjadi hiburan yang sangat menyenangkan dan menenangkan hati serta pikir.

vihara setia budi medan
Patung Buddha empat wajah ini berada di dalam sebuah cungkup dengan pilar yang dicat bentuk bintang warna kuning, putih, merah dan hijau. Posisi kaki kanan melipat dan kaki kiri menapak lantai, tangan kanan melipat menempel pada dada, dan tangan kiri menekuk ke bawah memegang tasbih.

Di dalam Vihara Setia Budi Medan juga terdapat tempat meletakkan lampu-lampu minyak kecil yang dibuat memutar ke atas terbuat dari besi baja. Sejumlah lampu minyak yang diletakkan dalam kurungan transparan berhias indah tampak memancarkan pendar cahaya indah di puncaknya. Di atasnya terlihat bergelantungan lampion besar kecil yang elok.

Belum ditemukan informasi pasti tentang kapan Vihara Setia Budi Medan ini pertama kali dibangun, meski ada yang menyebut 1908. Seorang pengusaha kota Medan keturunan Tionghoa bernama Tjong A Fie diketahui ikut mendanai pembangunan Vihara Setia Budi. Tjong A Fie meninggal pada 1921, sehingga berdirinya vihara tentu sebelum tahun itu.

Vihara Setia Budi Medan

Alamat : Jl. Irian Barat No. 26, Medan. Losi GPS : 3.5886999, 98.6815059, Waze. Rujukan : Hotel di Medan, Tempat Wisata di Medan, Peta Wisata Medan, Kuliner di Medan.


Bagikan ke:
Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, Email. Print!.

, seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah. Penduduk Jakarta yang sedang tinggal di Cikarang Utara. Traktir BA secangkir kopi. Secangkir saja ya! November 14, 2017.