Jembatan Limpapeh Bukittinggi

Jembatan Limpapeh Bukittinggi merupakan sebuah jembatan gantung yang melintas di atas Jl. Ahmad Yani Bukittinggi, menghubungkan kawasan Benteng Fort de Kock dan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Jembatan yang aslinya dibuat lebih dari 20 tahun silam ini ditopang di bagian tengahnya oleh bangunan beton beratap gonjong khas Minangkabau, serta oleh empat kabel baja tempat bergelantungnya kawat-kawat kuat yang memegangi jembatan.

Oleh sebab persis di bagian tengahnya ditopang struktur bangunan dengan empat kaki itulah maka bentang jembatan gantung ini tidaklah terlalu lebar, dan karenanya stabil, membuat orang yang lewat dengan berjalan kaki di atasnya tidak merasakan adanya kegamangan. Namun keberadaan penopang itu juga membuat jalan di bawahnya menjadi terkesan sempit saat dilewati kendaraan, sekalipun jalannya dibuat searah.

Begitu pun keberadaan Jembatan Limpapeh mampu menarik perhatian saya sewaktu melintas di Jl. Ahmad Yani, sehingga menyempatkan untuk memotretnya. Hanya saja keberadaan kabel-kabel telepon dan listrik yang kusut benar-benar mengganggu pemandangan. Belakangan saya baru bisa memotret jembatan ini dari dalam kawasan Benteng Fort de Kock ketika berjalan kaki melintasinya saat menuju ke Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan yang berada di seberang jalan.

jembatan limpapeh bukittinggi
Bentang badan Jembatan Limpapeh Bukittinggi dilihat dari area di pinggiran bukit Jirek dimana Benteng Fort de Kock berada. Di awal jembatan ada sebuah gardu atau gapura beratap gonjong khas Minangkabau yang bentuknya menyerupai rumah kecil sehingga bisa menjadi tempat berteduh setidaknya bagi sekitar 10 orang jika saja hujan turun.

Jembatan Limpapeh memiliki panjang sekitar 90 meter dan lebar 3,8 meter, dengan kawat-kawat baja besar dan kuat yang memegangi batang jembatan, dilengkapi pelat-pelat alumunium pada permukaan jembatan yang saat masih terlihat baru dan rapi. Berjalan melewati Jembatan Limpapeh ini sangat nyaman dan menyenangkan dengan hanya terasa sedikit getaran dan ayunan.

jembatan limpapeh bukittinggi
Pemandangan pada badan Jembatan Limpapeh Bukittinggi yang masih terlihat sangat rapih struktur pendukungnya, baik tali-tali baja yang menggantung jembatan, ram pagar besi pelindung di kiri kanan jembatan, serta pelat-pelat besi tebalnya yang menjadi injakan kaki para pejalan yang melewatinya. Ketiadaan peringatan kepada penjalan untuk tidak berhenti di tengah jembatan memberi indikasi kekuatannya.

Bangunan beratap gonjong di tengah jembatan di sana itu berukuran lebih besar ketimbang gardu gerbang yang berada di kedua ujung jembatan. Keberadaan bangunan penopang di tengah jembatan membuat beban pada tali-tali baja menjadi jauh lebih ringan, oleh sebab bangunannya secara praktis membagi jembatan menjadi dua bagian dalam simetri sempurna.

jembatan limpapeh bukittinggi
Sebuah bangunan besar bercorak Minangkabau berdiri megah di atas sebuah bukit nun jauh di sana, dilihat dari atas Jembatan Limpapeh. Lahan persawahan di bagian lembah tampak seperti terkepung rapat oleh perumahan penduduk, menyisakan sangat sedikit ruang terbuka hijau. Pertumbuhan penduduk yang pesat membuat lahan pertanian menjadi semakin terpinggirkan.

Jika dilihat dari Jl Ahmad Yani maka akan terlihat rel-rel baja berjejer rapi di kiri-kanan bagian bawah badan Jembatan Limpapeh, yang menjadi penyangga pelat-pelat alumunium saat dilalui oleh para pejalan. Penggantian papan kayu dengan pelat aluminium ini baru selesai beberapa bulan sebelum kunjungan saya ke sana dengan menghabiskan anggaran tak kurang dari Rp. 308 juta.

jembatan limpapeh bukittinggi
Penampakan pada bangunan beton beratap gonjong di tengah Jembatan Limpapeh yang ditembus oleh Jl. Ahmad Yani di bawahnya. Di sebelah kiri adalah area Benteng Fort de Kock, dan di sebelah kanannya adalah kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Pengunjung bisa masuk baik dari kiri maupun kanan Jembatan Limpapeh, dengan hanya sekali membayar ongkos tiket untuk kedua tempat wisata itu.

Ornamen pada dinding bangunan tengah Jembatan Limpapeh didominasi oleh warna kuning dan hijau. Miringnya salah satu pucuk atapnya barangkali disebabkan oleh karena terpaan angin kencang. Jika saja kabel-kabel telepon dan listrik yang sangat mengganggu pemandangan di sekitar Jembatan Limpapeh ini bisa dibenamkan ke dalam tanah, maka jembatan itu akan terlihat jauh lebih rapi dan enak dipandang mata.

Dari atas Jembatan Limpapeh pengunjung juga melihat sepertiga bagian atas dari Jam Gadang Bukittinggi dan beberapa bangunan beratap gonjong lainnya, serta rumah-rumah penduduk, yang karena padatnya menjadi tampak seperti hutan-hutan beton gersang dengan menyisakan sedikit hijau pepohonan. Gunung Singgalang berwarna biru hijau di kejauhan juga merupakan panorama yang bisa dinikmati para pejalan dari atas jembatan.

Jembatan Limpapeh

Alamat: Jl. Ahmad Yani Bukittinggi, Sumatera Barat. Lokasi GPS: -0.30082, 100.36864, Waze. Diakses melalui Benteng Fort de Kock atau Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Rujukan : Peta Wisata Buittinggi, Tempat Wisata di Bukittinggi, Hotel di Bukittinggi

Like | Tweet | WhatsApp | Email | Subscribe. . Updated :

Versi Mobile | Kembali ke atas