Selat Lembeh Bitung

Selesai mengunjungi Monumen Trikora di Pulau Lembeh Bitung, Sulawesi Utara, kami kembali naik ke atas perahu motor dan menyusuri Selat Lembeh ke arah utara, di perairan sepanjang tepian Pulau Lembeh, memunggungi matahari. Langit di atas Selat Lembeh yang sekitar satu setengah jam sebelumnya sempat diguyur hujan deras, terlihat berwarna biru jernih dengan serak awan putih di sana sini.

Selat Lembeh Bitung sepanjang 16 km ini memisahkan Pulau Lembeh dari Kota Bitung yang berada di daratan Pulau Sulawesi bagian utara, dengan jarak bentang 1 - 2 km. Perairan Selat Lembeh yang permukaan air lautnya tenang, membuat wisata di perairan selat ini bisa dinikmati dengan nyaman dan menyenangkan, khususnya jika duduk di bagian depan kapal dengan pandangan luas ke depan. Panas matahari pun tidak begitu terasa membakar, tersapu angin laut yang tak begitu keras.

Bentuk Selat Lembeh bisa disebut unik karena menyerupai mulut corong. Karenanya, di bawah permukaan airnya yang terlihat tenang itu Selat Lembeh menjadi lintasan arus air laut kuat yang bolak-balik dari Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik. Meski bisa berbahaya bagi penyelam namun arus itu juga membawa nutrisi berlimpah bagi kehidupan di dasar selat. Oleh sebab itu Selat Lembeh disebut sebagai salah satu surga bagi penyelam, terutama bagi penggemar fotografi makro satwa dasar laut.

selat lembeh bitung
Pemandangan pada perairan Selat Lembeh saat kami menyusurinya dengan perahu motor kecil ke arah utara, atau tepatnya arah ke timur laut, dengan Pulau Lembeh di sebelah kanan dan Pulau Sulawesi ada di sebelah kiri kami. Pulau Lembeh sendiri panjangnya tak kurang dari 22,6 km berbentuk hampir menyerupai tongkat golf dengan gagang rampingnya berada di ujung utara.

Pulau Lembeh konon merupakan sisa tebing kaldera purba setelah terjadinya letusan besar pada masa Tersier atau sekira 18 juta tahun lalu. Arti kata Lembeh sendiri adalah yang tersisa. Secara geologis batuan vulkanik di Pulau Lembeh disebut sangat menarik karena berbeda sekali dengan batuan di pantai daratan Bitung yang jauh lebih muda umurnya oleh sebab kebanyakan berasal dari jaman Kuarter sekitar 1,6 juta – 10 ribu tahun lalu.

selat lembeh bitung
Foto sebelah atas adalah deret kapal berukuran sedang dan berumur tua, jika dilihat dari badan kapal yang sudah banyak berkarat, meski bendera Merah Putih yang berkibar di setiap kapal masih kelihatan dalam kondisi baik. Menebak dari warna catnya maka kapal-kapal itu sepertinya milik TNI Angkatan Laut, yang entah sedang menunggu perbaikan atau memang mereka sudah dipensiunkan dari tugasnya.

Sedangkan foto sebelah bawah adalah bangkai kapal berbendera Korea berukuran cukup besar yang terbalik beberapa meter dari tepian Pulau Lembeh. Mungkin karena saking lamanya maka di beberapa bagian kapal telah muncul perdu dan pepohonan dari biji yang jatuh terbawa angin atau burung-burung yang terbang di atasnya. Menikmati Selat Lembeh dari atas permukaan air tentu berbeda keindahannya jika dibandingkan dengan menyelam ke dasar lautnya. Setidaknya bukan hanya para penggemar fotografi bawah air yang bisa menikmati selat elok ini.

selat lembeh bitung
Sebuah sampan sederhana, yang bergerak maju dengan menggunakan tenaga ayunan dayung tangan penumpangnya, masih punya tempat yang lapang dan nyaman di Selat Lembeh. Sampan seperti itu tetap menjadi alat angkut manusia dan barang yang murah dari pulau ke daratan dan sebaliknya. Keberadaan Pulau Lembeh membuat selat ini terhindar dari gempuran gelombang air laut dan angin Samudera Pasifik di timur, Laut Maluku di selatan, dan Laut Sulawesi di barat laut.

Di Selat Lembeh air lautnya mengalamai dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari, membuat kondisi arus air laut yang tenang pun terjadi dua kali dalam satu harinya, yaitu pada jeda waktu sebelum arus berbalik arah. Para penyelam, baik untuk kegiatan penelitian ilmiah maupun untuk memuaskan hobi fotografi bawah laut, umumnya menggunakan masa tenang yang hanya berlangsung kurang dari satu jam ini untuk melakukan aktivitas mereka di dasar laut.

selat lembeh bitung
Sebuah perahu motor kecil bercadik tampak tengah menyeberang Selat Lembeh, sementara terlihat di sebelah kiri adalah sebuah kapal berukuran sedang dengan tiga tiang yang layarnya terlipat dengan tangga dan sekoci di lambung kanannya. Pada buritan kapal terpasang logo seperti mata tombak trisula bergaris lekuk air, dan di atasnya terpampang nama kapal, yaitu Dewi Nusantara, sebuah kapal penjelajah bagi penggemar keajaiban dunia bawah laut di kawasan Indonesia Timur yang bisa menampung hingga delapan belas penumpang di kabin mewahnya.

Dasar laut Selat Lembeh umumnya berupa endapan pasir vulkanis abu-abu kehitaman dengan sebagian kecil saja yang berpasir putih. Dasar laut di selat ini umumnya hampir mendatar, terutama di dekat pulau, sedangkan yang di tengah selat berbentuk lereng landai luas dengan kedalaman hingga 40 meter. Ketika sedang terjadi pergerakan air laut yang kuat maka jarak pandang kecerahan di dalam air berkisar 5 hingga 10 meter saja, namun visibilitasnya bisa jauh meningkat hingga lebih dari 25 meter saat air tenang .

Jika berada di Bitung, luangkan waktu menyewa perahu dari Dermaga Ruko Pateten untuk menyusuri Selat Lembeh, sambil menikmati pemandangan berbagai jenis kapal yang melintas atau pun tengah sandar di sepanjang perairan Selat Lembeh yang tenang. Pemandangan ke arah bagian selatan Pulau Lembeh juga tampaknya indah, namun saya belum punya kesempatan untuk menyusurinya.

Selat Lembeh

Kota Bitung, Sulawei Utara. Lokasi GPS: 1.439401, 125.203629, Waze. Referensi : Tempat Wisata di Bitung, Peta Wisata Bitung, Hotel di Bitung.




. Updated :

Versi Mobile | Kembali ke atas